Cerita Untuk Najwa

- Advertisement -
Cerpen Dwi Intan Humaira 

Najwa, masih ingatkah kamu dengan puisi yang terpajang di majalah dinding edisi Valentine waktu kita SMA dulu? Puisi itu bertulis nama khas pengarang yang tidak asing bagi seluruh siswa dan siswi. Apalagi bagi kita yang sama-sama suka pada puisi-puisi yang setiap edisi baru, pasti muncul dengan nama yang khas, Si Lanang Sejati.

Aku sungguh masih sangat terkesan dengan perbincangan kita di kantin. Tentang puisi yang baru saja kita baca di majalah dinding edisi Valentine itu. Aku tersenyum dan tertawa sendiri bila teringat pada perbincangan kita waktu itu. kenapa tidak? toh kita sudah berani main klaim untuk siapa puisi itu. seolah kita sudah benar-benar paham akan arti puisi-puisinya. Tidak sekedar itu, kita bahkan saling mengadu argument tentang hakikat cinta. Ya, cinta sejati kataku, katamu pula.  

Foro Editor/ Pilihan Rakyat

Haha, aku merasa tergelitik sendiri dengan bahasa-bahasaku dan kalimat-kalimatmu yang mengalir tidak pernah mau kalah dengan argument yang aku utarakan. Semua itu masih jelas terekam dalam memori ingatanku. Seolah aku telah mengukirnya menjadi perasasti dalam kehidupan masa remajaku, dulu.

Tetapi Najwa, ada satu hal yang sengaja aku rahasiakan dalam diriku. Kendati dirimu barangkali sudah mengetahuinya, sejak kau tanpa sengaja membaca diary harinku saat kau main ke rumahku. Ketika itu, tiba-tiba mukamu memerah saat kepergok olehku, kau sedang membacanya.

“Maaf, aku baca Diarymu tanpa pamit…!”

“Tak apa, itu hanya karangan-karangan biasa yang aku tulis ketika aku lagi ngga’ ada kerjaan”

“Tapi, ini kan masalah pribadimu!”

“Kau sahabatku Najwa…”

“Tapi…”

“Oh iya, dengar-dengar isi mading edisi Valentine kemarin jadi masalah sama sekolah?” tanyaku memotong, mengalihkan percakapan. Kamu hanya mengangguk kecil. Aku paham. Tatapan matamu terdapat prasaan tidak karuan.

“Pantas saja, teman-teman Kru Redaksi Majalah Dinding ‘LENTERA’ yang aku temui ke ruang redaksi kemarin, muka-mukanya kelihatan masam semua. Jadi, lantaran terbitan edisi kemarin to, weleh-weleh… ada-ada saja!” gumamku sendiri, sembari merapikan buku-buku pelajaran dan kertas-kertas yang berantakan di atas kasur, meja dan lantai.

“Aah… akhirnya, ketemu juga ini kertas!” Lanjutku sambil meletakkan kertas yang lain ke dalam laci kemudian menyodorkan kertas yang baru aku temukan pada Najwa yang kekesekian waktu pendek, kamu hanya diam. Sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

“Lah, dapat dari mana kopian puisi ini?” tanyamu kaget dengan mata menyala keheranan. Aku bisa menebak, kamu sedang melamun ketika aku sedang bergumam sendiri barusan. Aku maklum. Bukankah kau sedang sering teringat si Lanang Sejati sang Penyair muda ’Lebai’ (kata remaja saat ini).

“Hehe…” tawaku geli tergelayut oleh sikapmu itu. sembari mengangkat tangan bertadah setengah badan, dengan kedua bahu ikut terangkat spontan. Pun alis mata bergerak ke atas, mengikuti kernyit kening tanda tak paham atawa No Comment.

Najwa, Najwa… kamu itu begitu lugu. Aku tidak rugi menjadi sahabat karibmu. Meski persahabatan itu bukan untuk mencari untung rugi, tapi aku bangga dengan adamu dalam kehidupanku. Kepolosan dan kejujuranmu itu membuatku terharu. Walaupun tak sepenuhnya kau menjujur tentang dirimu padaku, begitupun dengan aku. Bukankan menusia hidup dengan rahasia-rahasia.

Kamu tahu Najwa, aku memperhatikan ekspresimu membaca barisan-barisan puisi Si Lanang sejati itu. Tanpak oleh tatapanku kau tidak melewatkan sehurufpun dari puisi dalam kertas yang aku berikan tadi. Disitulah aku benar-benar paham bahwa kita sama-sama suka pada puisi yang berjudul ‘Surat Untuk Bidadari’. Haha, bukankah kita juga sama-sama suka sama Si Lanang Sejati, Najwa?.

Baca juga  Tas kecil Ahmad

Begitu romantisnya isi puisi itu ya, Najwa:

Pada malam-malam yang aku rindukan untuk menulis sajak di altar jiwaku, itu adalah namamu. Malam ini dengan separuh bulan yang separuhnya lagi adalah rindu untukmu. Aku akan tertidur dalam buaian rerindu kemudian mimpi merengkuhku_aku akan segera jaga demi sebauah mimpi nyata dalam perjalanan malamku_perjalanan mencari cinta: Bidadari

Bila bintang harus bersinar malam ini_hanya matamu yang paling cahaya di mataku. Jika bulan harus purnama malam ini_ hanya wajahmu yang sempurna di mataku. Akulah rerumput yang menanti sejuk embun dari keningmu.

Baca juga  Malam Di Blandongan

Suatu waktu. Jam istirahat. Kita makan bakso di warung Bibi Rahma. Disitu kita bercakap laiknya seorang Kritikus Sastra. Seolah kita benar-benar serius menilai isi puisi Si Lanang Sejati itu (tentu dia GeEr, jika tahu atau tanpa sengaja menguping pembicaraan kita tentangnya).

Kenapa kita mesti saling menutupi ya, Najwa? Bukankah kita suka pada si penulis bukan pada puisinya. Namun itu hanya pandangananku saja, seperti halnya aku menilai puisinya yang amat sangat subyektif. Kenapa kita tidak jujur saja sebagaimana Isti, sahabat kita yang selalu asyik itu.

Di hari yang lain. Hari libur semester. Kita bertiga berlibur ria ke sawah. Waktu itu, musim hujan. Orang tua kita sama-sama membajak sawah ladang untuk ditanami padi. Tiba-tiba hujan turun rintik-rintik. Kita bersepakat bertiga; aku, kamu dan Isti untuk tidak berteduh ke gubuk bambu beratap jerami itu atau berteduh di bawah pohon jambu mente. Sambil berbasah kuyup, kita menjujur tentang isi hati kita masing.

Koor! Sepakat!!!

“Yunie… Najwa, sahabatku yang paling baik… Zainuudin itu baik, pengertian dan perhatian sekali ya….! Kemarin sepulang sekolah, hujan deras tiba-tiba turun, aku berteduh di depan toko. Eh, ternyata disitu ada dia tengah memeluk tubuh gigilnya sendiri. Mukaku memerah saat dia tahu kalau aku juga kedinginan. Spontan, dia memasangkan jaketnya ke tubuhku. Aku seneng banget tahu ngga’! sejak saat itulah aku selalu terbayang-bayang padanya dan hatiku terpaut jatuh cinta ” tutur Isti blak-blakan dengan hebohnya seraya memeluk tubuhnya yang menggigil.

“Halahh, criteria cowok seperti itu dah basi Is, mungkin dia Cuma nyari perhatian doang! Kau harus tahu, Zainuddin, Si Lanang Sejati itu, otaknya brilian, cerdas dan kaya akan ilmu-ilmu pengetahuan, dia itu pandai baca kitab kuning dan ilmu-ilmu umum. Aku begitu kagum padanya. Jadi tak ayal jika aku menaruh perasaan yang mendalam padanya. Apalagi kalau dia mengumbar karya-karya sastranya, Amboi… hatiku sungguh-sungguh terpaut, seolah dia Malikat yang menabur kata-kata di taman para Bidadari”

“Ssst…!” seru Isti padaku sampil meletakkan jari telunjuknya tepat rapat di sepasang bibirnya yang terkatup kedinginan. Najwa diam pada gilirannya bicara. Dia menatap jauh ke utara, menatap gunung menjulang yang samar oleh titian rintik. Kemudian Isti melambai-lambaikan tangan kanannya di depan mata Najwa. Dia terperangah.

“Uppz, maaf Yun, Is! Aku dengar kok, curahatan kalian tentang Si Lanang Sejati. Cuma aku bingung pada diriku sendiri. padahal aku sungguh sangat menyukainya juga. Itu sebabnya aku menjadi buntu dan tak tahu harus berkata apa. Aku tidak bisa memberikan alasan kenapa aku suka padanya. Tidak seperti kalian!”

Rintik merinai. Hawa dingin kian membekukan. Mengkatubkan bibir kita masing-masing. Percakapan terhenti. Kitapun beranjak pergi.

***

Najwa, ingatkah kamu tentang kenangan masa remaja kita itu? apa kabar kau sekarang di negeri rantau? Apa kamu masih sering berhubungan dengan Isti? Jika iya! Katakan aku rindu. Nanti, jika kamu pulang ke kampung halaman, jangan lupa main kerumahku, ajak Isti juga. Maklum aku sekarang masih seperti yang dulu, hidup di kampung, tidak sejajar dengan kalian yang sudah hidup di kota rantau. Orang tuaku tidak mampu membelikan Hand Phone untukku. Ya, aku sadar siapa diriku.

Baca juga  Gloomy Sunday*

Oh iya Najwa, aku dapat kabar kau sudah punyak suami bahkan sudah memiliki momongan! Ayolah, perkenalkan pada sahabatmu ini.

Hah… begitu bahagianya hidupmu Najwa! aku masih tetap seperti yang kamu tahu dulu. Aku masih terkatung-katung bagai pungguk merindukan bulan. Hatiku masih terpaut oleh Si Lanang Sejati. Entah bagaiman kabarnya sekarang. Aku tidak lagi bisa membaca puisi-puisi romantisnya kecuali puisi yang berjudul ‘Surat Untuk Bidadari’ yang kuminta dari kru redaksi di sekolah. mungkin dia sudah melanglang buana dengan puisinya. Atau sudah beranak tiga. Ah entahlah, aku hanya menunggu dan menunggu keajaiban datang.

***

Suatu hari seuasai sepagian aku beraktifitas di dapur membantu Ibu. Aku istirahat sejenak di emperan rumah tuaku setelah bersiap-siap ke ladang untuk mengantar makanan pada Si bapak. Seorang Pak Pos datang. “Benar, ini alamat rumah Sri Mey Wahyuni?” tanyanya sopan dengan sebersit senyum.

Baca juga  Musyawarah Kesunyian

“Saya sendiri!” jawabku dengan penuh penasaran.

“Ada kiriman untuk mbak!” katanya sembari menyerahkan amplop kuning lebam.

“Terima kasih Pak…” sambutku mengiringi kepergian Pak Pos.

Aku terkejut bercampur bahagia. Amplop itu adalah surat yang dikirim oleh Najwa yang beralamtkan dari Yogyakarta. Dari saking senangnya, air payau menetes dari lubang mataku. Aku mengecup mesra dan lama amplop itu sebelum dibuka kemudian dibaca.

Pelan-pelan aku baca isi surat itu, kata-kata demi kata, baris ke baris samapi pada paragraph terakhir, aku terhenti. Bibirku menjdi kelu. Mata air menetes seperti hujan, deras sekali. Aku benar-benar menangis. Hatiku renyuh, remuk redam membaca kabar bahagia Najwa.

Tubuhku rubuh ke kubin yang sudah acak-acakan tak terawat. Aku letakkan surat itu ke dada. Sedang tangisku kian menjadi. Aku merasa, hidupku telah tiada harapan lagi dengan adanya isi surat Najwa. tubuhku seolah tinggal raga tak berdaya. Aku menyesal sungguh menyesal telah jatuh cinta. Kenapa aku tidak menuruti kehendak orang tuaku untuk dijodohkan dengan putra pak lurah, dulu.

Tidak! Aku harus tegar. Aku tidak boleh kalah dengan kehendak nafsuku. Aku harus ikhlas. Aku tidak boleh sedih di tengah kebahagiaan sahabatku, Najwa.

Najwa, ingat kenagan, lupakan jangan! Aku turut bahagia dengan kabar bahagiamu ini. Aku sangat berterima kasih, karena kamu masih ingat pada sahabatmu ini. Aku akan berdo’a pada tuhan, memohon agar kamu menjadi keluarga yang Sakinah Mawaddah dan Warohmah bersama Zainuddin, Silanang Sejati. Lelaki yang selama bertahun-tahun aku cintai dan akan aku abadikan di relung hatiku.

Bila aku sempat ke kota, aku akan membalas suratmu. Sampaikan salam rinduku pada Si Lanang Sejati. Katakan bahwa dulu, diam-diam aku menyimpan Puisinya yang berjudul ‘Surat Cinta Bidadari’.

Najwa, air mataku kembali berlinang. Deras, deras sekali. Entah tangis kesedihan untukmu atau air mata bahagiaku sendiri. Aku tak sanggup mengatakannya padamu. Maafkanlah Najwa, sebab yang terjadi sekarang, terlampau jauh dari mimpiku!.

Yogyakarta, 2010/2015

Dwi Intan Humaira, lahir di Sumenep 20 Februari 1995. Kini tinggal di Yogyakarta menempuh pendidikan S1 pada Jurusan Sastra Inggris di salah satu Universitas Negeri. Selain itu, ia juga aktif di Paguyuban Sastra Rakyat.

- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Kementrian ESDM Mengeluarkan Peta Rawan Bencana Gunung Semeru

PILIHANRAKYAT.ID, Dalam rangka mengurangi resiko bencana geologi khususnya akibat letusan Gunung Api Semeru, Badan Geologi, cq. Pusat...

Mendagri Minta Kepri Tetap Kendalikan Pandemi

PILIHANRAKYAT.ID, Batam - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah di Provinsi Kepulauan...

Sajak-sajak Salman Al-Madury

Rukun Rindu Setalah selesai menghitung waktujarak semakin merontaMenghendaki sebuah jumpa Maka...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

20 Besar Seyembara Buku Puisi HPI 2018

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) Maman S. Mahayana mewakili Dewan Juri yang lain hadir pada bincang-bincang Hari Puisi yakni Abdul Hadi...