PILIHANRAKYAT.ID, Yogyakarta – Suasana di Gandroeng Kopi mendadak riuh pada Minggu malam, 19 Juli 2026. Mulai pukul 19.00 WIB, puluhan anak muda dan aktivis mahasiswa berkumpul dalam satu ruang gerak yang sama. Mereka membedah secara radikal isi buku “Paradoks Indonesia” karya Prabowo Subianto dalam sebuah diskusi publik yang digelar oleh Pemuda Istimewa.
Acara yang dipandu oleh Master of Ceremony (MC) ini dibuka dengan orasi membakar semangat dari Firman, selaku Pembina Pemuda Istimewa. Di podium, Firman menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar ajang kumpul biasa, melainkan momentum untuk membangkitkan kembali nalar kritis yang mulai redup.
“Mahasiswa dan pemuda tidak boleh menjadi penonton yang pasif di tengah gelombang ketidakpastian bangsa! Buku Paradoks Indonesia ini harus kita kuliti dengan akal sehat dan nalar kritis. Kita di sini bukan sekadar berkumpul, tapi untuk menyalakan kembali api pergerakan. Jika ada ketidaksesuaian antara narasi tertulis dan realita di lapangan, mahasiswa adalah garda terdepan yang wajib menyuarakan kebenaran demi masa depan Indonesia!” seru Firman, disambut gemuruh tepuk tangan dari barisan mahasiswa.
Diskusi publik ini terasa semakin berbobot dengan kehadiran Anggota DPR-RI dari Partai Golongan Karya (Golkar), H. Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M. Dalam sambutannya, legislator Senayan ini memberikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme para peserta dan menekankan pentingnya dunia pergerakan bagi masa depan anak muda.
“Mahasiswa harus ikut dan aktif di dalam organisasi. Dunia organisasi sangat menunjang pengembangan intelektual dan memperkaya pengalaman, terlebih bagi kalian semua yang merupakan calon-calon pemimpin bangsa di masa depan,” tegas H. Singgih Januratmoko di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir.
Masuk pada sesi inti, Rama S. Nugraha, S.T., M.M., Ketua Harian Ikatan Alumni UPN “Veteran” Yogyakarta, naik sebagai pemateri pertama. Rama membedah pentingnya pemaknaan ulang konsep Bela Negara bagi generasi hari ini. Namun, ia juga memberikan catatan tebal mengenai kondisi demokrasi Indonesia saat ini yang dinilainya tengah menghadapi tantangan berat dan mengalami pasang surut yang mengkhawatirkan.
Sorotan tajam kemudian datang dari Sekjen Terra Justicia Indonesia sekaligus Advokat HAM, Abdul Haris Nepe, S.H. Ia menguliti tesis utama Prabowo yang membagi benang kusut bangsa ke dalam dua masalah besar: ekonomi dan politik.
“Prabowo mengibaratkan ekonomi kita hari ini mirip zaman VOC. Ada kebocoran sumber daya alam yang luar biasa ke luar negeri, persis seperti penjarahan masa lalu di mana Spanyol ke Barat dan Belanda ke Timur,” urai Abdul Haris.
Dari aspek politik, Abdul Haris sepakat dengan kritik di buku tersebut yang menyebut sistem pemilu di Indonesia sangat transaksional, sehingga melahirkan lingkaran setan politik uang. Namun, ia melempar kritik balik yang menohok terhadap buku tersebut.
“Ada celah besar yang luput dari hitungan Prabowo. Beliau sama sekali tidak menghitung kerugian ekologis dan hancurnya budaya. Eksploitasi hutan dan penambangan terjadi serampangan di mana-mana, tapi dampak lingkungan ini absen dalam analisisnya,” tegasnya.
Menutup sesi pemateri, Sekjen BEM APMD, Laurensius Ndunggoma, melempar argumen yang paling dinantikan peserta. Ia menyoroti kontradiksi antara teori yang ditulis Prabowo dengan kebijakan konkret setelah memegang tampuk kekuasaan.
“Ada jarak yang sangat lebar. Apa yang ditulis dengan gagah di buku *Paradoks Indonesia* tersebut nyatanya sangat tidak sesuai dengan kenyataan yang kita hadapi sekarang, saat ia sendiri yang memimpin negeri ini,” pungkas Laurensius tanpa basa-basi.
Diskusi berjalan panas dengan rentetan pertanyaan kritis dari para mahasiswa yang hadir. Acara ini menjadi sinyal kuat bahwa dari sudut-sudut ruang kopi di Yogyakarta, gerakan pemuda masih konsisten menjadi pengawal kebijakan publik dan penyambung lidah rakyat.




