Daerah  

Mahasiswa Kalbar di Yogyakarta Bentuk AJAK DIY, Soroti Karhutla yang Ganggu Pendidikan dan Aktivitas Ekonomi

PILIHANRAKYAT.ID, Yogyakarta – Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menjadi perhatian serius mahasiswa asal Kalimantan Barat yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui forum konsolidasi mahasiswa Kalimantan Barat DIY, mereka membahas kondisi terkini karhutla yang telah memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, pendidikan, aktivitas ekonomi, hingga keberlangsungan ekosistem.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan data BPBD Kalimantan Barat, luas wilayah yang terbakar sejak Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai 38.310,86 hektare. Sejumlah kabupaten menjadi perhatian serius karena luasan kebakaran yang cukup besar dan berkontribusi terhadap munculnya kabut asap.

Dalam forum tersebut, mahasiswa menyoroti kabut asap sebagai salah satu dampak paling nyata yang dirasakan masyarakat. Asap karhutla tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas warga, tetapi juga telah berdampak terhadap sektor pendidikan.

Di Kota Pontianak, misalnya, pemerintah kembali menerapkan pembelajaran daring bagi peserta didik PAUD/TK, SD, SMP, dan pendidikan kesetaraan mulai 24 Agustus 2026 karena kualitas udara yang belum membaik akibat kabut asap.

Hal serupa juga terjadi pada jenjang SMA, SMK, dan SLB di seluruh Kalimantan Barat. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengalihkan pembelajaran tatap muka menjadi Belajar Dari Rumah (BDR) atau daring pada 24–28 Agustus 2026 sebagai langkah antisipasi terhadap penurunan kualitas udara akibat kabut asap karhutla.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla telah berkembang menjadi persoalan sosial yang jauh lebih luas. Aktivitas pendidikan terganggu, mobilitas masyarakat terdampak, dan kegiatan ekonomi berpotensi ikut melambat ketika masyarakat harus mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Baca juga  Ketua DPRD Jateng Ajak Petani Lebih Inovatif untuk Dongkrak Penghasilan

Mahasiswa juga menyoroti wilayah Sandai, Kabupaten Ketapang, sebagai bagian dari persoalan karhutla yang perlu mendapat perhatian. Kabupaten Ketapang sendiri merupakan salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat. Pemerintah daerah sebelumnya menyebut Ketapang sebagai salah satu wilayah dengan peningkatan titik panas yang membutuhkan respons cepat agar kebakaran tidak berkembang lebih luas.

Bagi mahasiswa, persoalan karhutla tidak dapat hanya dilihat sebagai peristiwa kebakaran biasa. Pembakaran lahan memiliki konsekuensi berlapis terhadap masyarakat dan lingkungan.

“Ketika asap sudah mengganggu masyarakat, sekolah harus beralih ke pembelajaran daring, aktivitas warga dibatasi, dan roda ekonomi ikut terdampak, maka karhutla sudah menjadi persoalan sosial dan ekologis yang harus ditangani secara serius,” menjadi salah satu pokok pembahasan dalam forum.

Mahasiswa juga menyoroti dampak karhutla terhadap ekosistem Kalimantan Barat. Kebakaran hutan dan lahan berpotensi merusak habitat satwa, menghilangkan vegetasi, serta mengganggu keseimbangan ekosistem. Karena itu, penanganan karhutla dinilai tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar, tetapi harus diperkuat melalui pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, dan pelibatan masyarakat.

Membentuk AJAK DIY

Dari forum tersebut, mahasiswa Kalimantan Barat DIY kemudian menyepakati pembentukan wadah bersama bernama AJAK DIY — Aliansi Jaga Alam Kalimantan Barat DIY.

Aliansi tersebut dikomandoi oleh Firman sebagai salah satu penggerak konsolidasi mahasiswa Kalimantan Barat di Yogyakarta.

Pembentukan AJAK DIY menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi lingkungan di daerah asal sekaligus upaya membangun ruang bersama untuk menyuarakan persoalan ekologis Kalimantan Barat dari Yogyakarta.

Baca juga  Muhammad Khozin, Santri yang Kini di Senayan, Sowan ke Guru-Gurunya di Nurul Jadid

Firman menegaskan bahwa mahasiswa Kalimantan Barat di Yogyakarta tidak ingin persoalan karhutla hanya menjadi perhatian ketika kabut asap telah menyelimuti kota dan mengganggu aktivitas masyarakat.

“Karhutla bukan hanya persoalan ketika api membesar atau ketika asap sudah menyelimuti daerah. Ini menyangkut keselamatan masyarakat, pendidikan anak-anak, keberlangsungan ekonomi, dan masa depan ekosistem Kalimantan Barat. Karena itu, kami merasa perlu membangun gerakan bersama,” ujar Firman.

Menurutnya, AJAK DIY akan menjadi ruang konsolidasi mahasiswa untuk meningkatkan kepedulian terhadap persoalan lingkungan Kalimantan Barat sekaligus mendorong keterlibatan publik dalam upaya pencegahan karhutla.

Pembentukan AJAK DIY juga diharapkan menjadi awal dari gerakan mahasiswa yang lebih terorganisasi dalam mengawal isu lingkungan, khususnya persoalan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat.

“Dari Yogyakarta, kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Kalimantan Barat tetap memiliki kepedulian terhadap tanah kelahirannya. Alam Kalimantan adalah bagian dari masa depan kita bersama. Menjaganya bukan pilihan, tetapi tanggung jawab,” tegas Firman.

AJAK DIY selanjutnya akan membuka ruang komunikasi dan konsolidasi dengan mahasiswa, organisasi kepemudaan, komunitas lingkungan, serta berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan Kalimantan Barat.

Bagi AJAK DIY, karhutla bukan sekadar persoalan api yang harus dipadamkan, tetapi persoalan ekologis dan sosial yang membutuhkan pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, serta gerakan masyarakat yang berkelanjutan.

AJAK DIY: Dari Yogyakarta, Bersama Menjaga Alam Kalimantan Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *