Daerah  

Pesantren Tahfidz Maslahatul Ummah Sambut Santri Baru, Tekankan Lingkungan Aman Tanpa Perundungan

PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Pondok Pesantren Tahfidz Maslahatul Ummah, Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, menyambut kedatangan santri baru tahun ajaran 2026/2027. Sebanyak sekitar 25–50 santri baru bergabung pada awal tahun ajaran ini sehingga jumlah santri yang menempuh pendidikan di pesantren tersebut kini mencapai sekitar 100 orang.

Ketua Yayasan Maslahatul Ummah sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tahfidz Maslahatul Ummah, Mohammad Akiduddin, menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh santri baru. Ia berharap para santri dapat merasa betah selama menimba ilmu di pesantren serta memperoleh ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh wali santri yang telah mempercayakan putra-putrinya untuk belajar di Pondok Pesantren Tahfidz Maslahatul Ummah. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan dalam kehidupan, rezeki, dan umur mereka,” ujar Akiduddin, Rabu, 15 Juli 2026.

Baca juga  Infrastruktur hingga Ekonomi Desa Jadi Keluhan Warga Kraksaan saat Reses DPRD Jatim

Dalam pesannya, Akiduddin mengakui masa awal tinggal di pesantren bukanlah hal yang mudah bagi sebagian santri. Menurut dia, ada santri yang datang dengan penuh semangat, namun tidak sedikit pula yang harus menahan rasa sedih karena berpisah dengan keluarga. Meski demikian, ia menilai setiap perjalanan besar selalu diawali dengan keberanian untuk melangkah.

Ia menegaskan bahwa pesantren bukan hanya menjadi tempat mempelajari kitab maupun menghafal Al-Qur’an. Lebih dari itu, pesantren merupakan ruang pembentukan karakter yang mengajarkan kesabaran, kebersamaan, keikhlasan, serta adab dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga  Sekolah Administrasi Ansor Kraksaan, Perkuat Tata Kelola Organisasi

Akiduddin juga menaruh perhatian besar terhadap terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Ia menegaskan tidak boleh ada ruang bagi kekerasan maupun perundungan di lingkungan pesantren. Menurut dia, kemuliaan seorang santri bukan diukur dari rasa takut yang ditimbulkan kepada orang lain, melainkan dari kemampuannya menghadirkan ketenangan dan menjadi teladan bagi sesama.

Ia mengajak seluruh santri untuk menjaga pesantren layaknya rumah sendiri, dengan saling menghormati, saling menguatkan, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta saling mendoakan. “Kami berharap dari pesantren ini lahir generasi yang kokoh imannya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, serta mampu memberi manfaat bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan,” kata Akiduddin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *