Fourtina II
Ada yang merayap di bawah langkahmu
Takdir-takdir kecil
Seumpama tahun yang ganjil, tergenapi
Ranum umurmu
Di dunia pasti, hanya satu yang patut abadi
Bekas senyummu itu
Padaku
Kemana kau ingin rampungkan pergi
Kemana kau hendak pulang
Selain pada tubuhmu
Sendiri
Saat kau melangkah
Takdir nakal
Mencubit kakimu
Menjelma tapak kursi
Surakarta
Dan tiada
September 30
Aku menemukanmu
Di memori ponsel yang hampir utuh
Photo buram, mengabadikan sejenak tatapan sekilas
Dirimu yang terpenjara lensa kamera
Diam, dan meredam segala suara
Mengusir bayang lain
Yang menempel di dinding kepala
Sebuah photo buram
Yang aku potong
Dari tangkai malam
Saat itu
Menandakan
Aku ingin hidup
Sekali
Di pelukmu
Benevingut
Selamat datang
Selamat berbelanja
“Ia mengambil selai coklat, sepotong roti dan pisau”
Selamat datang
Selamat makan
“Ia lapar”
Selamat datang
Oh bulan akan mati
Ia mulai tua
Sinarnya tinggal semeja




