PILIHANRAKYAT.ID, Batang-26 Juli 2020. Sejumlah aktivis, akademisi dan penggiat sosial masyarakat Batang melakukan FGD (Focus Group Discussion) di halaman kantor PC. NU Kab. Batang.
Diskusi tersebut dilakukan untuk membedah rencana mega proyek industrialisasi di wilayah Kabupaten Batang yang telah dicanangkan oleh Presiden Jokowi melalui bermacam kementerian di bawah koordinasi Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia.
Cepatnya proses peresmian mega proyek tersebut tak ayal membuat masyarakat Batang bertanya-tanya, ada apa sebenarnya yang terjadi? Notabene hal tersebut dilakukan disaat masa pandemi yang syarat dengan keterbatasan.
Ketika dikonfirmasi terkait diskusi tersebut, Aminuddin, salah satu pemantik menyampaikan bahwa kita harus melihat betul wacana industrialisasi ini sebagai tantangan yang luar biasa bagi masyarakat sekitar, apakah bisa nantinya masyarakat ikut berkolaborasi secara sejajar dengan perusahaan-perusahaan yang direncanakan becokol di Batang ini.
Sedangkan, narasumber lain, Mas Punto, aktivis LPBI menyampaikan bahwa industrialisasi ini pasti akan berdampak terkait kerusakan alam di wilayah Batang jika tidak di atur secara jelas SDA yang digunakan sebagai penopang pembangunan, bisa jadi sungai-sungai akan semakin rusak karena maraknya Galian-C.
Disisi lain, A. Zuhri melihat bahwa wajar jika masyarakat jadi bertanya-tanya terkait rancangan Industrialisasi kawasan Batang ini, apa sebenarnya yang terjadi? Sebab mega proyek ini ‘Mak Bedunduk’ meminjam istilah dari Lord Didi Kempot. Jika narasi yang dibangun untuk mesejahterkan masyarakat Batang pada khsusnya, kenapa masyarakat tidak diajak bicara terlebih dahulu? Kesannya mega proyek ini tidak mengindahkan suara-suara masyarakat dilapisan bawah. Ini tentu akan memiliki dampak sosial yang buruk jika pola komunikasi yang di kedepankan selalu Top Down.
‘Kita masyarakat Batang sebenarnya Was-was, banyak yang harus diawasi dan diwaspadai, jangan sampai masyarakat Batang kecolongan tanah airnya lagi’, pungkas Zuhri.
(Tim Redaksi/PR.ID)




