PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kraksaan menegaskan komitmennya untuk terlibat aktif dalam pembangunan di tingkat akar rumput. Organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama itu menyatakan saat ini memiliki lebih dari 1.000 kader yang tersebar di 14 Pimpinan Anak Cabang (PAC) tingkat kecamatan.
Data tersebut disebut telah tervalidasi melalui sistem administrasi internal berbasis aplikasi SIAPP. Basis data itu dinilai menjadi modal penting bagi Ansor Kraksaan dalam menjalankan program pemberdayaan pemuda serta masyarakat desa.
Ketua PC GP Ansor Kraksaan Abd. Rahman mengatakan keberadaan kader di seluruh kecamatan dapat menjadi kekuatan sosial untuk mendukung program pembangunan desa. Menurut dia, organisasi tidak ingin hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan di wilayah Kraksaan dan sekitarnya.
“Kami tidak ingin hanya menjadi penonton. Dengan seribu kader di 14 kecamatan, Ansor siap menjadi supporting system bagi pemerintah desa,” kata Abd. Rahman dalam keterangannya, Rabu, 22 April 2026.
Menurut dia, langkah tersebut merupakan respons terhadap dinamika pengelolaan Dana Desa yang kini harus dibagi untuk sejumlah program prioritas. Setelah dialokasikan untuk ketahanan pangan dan Koperasi Desa Merah Putih, dana yang tersisa untuk pembangunan fisik maupun pemberdayaan masyarakat dinilai semakin terbatas.
Kondisi itu, kata dia, menuntut pengelolaan anggaran yang lebih presisi, transparan, dan berdampak langsung kepada masyarakat. Karena itu, Ansor Kraksaan ingin mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah desa dalam mengawal efektivitas program.
Selain itu, Ansor Kraksaan juga memproyeksikan diri sebagai mitra Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, serta kementerian terkait lainnya. Fokus yang disiapkan meliputi fungsi kontrol dan pendampingan program, pemberdayaan sumber daya manusia desa, serta sinergi agenda organisasi dengan program nasional pembangunan desa.
Dengan jaringan organisasi hingga tingkat kecamatan, Ansor Kraksaan optimistis dapat memberi kontribusi nyata dalam mempercepat kemandirian desa. Organisasi itu menilai pembangunan tidak hanya soal anggaran, tetapi juga kehadiran generasi muda sebagai penggerak perubahan.




