Jelang memasuki tanggal 10 Navember 2015 yang akan disemarakkan sebagai hari Pahlawan, negeri ini begitu sibuk membicarakan persoalan politik dalam dan luar negeri, khususnya bicara soal Jokowi, sang Presiden yang menjadi atas dukungan rakyat. Jokowi bersama Tim “Indonesia Hebatnya” (mungkin) tidak akan meraup suara terbanyak di Pilpres tahun 2014 lalu. Seandainya Jokowi dan Tim “Indonesia Hebat” tidak mendapat dekungan dari para relawan yang entah benar-benar relawan atau hanya rela-relaan. Baik, ada baiknya jika yang berlalu biarlah sebegitu adanya. Namun saya sebagai pendukung Jokowi dan juga sempat beberapa kali ikut melakukan sesuatu bersama para relawan waktu itu, merasa penting untuk menulis kesan dan komentar kecil ini.
![]() |
| Sumber Gambar: Doc/Pilihan Rakyat |
Saya menulis kesan ini, sebab dalam dua minggu ini twitter saya dipenuhi dengan berita-berita yang banyak menyoroti kinerja Jokowi, setelah lepas dari setahun masa pemerintahan bersama kabinet kerjanya. Pro dan Kontra adalah niscaya. Komentar bahwa Jokowi kurang becus ngurusi bangsa dan negara sesekali jika dipikir idela, ada benarnya juga. Saya pribadi belum selesai bersikap apakah saya mesti ikut orang-orang yang pro atau kontra melihat kinerja Bapak Presiden. Oleh karenanya saya hendak melepaskan diri dari keduanya tersebut. Saya memilih untuk menyampaikan kesan secara pribadi saja.
Beberapa waktu lalu, Ahmad Dhani sang pemangku Republik Cinta Management berkicau lihai di akun twitternya (@AGMADDHANIPRAST) disingkat jadi ADP bahwa, “Tidak ada pemimpin besar di muka bumi ini yang berwajah komedian”. Salah satu Follower pemilik twitter dengan profile “Akun ISLAM RASIONAL .Tafsirnya AL MISBAH/ProfDr.M QuraishShihab.tdk menerima ayat sepotong2/terjemahan DePag” secara reaksioner langsung terpicu untuk turut berkomentar begini salah satunya: “Penyanyi berwajah penyanyi, pemimpin berwajah pemimpin. Jokowi berwajah apa ya?”.
Bukan Ahmad Dhani namanya, jika tidak cerdas membuat statement sehingga mampu mengusik followernya untuk merespon dengan cepat.
Ingat komentar Dhani di Indonesia Idol beberapa waktu silam bahwa, yang mengetuahi seseorang itu sufi atau tidak ya seorang sufi itu sendiri, seseorang yang mengetahui seseorang itu penyai atau bukan ya tak lain adalah seorang penyanyi. Tetapi, apakah anggapan Dhani juga berlaku dalam bab kepemimpinan. ApakahAhmad Dhani adalah pemimpin yang baik, sehingga dengan bebas dan cukup urakan menilai seorang pemimpin?
Tanggal 25 Agustus 2015 lalu ADP menulis di Akun yang sama: “Jadi nya Jokowi menjadi RI 1 itu adalah pelajaran penting bagi Bangsa Indonesia…ADP”. Dhani yang bla-bal-bal berpikir seoalh Jokowilah yang pantas dijadikan bahan pelajaran bagi bangsa ini. Jokowi sedang bekerja dan berusia setahun lebih sedikit. Kenapa Dhani tidak mencoba mengingat sejarah yang berlalu dari sejarah kemimpinan dari bangsa dan negara ini.
Pembaca media sosial dan berita nasional yang budiman, sebaiknya kita mengingat satu hal bahwa, Ahmad Dhani merupakan sosok popular yang masih butuh eksistensi dari popularitasnya itu. Ya, Ahmad Dhani masih butuh pengakuan. Ahmad Dhani masih memiliki ambisi besar untuk menjadi orang nomor di tanah air ini (sebagai penyanyi, bolehlah Ahmad Dhani ada di urutan pertama dan yang pertama – sebab saya pun memiliki rasa kagum sama bos besar RCM ini). Namun di luar dunianya sebagai seorang musisi/penyanyi, Ahmad Dhani memiliki ambisi yang luar biasa (mau tau, tanya saja sendiri via akun twitternya).
Sekali saya sampaikan, sesekali Ahmad Dhani juga ada benarnya, coba perhatikan kicauan Dhani yang ditulis tanggal 24 Oktober 2015 lalu, “99% Syiah dukung Jokowi….Hasilnya Peringatan Hari Assyura tetap tdk mendapat perhatian Jokowi…Gong Xi Fa Cai! Gus Dur…”. Terasa benar, bahwa Jokowi memang penuh dengan tindakan dan kebijakan yang kontroversi.
Tanggal 19 September 2015 Ahmad Dhani menulis demikian, “Katanya Jokowi mau mundur sendiri kalo dolar tembus Rp.15.000? wah seperti kesatria2 Jepang? Hebat.” Jika dipahami benar-benar dan sadar, tentu yang muncul adalah kesan, sebenarnya Dhani hanya mencoba untuk membangkitkan kesadaran Jokowi sebagai Presiden untuk lebih bijak dan hati dalam membuat kebijakan. Tentu saja, suapa Jokowi lebih berpihak kepada rakyat dari pada sama para pengusaha.
Lomba Mural Indonesia
Demikian kesan saya terkain Ahmad Dhani yang senang sekali membuat statement-statement sindirin yang kreatif dan menonjok kesadaran, perasaan, bahkan emosi. Selanjutnya, saya ingin menyampaikan bahwa Badan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gajah Mada (BEM KM UGM) menggelar lomba mural dengan tema “Indonesia Tanpa Jokowi”. Sebagaimana dilansir oleh KOMPAS.com (Kamis, 5 November 2015) dengan judul berita: “Indonesia Tanpa Jokowi”, Mari Berimajinasi Lewat Mural.
![]() |
| Doc/Pilihan Rakyat/ Via BEM KM UGM |
Menurut keterangan BEM KM UGM lomba tersebut akan diselenggarakan nanti, 13 November 2015, yang bertempat di Gelanggang Mahasiswa UGM ini. Bagi saya inilah acara yang kreatif dan inovatif. Artinya BEM KM UGM sedang berupaya menampung sekian pikiran-pikiran kritis yang belum mendapatkan di ruang publikasi baik online maupun cetak. Jadi dengan adanya lomba mural ini, diharapkan para peserta benar-benar bebas mengimajinasikan wajah bangsa dan negara dewasa ini.
Jadi, BEM KM UGM sama sekali tidak menghendaki para peserta hanya berkutat dalam persoalan pro dan kontra mengenai pemerintahan dan kebijakan Jokowi. Melainkan lebih dari itu. Ya, imajinasi yang selepas-lepasnya dan sebebas-bebasnya. Tentunya dengan kadar pengetahuan yang utuh, sistematis, dan seilmiah mungkin. Sebab ini bukan lomba menulis puisi.
Uniknya, BEM KM UGM membuat spesifikasi dari imajinasi yang dimaksud yaitu, bagaimana peserta dapat membayangkan, apa jadinya nasib bangsa dan negara kita ini, jika tanpa JOKOWI? Menarik sekali untuk disemarakkan. Sebab intinya adalah imajinasi. Sebagaimana Einstein ujarkan bahwa, Imajinasi lebih penting dari pengetahuan (Imajination is more important than Knowledge).
Tabik buat Presiden Jokowi, Ahmad Dhani Prasetyo, dan Presiden BEM KM UGM.
Saya, Selendang Sulaiman






