Napak Tilas Sang Pecinta (Bisik Bisik Cinta di Jendela #11)

Kontributor: Selendang Sulaiman 

Sabtu, 16 Juni 2012/ 18:58 

Surup sudah raib ke lubuk malam. Aku kembali ke warung kopi. Lelah dan payah sudah dihempas saja tadi bersama angin kereta lewat. Catatan ini aku tulis lagi sambil menunggu cintaku yang berjanji akan datang sore tadi. Biasanya dia akan tidak tepat janji. Ya, malam yang masih muda ini belum ada sms masuk yang datang darinya.

“Seharian aku menunggu kabar untuk kedatangan dirimu!” Begitukah kata yang senantiasa mengalir bersama darah. Seharian, aku lupa telah melakukan apapun bermakna untuk cintaku, yang berarti itu tak lain dari usaha mencari jalan impian. Cintaku – masa depanku.

Foto/ Pilihan Rakyat

“Menulis catatan!” Itu yang kuingat. Dari catatan ini aku bisa mengingat lainnya, perlahan, tentu akan hadit satu persatu: Sepulang memberi makan La Noche tadi pagi, aku pulang ke kontrakan. Mencuci pakaian yang kotor; handuk, javjet, kaos, sarung, celana dalam, dan tubuhku sendiri yang sudah dua hari kemaren belum sempat mandi. Selebihnya aku menunggu sms dari cintaku. Sehabis nyuci dan mandi aku temani dua kawan di beranda, baca buku di sela-sela waktu mrmbelikan gorengan buat Pablo.

 Siang mulai terasa hawa panasnya ke dalan beranda terbuka. Beberapa kereta sudah lewat hilir mudik. Pablo sudah tertidur. Buku sudah diletakkan di meja. Percakapan kecil tumpah oleh seorang remaja penjual aksesoris berjalan di seberang jalan.

Baca juga  Mostbet, Azərbaycanda ən yaxşı onlayn kazinolardan bir

“Lihat lelaki itu, tanpak kesabaran dan kepasrahan dari langkahnya,” kataku.

“Iya, memang banyak yang tak masuk akal daru kehidupan ini,” jawabnya sambil membuka lembar baru dari bukunya.

“Lebih aneh lagi, tentang lelaki tua paruh baya, tukang becak yang menunggu becaknya di pinggir jalan depan toko buku, du malam hari yang grimis. Ya, yang pernah kucerirakan kenarin padamu.”,ceritaku lagi.

“Entahlah,” semacam kelam dengan nafas tertahan sejenak. ku diam. Lalu ambil handphone. Ada sms. Perempuan bernama kenangan hendak bicara. Aku iyakan. Dia cerita tentang kebahagiaan di masa yang akan datang. Dia juga bertanya kapan aku bahagia aldengan cintaku. Kujawab, kelak jika sudah tiba waktunya. Dia tutup pembicaraan. Aku ke warung kopi.

Lagi, di warung kopi: kopi, air es, gorengan, dan nyawa minta gratisan. Sebut saja teman sejawat yang membayar. Aku jadi tak punya dosa rasanya. Rokok, hal yang mudah untuk kudapatkan di warung kopi ini. Tinggal ambil posisi di meja yang telah diduduki oleh benerapa teman yang punya rokok. Aku duduk seenaknya saja. Sesopan mungkin, menurut prinsipku. Aku selalu punya alasan kenapa aku memilih untuk duduk dengan mereka.

Selesai sebelum tuntas seba mata ta bisa dipaksa. Biar menjadi yang tersimpan hanya dalam ingatan. Kata seirang teman, “tidak semuanya mesti diunhkap mrnjadi sebuah tulisan.”

Baca juga  Mostbet Aviator Azerbaycan ⭐️ rəsmi saytı 202

Kemarin siang di warung kopi ini, di meja lain, aku menulis catatan ini. Bersama teman yang sama. Setelah semua perangkat ada aku tentu menulis catatan ini. Selain baca buku. Kemarin masih semapat main kartu. Sebentar saling bicara. Sebelum senja aku pulang, menunggu cintaku datang. Catatan sudah tuntas aku tuliskan. Samapai di kontrakan, rasa lapar tiba. Tapi seorang teman yang bertamu, menlmintaku bercerita perihal dunia gerakan yang kacu dalam lingkaran syetan. Aku bercerit tanpa ditutup-tutupi sedikitpun. Usai cerita, aku pergi untuk menenangkan rasa lapar.

Aku pernah menulis puisi buat kita tentang jalan-jalan yang kita lalui. Jika tidak bisa menjadi kita, mungkin puisi itu hanya untuk diriku sendiri. Bacalah puisiku ini:

Sandal 

di kaki-kaki kursi
percakapan bisu terdengar sendu
menyoal langkah di atas nasib
berebut garis hidup dengan waktu
sepanjang jalan dan ruang
tertutup tujuan dari mimpi-mimpi

di mana-mana
kemana-mana
percakapan bisu terdengar
di kaki-kaki kursi
di kakiku sendiri
lidah dan bibirnya menjelma ular
menjadi harimau, menjadi srigala
menjelma kelelawar, menjadi ikan
lalu matanya terhunus
saat empunya langkah
mencari hidup
di jantung maut

Blandongan, 2012

Bersambung…. baca selanjutnya…. #12 

Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *