Puisi Natal : Isa dan Malam Natal

Malam Natal (Ilustrasi/Christ of Grace)


PILIHANRAKYAT.ID, JAKARTA – Sebelumnya redaksi telah menurunkan puisi natal karya penyair Indonesia Sitor Situmorang dan beberapa puisi pilihan karya anak abangsa. Kali ini redaksi memilih dua puisi tentang natal karya penyair Indonesia Ari Pahala Hutabarat dan Ahda Imran.

Dua penyair tersebut adalah muslim. Ari Pahala Hutabarat, penyair ternama Lampung berdarah Batak, menulis dengan nada lirih tapi penuh optimisme dengan judul “Malam Natal”. Kemudian Ahda Imran, penyair Bandung yang salah satu buku puisinya masuk nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2014, menulis dengan tajuk ISA. Puisi ISA merupakan salah satu yang masuk dalam antologi “Rusa Berbulu Murah”.

Puisi Ari Pahala Hutabarat:

MALAM NATAL
-ompung doli

seperti mendung, yang tiba-tiba turun
ke meja terang

ke gegas orang-orang yang mencari
teduh

dan ingin menyimpan firman
ke rapat baju

seperti terompet masa kecil dan kilau
sungai
dan gitar ayah atau kue buatan bunda

Baca juga  Tas kecil Ahmad

yang merasuk ke pembuluh darah
setelah sangsi
melingkar dalam cuaca gatal

dan tamsil tentang santa
perlahan luntur warna

“maafkan kesalahan dan kebiasaan
untuk tak menepati janji

tapi, di tahun depan, ibadah akan
sempurna serta rencana berjalan menuju genap”
mendung milik kita. semoga kekal

semoga senyum dan rasa ramah
jadi dinding dan atap

lesu rumah dan ranjang hampa

semoga angka-angka di almanak hujan
makin jelas

ke gegas musafir yang mencari
teduh
dan menyimpannya ke lubuk tubuh

seperti kilau bintang
di altar malam
di puncak galau

domba yang jadi kekal

2006

Puisi Ahda Imran:

ISA

Wajahmu: jantung hijau yang berdetak,
hening sepasang mata dan seekor ular
yang mendengkinya, taplak meja berenda,
cahaya lilin, roti dan anggur, suara lonceng,
gerak grendel pintu sebelum tampak
anak dara tersipu

Atau mungkin ini: segala yang melampaui
waktu dan pusaka—yang mengebat dan menetap
sengketa cahaya dan bayang; berpilin segala
yang mungkin. Sebuah nyanyian, menyerupai
koor, mengiringiku berjalan dan tidur
sejak itu darahku terus mengucur
menetesi jantung hijaumu

Baca juga  Puisi Perpisahan - Puisi WS Rendra, "Terpisah"

Tentang Penyair

Ahda Imran lahir 10 Agustus 1966 di Kanagarian Baruhgunung, Sumatera Barat. Menulis puisi, cerpen, novel, drama, kritik, dan esai. Antologi puisi tunggalnya yang telah terbit, Dunia Perkawinan (1999) dan Penunggang Kuda Negeri Malam (2008), Rusa Berbulu Merah (2014). Bukunya terbarunya yang telah diterbitkan, Jais Darga Namaku (2018).

Ari Pahala Hutabarat, menulis puisi, esai, dan menyutradarai teater. Saat ini masih kuliah di Program Pascasarjana Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unila, sambil jadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan jadi konsultan batu akik di Komunitas Berkat Yakin (Kober) Lampung.

Sumber: Teraslampung.com | sajaklampost
Editor: Didik Hariyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *