PILIHANRAKYAT.ID, Jateng-Pagi yang mestinya membawa hangat matahari justru hilang di balik mendung pekat. Di dataran pangan Jawa Tengah, air merayap di sela batang padi, mengubah hamparan hijau menjadi genangan yang membisu. Banjir, longsor, dan cuaca ekstrem datang silih berganti bukan lagi ritus musiman, melainkan peringatan keras bagi masa depan pangan provinsi ini.
Data penanggulangan bencana mencatat, sepanjang 2025, nyaris seratus kejadian bencana melanda Jawa Tengah. Mayoritas berupa banjir. Di banyak kabupaten, lahan sawah yang biasanya menampung harapan panen menyusut oleh air. Ribuan hektare lahan merosot dari target produksi. Kekhawatiran pun menguat: apakah stok pangan nasional aman menghadapi 2026?
Sawah yang terendam bukan sekadar cerita kalah melawan cuaca. Ia menandai runtuhnya janji produksi. Komoditas padi, jagung, hingga bawang merah penopang ketahanan pangan berada di ambang ketidakpastian. Banyak petani menunda tanam, sebagian lain bahkan menghadapi gagal tanam (puso).
Namun diamnya genangan bukan akhir. Pemerintah daerah dan petani masih bisa memanfaatkan ruang adaptasi: membaca pola langit, merancang kalender tanam yang lentur, memperbaiki drainase dan irigasi, hingga menguatkan skema proteksi gagal panen. Langkah-langkah itu dapat membuat hujan deras kembali menjadi berkah, bukan ancaman.
Tantangan nyata kini tergambar: cuaca kian sulit ditebak, sementara infrastruktur pertanian belum sepenuhnya siap. Respons Jawa Tengah mulai dari kesiapsiagaan, perbaikan infrastruktur, hingga solidaritas antarpetani akan menentukan apakah tahun depan menjadi musim panen atau musim krisis.
Sebab ketika sawah tenggelam, bukan hanya akar padi yang kehilangan pijakan keyakinan terhadap ketahanan pangan ikut terbenam.




