Daerah  

MTs Nurul Islam Ajak Santri Jihad Lawan Sampah, dari Pemilahan hingga Bank Sampah

PILIHANRAKYAT.ID, Sumenep-MTs Nurul Islam mengajak para santri menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari praktik keagamaan. Ajakan itu disampaikan melalui talkshow edukasi lingkungan bertajuk “Madrasah Jihad Lawan Sampah” di Pendopo Yayasan Nurul Islam Al-Mannan Djazuli, Sumenep, Jumat, 17 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut menjadi upaya madrasah menanamkan kesadaran ekologis dan nilai ekoteologi kepada peserta didik di tengah persoalan sampah. Seluruh dewan guru, peserta didik, dan pengurus Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) MTs Nurul Islam mengikuti kegiatan tersebut.

Talkshow menghadirkan dua narasumber, yakni Edi Yulianto dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep dan Lina Wafia dari Lakpesdam PCNU Sumenep. Keduanya membahas pengelolaan sampah dari perspektif lingkungan dan ajaran Islam.

Baca juga  Alasan Bea Cukai Tak Hadir di Rapat Rokok Ilegal: Sedang Transisi Pimpinan

Kepala MTs Nurul Islam mengatakan gerakan peduli sampah merupakan bagian dari penerapan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari. Madrasah ingin membentuk santri yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga bertanggung jawab menjaga lingkungan.

“Kebersihan adalah sebagian dari iman. Maka jihad kita hari ini adalah jihad melawan sampah,” ujarnya.

Dalam sesi pertama, Edi menjelaskan pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya, termasuk rumah tangga, madrasah, dan pesantren. Menurut dia, sampah yang dikelola dengan benar dapat memberikan manfaat, bukan sekadar menjadi limbah.

Ia menyebut sekitar 60 persen sampah di madrasah dan pesantren merupakan sampah organik yang berpotensi diolah menjadi kompos dan eco-enzyme. Karena itu, pemilahan sampah menjadi langkah awal yang perlu dibiasakan di lingkungan pendidikan.

Baca juga  Seleksi Capaskab Probolinggo Ketat, 147 Peserta Tersisa 76 Terbaik

Sementara itu, Lina mengaitkan persoalan sampah dengan fikih lingkungan atau fiqih bi’ah. Ia mengatakan menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia, sedangkan tindakan merusaknya bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Lina juga mendorong pesantren menjadi pelopor gerakan ekoteologi melalui kebiasaan sederhana, seperti membawa tumbler, melakukan sedekah sampah, dan mengembangkan bank sampah. Melalui kegiatan tersebut, MTs Nurul Islam mendeklarasikan tiga komitmen, yakni memilah sampah di setiap kelas dan asrama, mengaktifkan bank sampah yang dikelola OSIM, serta membiasakan penggunaan tumbler dan wadah makan untuk mengurangi plastik sekali pakai. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *