Daerah  

Ribuan Warga Padati Pesisir Mayangan, Rayakan Petik Laut dengan Sukacita

PILIHANTAKYAT.ID, Probolinggo-Laut di pesisir Kelurahan Mayangan, Kota Probolinggo, Sabtu pagi (11 Oktober 2025) berubah menjadi lautan warna. Ratusan perahu nelayan berhias janur, bendera, dan kain warna-warni bergerak perlahan menuju tengah laut. Di antara mereka, sebuah perahu besar membawa sesaji: hasil bumi, tumpeng, dan perlengkapan dapur.

Itulah puncak ritual Petik Laut, tradisi turun-temurun masyarakat pesisir Probolinggo sebagai ungkapan syukur atas rezeki yang diberikan laut. Warga menyebutnya “sedekah laut”, sebuah wujud harmoni antara manusia dan alam yang telah dijaga sejak puluhan tahun silam.

“Ini bukan sekadar upacara, tapi doa bersama agar laut tetap memberi keselamatan dan hasil yang melimpah,” ujar Lurah Mayangan, Wisnu Setiawan, di sela prosesi larung sesaji di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Mayangan.

Sejak dua hari sebelumnya, kawasan pesisir itu sudah ramai. Ada khotmil Qur’an, sholawat bersama, hingga arak-arakan perahu hias yang menjadi daya tarik wisata tahunan. Ribuan warga dari berbagai kelurahan datang, sebagian membawa anak-anak mereka untuk menonton ritual yang dianggap sakral itu.

Baca juga  Prov. Gorontalo Menyiapkan Hari Ultah Yang Ke-19

Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, menyebut Petik Laut sebagai simbol kebersamaan masyarakat pesisir. “Kita ingin menjaga tradisi ini sebagai warisan budaya yang menyatukan semua elemen warga,” katanya dalam sambutannya sebelum perahu utama dilepaskan ke tengah laut.

Suasana berubah hening ketika sesaji dilarung. Nelayan dan tokoh adat menundukkan kepala, sementara suara ombak bersahut dengan doa yang dibacakan. Tak lama, tepuk tangan membahana, menandai berakhirnya prosesi sakral itu.

Tradisi serupa juga digelar di Desa Kalibuntu, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Di sana, masyarakat melepas sesaji hasil bumi sambil berdoa agar musim melaut berikutnya membawa keberkahan. “Kami melestarikan tradisi ini bukan hanya karena budaya, tapi karena keyakinan bahwa laut punya roh yang harus dihormati,” ujar seorang nelayan tua, Samsul Bahri, yang ikut sejak masa ayahnya dulu.

Baca juga  Polres Purbalingga: Berikan Reward Anggota Berprestasi

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai Petik Laut bisa menjadi potensi wisata budaya unggulan. “Tradisi seperti ini tak sekadar ritual. Ia punya nilai ekonomi dan sosial yang besar jika dikelola dengan baik,” katanya dalam kunjungan sebelumnya ke Probolinggo.

Bagi warga pesisir, Petik Laut adalah cara mereka berterima kasih pada laut. Sebuah doa yang diucapkan dengan perahu, ombak, dan angin, seperti yang sudah mereka lakukan sejak generasi ke generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *