Daerah  

Ribuan Mantan Buruh Kertas Leces Gugat Menteri Keuangan: “Rp1.900 untuk Harga Diri Kami”

PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Setelah menunggu keadilan lebih dari 13 tahun, ribuan mantan pekerja PT Kertas Leces memilih jalur perlawanan. Paguyuban Aliansi Karyawan Bersatu PT Kertas Leces resmi mengajukan gugatan terhadap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Jumat, 24 Oktober 2025.

Nilai gugatan itu mengejutkan hanya Rp1.900. Nominal kecil yang mengandung simbol besar satu rupiah untuk setiap buruh yang merasa negara meninggalkan mereka.

“Ini bukan soal uang. Ini soal harga diri dan tanggung jawab negara terhadap rakyat pekerja,” ujar perwakilan paguyuban itu dalam keterangan di Jakarta, Senin, 27 Oktober 2025.

13 Tahun Menunggu Tanpa Kepastian

Sejak perusahaan kertas pelat merah tersebut dinyatakan pailit, sekitar 1.900 karyawan belum menerima gaji dan pesangon yang jika diakumulasikan mencapai Rp145,9 miliar. Sebagian aset telah masuk boedel pailit dan seharusnya bisa digunakan untuk membayar hak buruh.

Baca juga  Relawan GPK Deklarasi Dukung Calon Walikota Banda Aceh Illiza - Afdhal

Namun proses itu mandek. Kementerian Keuangan dinilai belum menyerahkan sertifikat tanah 74 hektare kepada kurator aset yang menjadi kunci utama penyelesaian kewajiban perusahaan. Kebuntuan yang panjang ini membuat buruh menilai negara abai pada janji yang seharusnya ditepati.

“Rp1.900 itu bukan angka sembarangan, tapi bentuk perlawanan moral. Kami hanya ingin negara hadir untuk menegakkan keadilan,” ujar salah satu mantan pekerja Leces.

Dari Kebanggaan Nasional Menjadi Luka Kolektif

PT Kertas Leces pernah menjadi kebanggaan industri kertas nasional. Perusahaan yang berdiri sejak era kolonial Belanda itu menyerap ribuan tenaga kerja dan memasok kebutuhan pulp dan kertas dalam negeri. Kegagalan manajemen dan tumpukan utang membuat kejayaan itu runtuh pada awal 2010-an.

Baca juga  Temui Sultan HB X, Mahfud MD Izin Nonaktif dari Penasehat Gubernur DIY

Kini nama Leces bukan lagi cerita kejayaan industri, melainkan simbol luka panjang bagaimana pekerja yang dahulu menopang industri justru dibiarkan menunggu hak mereka lebih dari satu dekade.

Keadilan Tidak Diukur Uang

Langkah hukum yang bernilai tak seberapa ini menjadi sindiran paling keras untuk negara. Bukan untuk memperkaya diri, melainkan untuk menagih tanggung jawab. Buruh ingin memastikan pemerintah tidak menutup mata pada nasib rakyat kecil yang pernah mereka banggakan.

Perlawanan mantan buruh Leces menjadi pengingat bahwa harga diri pekerja jauh lebih mahal daripada rupiah yang mereka gugat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *