PILIHANRAKYAT.ID, Beberapa pemerintah negara di dunia sudah membuka lockdownd dengan alasan stabilisasi ekonomi di negaranya.
Bahkan beberapa negara yang terdampak virus corona paling banyak mulai membuat kebijakan lepas lockdown dengan bermodal perkiraan data dan tanda-tanda penurunan pasien positif terinfeksi Covid-19.
Sebagian dari para ahli mengaku khawatir pemerintah akan tunduk pada tekanan ekonomi dan sosial selama wabah, dan tergiur untuk mencabut kebijakan lockdown sebelum waktunya.
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa tindakan yang terburu buru akan mendatangkan wabah gelombang kedua yang mungkin akan lebih banyak memakan korban.
“Mencabut pembatasan terlalu cepat dapat menyebabkan kebangkitan yang mematikan,” kata Tedros seperti dilansir dari CNN Indonesia, Selasa (14/4).
Senada, Jean-Francois Delfraissy yang memimpin Dewan Sains Virus Corona dan telah menasihati pemerintah Prancis, mengatakan bahwa negara perlu tetap melanjutkan tindakan-tindakan pembatasan lebih lanjut.
“kita tidak akan beralih dari hitam menjadi putih, tetapi dari hitam menjadi abu-abu, dengan pengurungan lanjutan. Kita bisa mulai membahas pelepasan lockdown, tetapi faktor penting dan utama adalah mengejar lockdown yang ketat selama beberapa minggu untuk memastikan,” jelas Delfraissy
Delfraissy mengatakan ada beberapa prasyarat untuk mengangkat lockdown. Pertama, perlu ada indikasi penurunan jumlah Covid-19 kasus dalam perawatan intensif.
Hal tersebut diharapkan dapat memberikan kelonggaran bagi para pekerja kesehatan yang sangat dibutuhkan dan memungkinkan rumah sakit mengisi kembali peralatan dan persediaan penanganan pasien positif covid-19.
Kedua, tingkat penularan Covid-19 berdasarkan jumlah orang yang terinfeksi per hari harus turun, dan perlu adanya cukup masker untuk melindungi populasi dan tes untuk memonitor penyebaran virus lebih lanjut.
Sebagai contoh di Prancis, Delfraissy menyebut kapasitas screening perlu ditingkatkan dari 30 ribu tes saat ini menjadi 100 ribu atau bahkan 150 ribu sehari pada akhir April.
Ketiga, Virus pada umumnya bisa berkurang tingkat penularannya pada musim hangat dan musim dingin, tetapi tidak tahu pasti dengan virus corona ini,
“Jika tidak ada musim panas, maka akan lebih rumit, untuk mengangkat tindakan pengurungan,” kata Ahli Epidemiologi Flahault.
Ambil contoh seperti Jerman, yang juga mengalami penurunan jumlah kasus baru dan sudah lebih sedikit terkena dampak daripada beberapa negara tetangganya. Pada Senin (13/4),Jerman menyatakan rencana untuk mengambil langkah menuju pencabutan lockdown secara bertahap.
Tak mau kalah, Denmark dikabarkan akan membuka kembali tempat penitipan anak, taman kanak-kanak dan sekolah dasar mulai Rabu (15/4) esok hari, diikuti Republik Ceko mulai secara bertahap melonggarkan pembatasan, termasuk membuka beberapa toko. (Miftah/PR.ID)




