Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri dan aku sudah menceritakannya pada orang-orang. Bahwa aku punya impian kepadamu. Aku ingin membagi semua pengalamanku padamu. Surat-surat ini, hanya berisi kilasan-kilasan saja. Peristiwa lengkap dan detailnya aku simpan dalam memory ingatanku.
Adikku yang dilimpahi cinta dan kasih sayang.
Kini aku suka pada perempuan yang belum kukenal dia. Aku hanya beberapa kali melakukan komunikasi di fb dan sms. Baru tiga hari ini aku mulai bisa mendengar suaranya lewat hp. Perasaanku selalu saja ingin bicara lewat lidah dan bibir yang nyata, aku merasa aneh saja dengan diriku sendiri setelah banyak bercerita dengannya. Suaranya lembut dan entahlah aku tak paham tak benar-benar paham bahasanya. Intinya aku merasa nyaman dan tentram ketika mendengar suaranya. Aku selalu ingin mengulang pembicaran bersamanya.
![]() |
| Foto/Pilihan Rakyat |
Adik gadisku, jika kau lelah istirahatlah di hatiku. Kini aku sedang bahagia. Duka cintaku lenyap di udara bersama angin musim dati malam. Dia yang datang atas nama hidup yang dilingkupi kegetiran meruntuhkan dukaku, membenam penderitaan hati yang akut oleh kenangan. Dia membawa cahaya murni yang membeningkan ckristal-kristal dunia, datang kepadaku dengan sekian kejadian dan peristiwa besar cinta di masa lalunya. Cahaya itu mengisi langit redupku, mengisi ruang jiwa pekatku. Labirin hidup yang menghukumku terbuka jalannya oleh sinar biru yang tumbuh dari matanya.
Berbahagialah adikku, sebab aku telah bahagia karenanya. Dan apabila kau tahu yang sebenarnya, tak perlu kau risaukan aku. Percayalah padaku, bahwa aku akan selalu baik baik saja bersamanya untuk beberapa waktu yang cukup singkat ke depan. Aku akan mengenalkannya padamu lewat surat ini. Aku janji padamu, setelah ini, kau akan tahu tentang dirinya. Kemudian kau akan mengerti semua tentang hidupku, tentang peristiwa-peristiwa penting dan genting dalam cintaku.
Tetapi, adikku, betapa lemahnya aku, berjalan di lorong gelap oleh obsesi, ambisi dan cinta yang cacat sebelumnya. Kini kerapuhan itu telah dikuatkan lagi oleh ciumannya.
Adik gadisku, syukurilah kesederhanaan hidupmu. Cinta adalah kesederhanaan hidup yang dikemas dengan kemewahan-kemewahan duniawi yang melenyapkan cahaya surgawi. Aku bicara cinta kepadamu, biar kelak kau tidak terkejut bila cinta hadir menghampirimu. Cinta yang agung adikku adalah satu-satunya warisan tunggal di muka bumi. Betapa aku telah banyak menyaksikan tragedi-tragedi cinta yang gombal dan tak masuk akal. Cinta yang dipersempit dengan hukum-hukum buatan manusia. Cinta yang dibakar dengan api birahi. Cinta yang hanya diperdebatkan definisinya tanpa dihayati jiwanya.
Adikku, dia datang dengan kesadaran hidup yang wajar dan sederhana. Aku menerimanya sebagai pemberian Tuhan yang rahasia tanpa pesan dan surat kejadian. Aku hanya manusia biasa yang membutuhkan kasih sayang Tuhan. Kemudian Ia mengirim perempuan itu untuk memelukku, melindungiku dari rayu-rayuan kesedihan yang menjerat hidupku selama ini. Aku benar-benar merasakan kebahagiaan dari kehadurannya. Dia perempuan berhatu lembut dengan segenap kehangatan yang deberikannya pdaku. Aku sudah tidak ingin lagi berpikir tentang cinta. Aku hanya akan menyambutnya dengan tangan gemetar kemudian akan kuletakkan tepat di jantungku, biar ia menjadi detak sepanjang waktu.
***
Sehari kemudian, 18 April 2013, pukul 15:46 kutuliskan lagi ingatan padamu, Intan.
Adikku, ingin sekali aku yang ajari kamu menulis dan baca buku yang baik dan tepat. Aku ingin kamu lebih tekun dan rajin belajar dari padaku. Kelak bila saat itu tiba, saat-saat dimana kamu terdesak oleh situasi dan keadaan, kamu tidak menyesal karena di masa muda kamu lebih suka bermain dari pada belajar.
Dengan surat ini penuh cerita ini, aku berharap kamu bisa bangkit dari keadaan yang tak mendukungmu sama sekali. Aku yakin, kau dapat keluar dari masa-masa sulit yang mengekarkan pohon pertanyaan di kepalamu. Mungkin di hati terdalammu telah ditumbuhi batu karang dengan jutaan ribu ikan-ikan tak bernama. Betapa sesaknya hidupmu jika hal itu nyata-nyata terjadi di hidupmu. Semoga saja kau dijauhkan darinya.
Adikku, aku bicara demikian padamu sekarang, di usiamu yang ke sebelas, agar kau percaya bahwa, betapa aku ingin mengatakan padamu: aku sungguh sangat menyayangimu. Aku menulis segalanya yang hadir ke hidupku, sebagai tanda, peristiwa yang terjadu padaku. Datang dengan perhitungan waktu yang tepat di tangan Tuhan dan waktu tentunya. Jika kau ada disini, menjadi saksi ketika kekalutan hati dan kegusaran batin menampar mata dan lidahku. Tentu kamu akan menggenggam tanganku erat-erat dan erat sekali. Sebab akulah penyayangmu.
***
Malam tiba, kini di tanah Mataram menunjukkan pukul 22:20 WIB.
Dingin benar malam ini usai hujan pukul enam petang tadi. Tubuhku; pikiran dan perasaan mengendap di relung cahaya, mata terdalamnya. Udara membawa bau parfumnya, dan lampu-lampu penerang jalan mencipta bayangannya sendiri-sendiri. Kemudian kata-kata menghampar di sebidang dadaku. Kuning emas warnanya. Serupa padi merunduk di ladang dan sawah yang terhimpit gedung dan rumah susun para pungusaha, sarjana dan aparat keamanan. Kuning emasnya berkilauan di mataku dan keningnya memantulkan sinar mataku.
Dingin menumbuhkan rindu yang padat padanya. Rindu asmara tanpa perhitungan musim, untung tugi, surga neraka dan segalanya yang memberi tanda pada yang nampak nyata. Ialah getar ghaib di lubuk jiwa, langit batin, dan guncangan kata-kata yang keluar dari rongga dunia paling rahasia. Paling rahasia. Tetapi, yang ada kini hanyalah aku dengan kata, rindu padanya, dan kukabarkan padamu, adikku.
Malam jatuh ke mataku. Dingin menjadi gumpalan darah yang bergelombang seperti muka gurun. Ia membentuk lekukan murni di tubuhnya yang kuurai sebelum desahku mengantarkan kenikmatan terdalam baginya.
Didik Hariyanto, Mahasiswa Aktif di salah satu Kampus Negeri di Yogyakarta Angkatan 2014. Kini Aktif mengelola Komunitas Mahasiswa Peduli (KMP) sebagai anggota biasa yang masih belajar menjadi pembaca dan penulis yang baik. Sehari-hari banyak menghabiskan waktu membaca di warung kopi.





