PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Kota Probolinggo kembali merayakan identitasnya sebagai Kota Mangga lewat gelaran Pesta Mangga 2025, yang berlangsung dua hari, 22–23 November 2025. Festival tahunan ini menampilkan ribuan mangga berbagai varietas, mulai dari bazar mangga murah hingga pameran dan kontes yang memadati area acara.
Salah satu rangkaian paling meriah adalah Kirab Gunungan Mangga. Gunungan berisi tumpukan mangga itu diarak dari pertigaan Jalan Dr. Soetomo (Plaza Probolinggo) menuju GOR Ahmad Yani, diiringi musik tradisional Duk-Duk dan atraksi kesenian Macanan. Ribuan warga menyemut di sepanjang jalur arak-arakan untuk menyaksikan kemeriahan tersebut.
Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, menyebut tahun ini membawa penyegaran karena untuk pertama kalinya festival tersebut mengundang partisipasi daerah lain. “Ini festival mangga kedua yang kami selenggarakan, dan tahun ini berbeda. Ada tiga utusan yang hadir: Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Situbondo, dan Kabupaten Karangasem,” katanya.
Aminuddin juga menegaskan ambisi pemerintah kota untuk menjadikan Pesta Mangga sebagai festival berskala nasional. “Ke depan kita akan membuat festival yang jauh lebih besar. Kita akan undang seluruh Indonesia. Dengan persiapan yang matang, Pesta Mangga ini akan kita wujudkan sebagai pesta mangganya Indonesia, yaitu Indonesia Mango Festival,” ujarnya.
Kepala DKPPP Kota Probolinggo, Fitriawati, menjelaskan bahwa penyelenggaraan pada November bertepatan dengan musim panen mangga. “Tujuannya untuk membangkitkan kembali citra Kota Probolinggo sebagai Kota Mangga,” terangnya. Ia menambahkan bahwa festival ini juga menjadi momentum untuk mendorong ekonomi daerah, menarik wisatawan, dan memperluas pengetahuan masyarakat mengenai ragam mangga serta produk olahannya.
Selama dua hari, Pesta Mangga 2025 menyajikan berbagai kegiatan seperti pameran, bazar mangga, pelatihan pengolahan makanan berbahan mangga, talk show edukatif, hingga lomba desain logo Probolinggo Kota Mangga. Festival ini kembali meneguhkan posisi Probolinggo sebagai pusat budaya mangga sekaligus penggerak ekonomi berbasis komoditas lokal.




