Fatima Mernissi: Perempuan Bicara Perempuan

- Advertisement -

PILIHANRAKYAT.ID, Fatima Mernissi lahir pada tahun 1940 di Fez, Maroko. Selama hidupnya, ia habiskan di harem bersama ibu dan neneknya. Fatima kecil tidak mendapat kebebasan, ia dikurung di dalam rumah dan hanya sesekali mengintip dunia luar lewat celah jendela. Nasib Fatima ini, juga dialami oleh wanita lain di lingkungannya. Karena ia merasa terkungkung, seringkali menanyakan hal-hal tentang perempuan pada nenek dan ibunya.

Beruntung ia mempunyai seorang ibu yang pandai mendongeng, setiap ada waktu luang, ibunya selalu menceritakan kisah 1001 malam, dalam dongeng tersebut dikisahkan seorang wanita bernama Shahrezad yang mencoba menghindari kekejaman sang raja, Sultan Nebukadnedzar.

Shahrezad seorang wanita yang akan menjadi korban berikutnya dari kebiasaan aneh sang raja, diceritakan sang raja memiliki kebiasaan meniduri wanita yang berbeda setiap malam, dan setelah itu dibunuh. Pada giliran Shahrezad melayani raja, ia menawarkan dongeng yang sangat indah untuk raja, hingga pagi hari dan selalu bersambung pada hari berikutnya, dan karena Shahrezad raja senang dan menghilangkan kebiasaan anehnya tersebut. Ibu Fatima berpesan bahwa menjadi wanita itu harus cerdas, berpengatahuan luas dan tidak boleh dibawah hegemoni lelaki.

Ketika Fatima lahir, paham nasionalis di Maroko mulai menyebar, salah satu yang menjadi fokus negara ialah pendidikan. Fatima pernah mengutarakan jika ia lahir dua tahun  sebelum kelahirannya itu, maka cerita hidupnya akan berbeda, itu karena Maroko masih dibawah kekuasaan Perancis. Karena ada reformasi negara, Fatima mendapat pendidikan yang layak, bisa membaca dan menulis dan ia ketika tumbuh dewasa fokus mempelajari ilmu hadis.

Fatima tumbuh menjadi perempuan yang cerdas dan ia sering membaca literatur arab pada waktu itu, ia pernah berkata dalam bukunya The Veil and The Male Elite “Inspired by a fierce desire for knowledge, I read al-Thabari and the other writers, especially Ibn Hisyam, author Sira, Ibn Sa’d, author al-Tabaqat al-Kubra, al-Asqalani, author al-Isaba, and the Hadith collection of al-Bukhari and an-Nasa’I, all of this, in order to understand and clararify the mystery of the misogyny that muslim women have to confront even in the 1990s”. ia membaca banyak hadis dan sejarah untuk mengetahui dan mengkritisi teks atau tafsir agama tentang diskriminasi perempuan.

Fatima mengkaji gender melalui pendekatan Hermeneutik, ia mengkaji teks agama dan mulai mengkritisinya. Dalam teks induk (al-Qur’an dan Hadis) tidak ada keterangan tersurat mengenai diskriminasi perempuan, bagi Fatima perempuan diciptakan bukan sebagai properti atau pelengkap bagi laki-laki, asumsi ini berdasarkan ayat al-AQur’an yang menyetarakan kedudukan laki-laki dan perempuan. Seperti al-Hujurat: 13, al-Ahzab: 35, dan Ali Imron: 195. Penafsiran dan otoritas politik yang sensitif terhadap perempuan, membuat peran perempuan kian dinomorduakan.

Baca juga  Mengapa Orang Papua Marah Ke Pendatang?

Penafsiran gender Fatima menggunakan basis nilai Tauhid, Keadilan, Taqwa dan Kebaikan. Fatima menjelaskan jika seorang mufassir mempunyai jiwa yang empat itu, ia tidak akan melakukan penyimpangan, apalagi diskriminasi. Melihat tafsir agama seharusnya ia melakukan pendekatan sosio-historis, karena permasalahan islam abad ke-7 di Arab akan berbeda di abad ke-20 versi Fatimah.

Baca juga  Mendagri Meminta Memaksimalkan Aplikasi PeduliLindungi

Bagi Fatimah islam saat ini terbagi menjadi dua, yakni islam politis dan islam risalah, islam politis disuguhkan untuk menghegemoni kekuasaan lewat tafsir agama, dan tidak jarang perempuan mendapat diskriminasi, contoh tafsir qur’an yang dianggap terlalu patriarki, mengenai jumlah bidadari di surga. Menurut Imam al-Sindi bidadari si surga ada 73, suyuti berpendapat 70 dan imam al-Qadi mengatakan jumlah bidadari itu 4.900 setiap ranjangnya terdapat 70, Imam Bukhari pun ikut mengomentari, tapi lebih sopan, ia menyebut ada dua dan yang satu istrinya sendiri di dunia. Hal ini sungguh menyakitkan, bagaimana seorang penafsir hanya memikirkan dirinya sendiri tentang angan dan nafsunya tanpa memikirkan posisi perempuan di surga. Sedangkan jenis islam yang kedua yaitu islam risalah, islam yang seperti ini masih suci dan bebas dari kepentingan lelaki dan politik, untuk menggali informasi yang lebih jauh mengenai tafsir ini maka perlu ada penyetaran dalam menafsirkan suatu teks, yakni menghadirkan perempuan yang cerdas dan juga ahli di bidang tafsir.

Fatima kemudian banyak menulis tentang peran perempuan dalam sejarah, salah satu bukunya Al-Sultanat Al-Mansiyat, ia menulis biografi ratu islam yang dilupakan sejarah, diantaranya Sultanah Radhiyah (Delhi, 1236 M), Syajarah al-Dur (Mesir, 1250 M), Daulat Hatin binti Ya’qub Syah Jirmiyan (Utsmani, 1411 H), Turkhan Khatun, Abisha Khatun, (Persia, 1261-1287 M), Sultanah Shofiatuddin Syah, Nurul Alam Naqiyatuddin Syah, Inayah Syah Zakiatuddin Syah, Kamalat Syah (Aceh, 1641-1699 M) dan masih banyak lagi.

Istri nabi juga sangat berperan besar dalam kemajuan islam, Khadijah seorang konsultan dan pebisnis, Aisyah perempuan yang mempunyai intelektual tinggi dan meriwayatkan banyak hadis, dan Ummu Salamah wanita cantik, cerdas dan kritis itu dibuktikan dengan pertanyaan beliau yang menjadi asbabun nuzul al-Ahzab ayat 35.

Baca juga  Tahun Baru; Refleksi Membangun Jati Diri

Hadis misoginis yang menjadi perhatian lebih dari Fatima kemudian banyak dibicarakan dikalangan ulama, seperti hadis “anjing, keledai dan wanita akan membatalkan solat seseorang apabila melintas di depan mereka dan menyela dirinya antara orang-orang yang solat dengan kiblat”. Fatima meragukan hadis ini, sebabnya ialah si periwayat mempunyai riwayat hidup yang tergolong sentiment dan trauma terhadap wanita, yaitu Abu Hurairah.

Menurut riwayat lain seharusnya sebelum hadis itu ada tambahan, “celakalah orang yahudi yang menyatakan solat itu batal karena…”. Dan yang ditanyakan Fatima mengapa harus wanita?. Hadis lain yang dikritisi yakni “tidak akan jaya suatu kaum yang menyerahkan urusan pada perempuan”.menurut Fatima hadis tersebut harus ditinjau asbabul wurudnya, banyak kesalahpahaman, padahal hadis tersebut ditujukan untuk pemimpin Persia yang waktu itu perempuan dan menyobek surat dari nabi. Apakah pantas jika itu ditujukan untuk alat politis dan menjatuhkan perempuan modern?.

Baca juga  100 Hari Kerja Kabinet Indonesia Maju; Pecat Moeldoko Perusak Jokowi

Bagi Fatima untuk mengangkat derajat perempuan di era modern, terutama dalam agama islam perlu adanya persamaan hak untuk berpartisipasi aktif dalam membentuk budaya, hak untuk menjadi seorang mufassir atau ahli agama, dan hak dalam mengambil keputusan politik dan pembentukan hukum.

Fatima juga merekomendasikan penafsir teks induk untuk membaca secara holistik visi teks, mencoba menelusuri seluruh ayat al-Quran dan hadis yang berbicara tentang kesetaraan laki-laki perempuan dan ayat yang menolak, masing-masing teks yang pro dan kontra dikonfirmasi dan dicari relevansi serta validitasnya melalui analisis terhadap asbabun al-nuzulasbabul wurud, sosio-historis yang melengkapi, pribadi para penafsir, perawi, motif yang mempengaruhi maupun perkembangan per periode, serta menginvestigasi matan dan sanad.

Fatima ingin mengangkat derajat perempuan melalui kajian teks atau Hermeneutik, yang selama ini didominasi oleh penafsir laki-laki yang juga sensitif serta sentimen terhadap perempuan,  hal ini juga dilakukan oleh Julia Kristeva yang mengkritik lewat semiotika dan juga Asghar Ali Enginer tentang peran perempuan.

Pemikiran Fatima Mernissi menjadi rujukan dan pembahasan yang menarik dan memperkaya kita tentang kajian historis perempuan, terutama perempuan dalam Harem.

“Menulis berarti merayu, dan merayu itu lawan dari kekerasan”

(Tan Hamzah/PR.ID)

- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Kementrian ESDM Mengeluarkan Peta Rawan Bencana Gunung Semeru

PILIHANRAKYAT.ID, Dalam rangka mengurangi resiko bencana geologi khususnya akibat letusan Gunung Api Semeru, Badan Geologi, cq. Pusat...

Mendagri Minta Kepri Tetap Kendalikan Pandemi

PILIHANRAKYAT.ID, Batam - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meminta seluruh kepala daerah di Provinsi Kepulauan...

Sajak-sajak Salman Al-Madury

Rukun Rindu Setalah selesai menghitung waktujarak semakin merontaMenghendaki sebuah jumpa Maka...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

20 Besar Seyembara Buku Puisi HPI 2018

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) Maman S. Mahayana mewakili Dewan Juri yang lain hadir pada bincang-bincang Hari Puisi yakni Abdul Hadi...