PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Konflik di pucuk pimpinan Nahdlatul Ulama (NU) makin mengeras. Ketua Umum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf memastikan tidak akan mengundurkan diri meski Risalah Rapat Harian Syuriyah—yang ditandatangani Rais Aam KH Miftachul Akhyar—memintanya mundur dalam tiga hari. “Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur,” ujar Gus Yahya dalam pertemuan dengan PWNU se-Indonesia di Surabaya.
Risalah Syuriyah yang bocor ke publik itu menyulut spekulasi soal retaknya hubungan dua pucuk pimpinan NU. Namun Yahya menyebut risalah tersebut belum pernah ia terima dalam bentuk resmi. Ia juga mempertanyakan keabsahan dokumen yang beredar di media sosial karena tidak menggunakan tanda tangan digital sebagaimana lazimnya dokumen PBNU.
Dukungan terhadap Yahya justru datang dari para ketua PWNU. Dalam rapat koordinasi yang berlangsung hingga tengah malam, para pimpinan wilayah meminta ia tetap menuntaskan masa bakti lima tahunnya. Yahya menegaskan dirinya hanya menjalankan mandat Muktamar dan tak ingin mengambil keputusan berdasarkan tekanan opini.
Di tengah ketegangan itu, Yahya mengumumkan akan mengumpulkan para alim ulama dalam sebuah silaturahmi di Gedung PBNU, Jakarta. Menariknya, undangan ini disiapkan tanpa melibatkan Rais Aam. Langkah yang dibaca sebagai upaya mencari legitimasi moral sekaligus dukungan kiai sepuh di luar struktur yang kini tengah mempersoalkan posisinya.
Gus Yahya juga menepis isu dugaan aliran dana hingga ratusan miliar rupiah yang sebelumnya dikaitkan dengan konflik internal tersebut. “Tidak ada data yang jelas. Saya tidak akan menanggapi hal seperti itu,” katanya. Adapun ia mengklaim beberapa petinggi Syuriyah dan Rais Aam disebut telah menyesali desakan agar dirinya mundur—setelah mendengar penjelasan langsung mengenai dinamika organisasi.
Mesin PBNU kini berjalan dalam dua arah: Syuriyah yang menegaskan wewenangnya, dan Tanfidziyah yang menolak tunduk pada tekanan. Masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu kini bergantung pada apakah silaturahmi ulama malam ini meredakan atau justru memperdalam jurang perbedaan di antara dua pucuk kekuasaan NU.




