PILIHANRAKYAT.ID, Singapura-Mantan Menteri Luar Negeri Singapura, George Yeo, menambah kepemilikan sahamnya di Wilmar International sebanyak 100 ribu lembar. Pembelian itu dilakukan ketika perusahaan agribisnis raksasa tersebut tengah menjadi sorotan pemerintah Singapura terkait dugaan keterkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Dikutip dari The Straits Times, Jumat, 6 November 2026, Yeo membeli saham Wilmar melalui pasar terbuka pada 4 November 2026. Ia membayar US$ 2,97 untuk setiap lembar saham. Transaksi tersebut dilaporkan melalui dokumen keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Singapura (Singapore Exchange).
Yeo yang kini menjabat sebagai Direktur Independen Wilmar itu tercatat memiliki lebih dari satu juta saham setelah transaksi tersebut. Pembelian dilakukan ketika harga saham Wilmar mengalami tekanan. Dalam sebulan terakhir, saham perusahaan itu telah terkoreksi lebih dari 14 persen.
Wilmar menjadi salah satu dari 10 perusahaan yang menerima pemberitahuan dari Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) pada 23 Oktober 2026. NEA meminta sejumlah dokumen dan informasi mengenai hubungan korporasi, konsesi lahan di Indonesia, serta langkah pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Permintaan tersebut berkaitan dengan memburuknya kabut asap lintas batas yang turut berdampak terhadap Singapura dan Malaysia. Kepala Eksekutif Wilmar, Kuok Khoon Hong, juga termasuk pihak yang dipanggil pemerintah Singapura dalam pertemuan tertutup pada 29 Oktober 2026. Pertemuan itu berlangsung menjelang pengesahan amendemen undang-undang terkait kabut asap di parlemen pada 4 November 2026.
Pada 2 November 2026, Wilmar menyatakan telah menerima penunjukan Control Risks Group oleh NEA sebagai penilai independen. Penilaian itu bertujuan mengevaluasi kemungkinan keterlibatan atau hubungan perusahaan dengan karhutla di Indonesia yang menyebabkan kabut asap meluas ke Singapura dan Malaysia. Firma hukum Dentons Rodyk & Davidson ditunjuk sebagai penasihat hukum bagi pihak penilai.
Wilmar menyatakan bersedia bekerja sama secara sukarela dengan kedua firma tersebut dan menanggung seluruh biaya yang diperlukan. Perusahaan juga berkomitmen memberikan akses terhadap informasi, dokumen, lokasi, personel, serta situs yang berkaitan dengan kegiatan operasional, hubungan korporasi, dan rantai pasokannya. Pada hari yang sama, Wilmar mengaku telah menyerahkan dokumen dan informasi tahap pertama sebagai tanggapan atas pemberitahuan NEA berdasarkan Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act).
Persoalan lain muncul setelah Wilmar mengungkapkan telah menjual pupuk dan bahan bakar diesel untuk alat berat kepada enam dari 10 perusahaan yang diidentifikasi NEA memiliki keterkaitan dengan kabut asap akibat kebakaran di Indonesia. Transaksi tersebut menghasilkan pendapatan sekitar US$ 22,5 juta sepanjang tahun fiskal 2025. Di tengah pemeriksaan yang berlangsung, pembelian saham oleh George Yeo menjadi perhatian karena terjadi saat Wilmar menghadapi tekanan harga saham sekaligus sorotan regulator Singapura.




