Sastra Realisme Sosialis

- Advertisement -

(Tan Hamzah)

Sejarah Realisme Sosialis

PILIHANRAKYAT.ID, Istilah Realisme Sosialis pertama kali muncul di Uni-Soviet, Maxim Gorki yang menjadi pencetus gerakan sastra ini. Novel Ibunda yang banyak menampilkan tragedi  kemanusiaan, dan kritik terhadap pemerintah yang mayoritas berpaham “Humanisme-Borjuis”. Dijadikan kiblat bagi sastra yang menyajikan perlawanan rakyat dalam tiap narasi karyanya.

Pada 22 Januari 1905, Maxim Gorki dipenjara karena menulis dan menyebarkan proklamasi menentang pemerintah yang dikenal dengan peristiwa “Minggu Berdarah”. Ketika Gorki ditangkap banyak aksi solidaritas internasional yang melancarkan protes karena ditangkapnya sang sastrawan. Banyaknya protes tersebut membuat Gorki kemudian dilepaskan. Saat berada di penjara itulah Gorki menulis Children of the Sun dan ketika bebas ia langsung bergumul dalam perjuangan memenangkan sosialisme. Gorki kemudian bergabung dalam penerbitan koran Bolsjewik “Hidup Baru”. Penerbitan ini langsung berada dalam komando Lenin. Di sinilah Lenin mulai menganggap penting kekuatan kultural, sastra khususnya, dalam memenangkan sosialisme.

Pada tahun 1905 itu juga merumuskan hubungan antara sastra dan politik, bahwa dari keterangan pendek itu dapat dilihat bahwa “Realisme Sosialis” mempraktikkan sosialisme di bidang kreasi-sastra. Maka sastra yang mempergunakan metode ini adalah suatu metode di bidang kreasi untuk memenangkan sosialisme yang selamanya punya warna dan lebih penting lagi adalah politik yang tegas, militan, kentara, tak perlu sembunyi-sembunyi, sesuai dengan nama yang digunakannya. Ia merupakan bagian integral dari mesin perjuangan umat manusia dalam menghancurkan penindasan dan penghisapan atas rakyat pekerja.

Bagi Gorky sastra merupakan alat perjuangan politik yang paling halus, ketika masyarakat dibungkan dengan kekuatan sebuah rezim, tidak ada jalan lain kecuali menyadarkan mereka (lewat pamflet dan tulisan). Ciri khas tulisan gorky dalam karyanya ialah mengangkat isu dan konflik sosial yang ada disekitarnya, sehingga banyak dikecam dan dicekal dirinya saat itu.

Istilah Realisme Sosialis

Realisme sebagai istilah sastra bukanlah hal yang sebagaimana dikenal di dunia Barat selama ini, tapi realisme menurut dengan tafsiran sosialis. Realisme Sosialis berbeda dengan Realisme Barat. Realisme Barat atau lebih tepatnya dinamakan Realisme Borjuis, merupakan pembatasan terhadap pandangan seseorang pada realitas an sich tanpa membutuhkan kritik. Sebaliknya, Realisme Sosialis sebagai metode sosialis menempatkan realitas sebagai bahan global semata untuk menyempurnakan pemikiran dialektik. Bagi realisme sosialis, setiap realitas, setiap fakta, Cuma sebagian dari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri. Realitas tak lain hanya satu fakta dalam perkembangan dialektik (Toer, 2003: 18).

Baca juga  Keruntuhan Perancis di Era Macron

Realisme Sosialis adalah sebuah istilah dengan maknanya yang sudah pasti di negeri manapun dia ada, hanya perkembangannya ditentukan oleh kondisi-kondisi setempat, yakni realisme-ilmiah (MDH = Materialisme, Dialektika, Historisisme) (Toer, 2003: 59). Realisme dengan hukum perkembangannya dan sosialisme ilmiah, atau sosialisme yang lahir sebagai kemestian disebabkan adanya perjuangan antara dua macam kelas yang bertentangan dan berkembang, yakni kelas proletar dan kelas borjuis, dengan tugasnya.

Baca juga  Kritik dan Sambutan Hangat Netizen Untuk Film Gundala

Lebih mudahnya Realisme Sosialis merupakan suatu aliran sastra yang menggambarkan keadaan masyarakat secara apa-adanya, dan mengkritik ketimpangan dan penderitaan masyarakat karena dominannya penindasan oleh kaum borjuis kepada proletar. Sastra Realisme Sosialis merupakan suatu kejelian bagi penulisnya yang menolak menggunakan metaphor berlebihan, baginya realitas harus ditulis seadanya.

Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia

Sejarah Indonesia yang panjang melahirkan polemik kemanusiaan yang pelik. Tidak jarang penulis sejarah sekaligus sastrawan mengambil alur kronologi sejarah ini. Sastra realisme Indonesia sudah pernah ditulis oleh beberapa tokoh, Multatuli dengan Max Havelaar menggambarkan sejarah kolonial Indonesia yang memeras tenaga rakyat, sehingga tidak ada kemanusiaan disana, di pabrik seorang administrator memperlakukan buruh layaknya binatang peliharaan. Selain Max Havelaar, tokoh pergerakan Indonesia, Tirto Adhi Surjo dengan Nyainya, Mas Marco Kartodikromo dengan syair Sama Rata Sama Rasa, dan Semaoen dengan Hikayat Kadiroen, Dan yang terpopuler Pramoedya Ananta Toer dengan Tetralogi Pulau Buruh.

Realisme Sosialis di Indonesia kemudian hari dikaitkan dengan Lekra, kemiripan ideologi dengan Komunisme dan Marxisme dijadikan tunggangan kepentingan politis. Realisme Sosialis sangat menentang adanya eksploitasi kemanusiaan, karena rujukan mereka adalah Humanisme-Proletar. Dan dilawankan dengan paham yang berseberangan dengan Komunisme yakni Kapitalisme.  

Pramoedya Ananta Toer menjelaskan bahwa terdapat dua hal dalam karya seni yang berusaha memenagkan Realisme Sosialis: a. Memperkuat kesadaran politik; b. Memberikan pegangan taktis.

Baca juga  Doa Anti Galau

Memperkuat kesadaran politik sebagai kebutuhan peningkatan kekuatan politik. Sesuai dengan kenyataan bahwa musuh-musuh rakyat tidak akan tinggal diam dan terus mencari jalan untuk meneruskan “penghisapan manusia atas manusia” dalam berbagai bentuk kesadarannya.

Memberikan pegangan taktis sebagai kebutuhan mengembangkan keahlian dan pelaksanaan mengemukakan, mengungkapkan, dan mengenal pokok persoalan. (Toer, 2003: 97)

Lalu merumuskan empat cara membentuk kemampuan membuat semboyan ke dalam slogan-slogan:

Garis yang Tepat dan Garis yang Salah adalah semboyan untuk tetap menguasai persoalan asasi dalam dunia kebudayaan dewasa ini. Di mana dalam keadaan ini terdapat dua kekuatan yang saling berhadapan. Suatu pertarungan prinsipil antara seni untuk rakyat dan seni untuk seni. Garis yang Tepat adalah garis pengabdian pada rakyat dan Garis yang Salah adalah pengabdian pada borjuasi dan segala buntut serta ramuannya. Sedangkan garis yang keliru adalah yang dapat dikelabui oleh buntut atau ramuan daripada Garis yang Salah.

Meluas dan Meninggi adalah semboyan untuk pegangan prinsipil dan politik, serta taktik kreatif. Meluas dalam arti perangkuman pengetahuan tentang massa, kehidupan, masalah, aspirasi-aspirasi sosialnya. Sedangkan Meninggi dalam arti peningkatan mutu kreatif yang harus dibarengi dengan peningkatan terus-menerus mutu ideologi. Sehingga dapat dibilang sebagai gabungan antara peningkatan mutu ideologi dan artistik, gabungan antara politik dan kebudayaan.

Baca juga  Hubungan Habibie dan Pak Harto: Sisi Personal Politik Indonesia

Politik adalah Panglima merupakan semboyan pegangan, agar sebelum melakukan penggarapan seni, orang harus mengkajinya dari sudut pandang politik. Sebab, kesalahan dalam politik lebih jahat daripada kesalahan artistik.

(Gerakan) Turun ke Bawah adalah semboyan yang di dalamnya mengandung ketentuan, bahwa untuk dapat menguasai realitas kehidupan massa atau rakyat, setiap pengarang harus bisa dan membiasakan diri memasuki kehidupan rakyat itu sendiri. Belajar dari setiap pengalaman rakyat, dan ikut merasakan suka maupun duka bersama dengan rakyat. (Toer, 2003: 97-101).

“Kegiatan sastra harus jadi bagian daripada kepentingan umum kaum proletar, menjadi ‘roda dan sekrup’ kesatuan besar mekanisme sosial-demokratik, yang digerakkan oleh seluruh barisan depan klas pekerja yang mempunyai kesadaran politik. Kegiatan sastra harus menjadi unsur daripada garapan partai gabungan sosial-demokratik yang terorganisasi dan terencana.” (Toer, 2003: 17).

- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Dunia Seni Indonesia Berduka, Radhar Panca Dahana Meninggal

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Dunia seni Indonesia kembali dirundung kabar duka usai Radhar Panca Dahana sastrawan dan budayawan ...

Datangi PBNU, Nadiem Makarim Sampaikan Maaf Ke Kaum Nahdiyin

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim sowan ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) hari ini....

Muktamar Luar Biasa (MLB) PKB, Arus Bawah Partai Dorong Yenny Wahid Menjadi Ketum PKB

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Sejumlah kader daerah mendorong Muktamar Luar Biasa untuk mengganti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

20 Besar Seyembara Buku Puisi HPI 2018

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) Maman S. Mahayana mewakili Dewan Juri yang lain hadir pada bincang-bincang Hari Puisi yakni Abdul Hadi...