Oleh: Tan Hamzah
Hari Ibu
Hari punya Ibu namanya Ibu hari
Ibu punya hari
Dari senin sampai minggu
Semua milik Ibu
Ibu sayang semua hari
Tapi hari tidak selalu sayang Ibu
Hari baik, Ibu tersenyum
Hari buruk, Ibu tersenyum
Ibu tersenyum saat hari baik dan buruk
Suatu hari
Hari tidak ada kabar
Ibu telah tiada
Bu
Maukah kau kupanggil Ibu?
Ibu I
Piring pecah di dapur, Jari teriris pisau, Cucian numpuk, Bapak minta kopi, Lantai kotor.
Aku ingin sekolah
Ibu bangun paling pagi, mendahului matahari, kokok ayam jantan, dan tarhim, ke tungku
Memilah kayu bakar kering, keringat membasahi Ibu
Tiada hari cuti bagi Ibu, tiada libur untuk Ibu
Siang sedikit, ladang menunggu
Ibu jadi buruh
Ibu memburu upah
Upah menggaji aku
Aku iba pada Ibu
Ibu II
Ibuku, Ibumu, Ibu
Ibuku itu Ibumu
Ibumu ini Ibuku
Ibuku, Ibuku
Ibumu, Ibumu
Ibumu, Ibuku
Ibu Kita
Ibu kau dan aku
XX
Jogja kian lembab, kau tahu itu
Kau datang saat kota rembes,
Air tumpah, hujan tiba, macet
Malam larut dalam gelap
Gelap diam karena sunyi
Mengapa kau tak pecahkan semua itu
Disini tiada lagi yang tersisa
Kecuali puisi yang kau lahap separuh
Dan kopi setengah cangkir
Tapi musim tak begitu dingin
Dan resah tak pernah utuh
Ada laba-laba menenun rumah dekat rel kereta
Rumahnya ambruk dihempas angin
Ia tak ingin pergi, ia bangun rumah lagi




