Ibnu Burdah; Guru Besar dalam Bidang Kajian Dunia Arab dan Islam Kontemporer

Ibnu Burdah; Guru Besar dalam Bidang Kajian Dunia Arab dan Islam Kontemporer, (Foto: Istimewa)
Ibnu Burdah; Guru Besar dalam Bidang Kajian Dunia Arab dan Islam Kontemporer, (Foto: Istimewa)

PILIHANRAKYAT.ID, Yogyakarta-Kamis (3/9) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta melaksanakan Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Kajian Dunia Arab dan Islam Kontemporer, yaitu Prof. Dr. Ibnu Burdah, M.A. – Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, yang dilaksanakan di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga. Dalam seremonial pengukuhan guru besar kali ini, memang terasa sangat berbeda. Adanya COVID-19, menjadikan acara ini tidak dibuka untuk umum dengan kapasitas peserta yang banyak dan hanya dilakukan secara online melalui akun Youtube UIN Sunan Kalijaga. Upacara seremonial ini hanya dihadiri oleh pejabat-pejabat penting, seperti Rektor, Senat, Wakil Rektor, dan beberapa jajaran Dekan, serta Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya tanpa melupakan protokol yang telah diberlakukan untuk pencegahan penyebaran COVID-19.

Perjalanan Ibnu Burdah menjadi sangat menarik untuk dibahas sebagai cerminan yang dapat diambil nilai-nilai positifnya, sampai pada titik di mana Ibnu Burdah dikukuhkan sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Burdah lahir di Karangan, Trenggalek pada 3 Desember 1976 dari pasangan Kiai In’am Latief dan Hj. Murtini. Burdah dibesarkan dalam keluarga santri kampung petani, Ayahnya seorang petani, guru ngaji, dan imam masjid di kampung; begitu pun dengan Ibunya. Perjalanan hidup Burdah memang tidak semulus yang dibayangkan, untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi, Burdah harus bekerja keras menghidupi dirinya. Bukan hanya itu, Burdah merupakan sosok yang istimewa karena memiliki kecerdasan jauh di atas rata-rata.

Dalam orasi ilmiahnya hari ini, Burdah mengangkat tema yang cukup menarik, yaitu Quo Vadis Dunia Arab Kontemporer? Gerakan Protes, Politik Muslim, Covid-19, dan Arab Perubahan. Menurutnya, masyarakat dan politik dunia Arab mengalami berbagai perubahan, walaupun terasa begitu lamban dalam mengadaptasikannya.

Baca juga  CCF 2025, Ajang Kreativitas Warga Condong Meriahkan HUT RI

“Di tengah masyarakat Arab yang terus mengalami perubahan, seperti demokratis, semakin terbuka, adaptif dengan nilai-nilai progresif—kesetaraan, partisipasi, dan lainnya. Politik di dunia Arab terlalu lamban dalam menginstitusionalisasikan apa yang berkembang di masyarakat Arab itu sendiri. Pada titik inilah, sumbatan-sumbatan itu melahirkan gelombang yang masif dan mengundang keterlibatan banyak aktor dalam berbagai level dengan beragam kepentingan yang kemudian membawa dampak berkepanjangan,” tutur Ibnu Burdah.

Persoalan Timur Tengah memang tidak ada habisnya diperbincangkan, baik kalangan akademisi, cendekiawan, masyarakat awam, dan para agamawan yang merasa tersentuh hatinya ketika melihat, mendengar, dan mengetahui problematika yang ada di Timur Tengah. Hal itulah yang menjadikan banyak mata dan tangan untuk ikut peduli pada apa yang tengah terjadi di sana.

“Dengan dorongan pesatnya perkembangan teknologi informasi, khususnya media-media baru, tekanan perubahan itu semakin kuat. Tetapi, di sisi lain, upaya dari pihak-pihak yang tidak menginginkan perubahan juga tidak kalah besar, disertai dengan kemampuan resources mereka yang besar juga melibatkan institusi-institusi politik, militer, dan lainnya –termasuk di dalamnya menggunakan sarana-sarana demokratis untuk melawan proses pertumbuhan gagasan dan gerakan demokratisasi itu,” lanjut Burdah dalam orasi ilmiahnya.

Orasi ilmiah yang cukup panjang itu memberikan satu pemahaman baru tentang bagaimana kondisi politik, sosial, budaya, dan ekonomi Timur Tengah yang mengalami perubahan dan menunjukkan adanya dua sisi yang berbeda. Pertama, dengan adanya kecenderungan arus globalisasi, pembangunan, urbanisasi di Timur Tengah dapat memecahkan dan melahirkan pesimisme dalam menatap masa depan dunia Arab. Kedua, adanya globalisasi di dunia Arab malah menunjukkan arab sebaliknya yang cenderung menyatukan, merajut, dan menguatkan perpolitikan Timur Tengah.

Baca juga  Ketua KI Jatim Kagumi Kecerdasan Peserta Duta KIP PTN Nasional 2025

Setelah melakukan orasi ilmiah, Ketua Senat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. H. Siswanto Masruri, M.A. melakukan pengukuhan dengan mengalungkan samir kepada Prof. Dr. Ibnu Burdah, M.A. sebagai simbol telah resminya sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga. Kemudian, dilanjutkan dengan pemberian selamat dan foto bersama.

“UIN Sunan Kalijaga untuk bangsa, UIN Sunan Kalijaga untuk dunia! Ibnu Burdah merupakan sosok yang memiliki satu ideologi yang sama dengan saya. Tugas Prof. Burdah, sangat berat, yaitu harus dapat memahamkan kepada masyarakat Indonesia—khususnya yang masih begitu awam terhadap dunia Arab. Dunia Arab bukanlah Arab ketika Islam datang. Tetapi, dunia Arab begitu dinamis dan teologis. Masyarakat Indonesia, jika berbicara tentang Timur Tengah terlalu hitam putih, padahal pada dasarnya problematika Timur Tengah sangat begitu kompleks. Maka dari itu, tugas Prof. Burdah sebagai Guru Besar harus mampu mengajarkan ilmu pengetahuan, aktif dalam dunia research, dan tetap bersikap loyal pada UIN Sunan Kalijaga,” ucap Prof. Dr. Phil. Al Makin, M.A. dalam sambutannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *