Mimpi Indah
Mimpi memang indah
Tapi kenyataan lebih indah
saat kau bergetar menggoreskan pena
Di atas kertas suci
Masa depan kita terukir layaknya di musium tua
Saat kau terbang berayun dari dahan-kedahan,
Masa depanmu bernari-nari menambakan kenyamanan.
Mungkin itu panjatan do’a-do’a
yang kau lantunkan di atas sajadah.
Begitu suci pakaian yang kau pakai
Ucapan yang di lantunkan
membuat pintu itu terbuka untuk segala-galanya
Termasuk senyum manis di raut wajahmu.
Menunggu Senyum Di Pagi Hari
kabut dan embun terasa hujan,
membasahi, Membeku pada setiap jengkal yang melintas.
Terasa menggigil tubuhku yang datar
Suara melengking di tortoar jalan
Sehingga,kebisingan menghatuinya.
Tak heran, itu adalah renungan sesaat yang melintas
layaknya angin menghembus pada kapas itu.
Fikiran terasa tenang
melihat burung tidur nyenyak
di dahan jambu.
Suara kereta terus melintas
Sampai, esoknya aku kembali
menemukan lesung pipimu yang manis.
Penantianku Telah Tiba
Sinar matahari
menembus kaca dan batinku
Diantara bukit-bukit,
reranting, menjadi tabir
ketika matahari mulai menyapamu.
Benar, sapaanya mengagetkanku
Sungguh sapaan yang sempurna.
Menjelang pagi,
aku melihat banyang-banyang
yang Nampak tidak jelas
Karena di hantui kebisingan
yang melanda tubuhku.
Aku tidak betah
Daupun berguguran diatas tanah,
Meskipun pohon menjadi penghalang,
aku masih bisa melihat
Senyum dibawah kelopakmu.
Yogyakarta, 2019
*J. Rifa’i seorang Penyair dan Kolumnis Pilihanrakyat.id




