Daerah  

Khofifah Dorong Ajang Talenta, Jatim Bidik Generasi Unggul

PILIHANRAKYAT.ID, Surabaya-Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mendorong penguatan Ajang Talenta Prestasi Murid Jawa Timur 2026 sebagai strategi membangun ekosistem pendidikan berbasis prestasi.

Ajang yang mulai digelar sejak awal April itu melibatkan ribuan siswa terbaik dari seluruh kabupaten/kota. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menempatkannya sebagai instrumen untuk menjaring sekaligus mengembangkan potensi pelajar secara terarah dan berkelanjutan.

Khofifah menilai, kompetisi tersebut bukan sekadar arena lomba, melainkan bagian dari desain besar pembinaan sumber daya manusia. Targetnya, melahirkan generasi yang mampu bersaing, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.

Baca juga  Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen, Warganet Masih Keluhkan Harga di Atas HET

“Ajang ini diharapkan melahirkan talenta-talenta berprestasi hingga level global,” ujarnya.

Selama ini, Jawa Timur tercatat konsisten meraih hasil tinggi dalam berbagai kompetisi nasional, seperti Olimpiade Sains Nasional, Olimpiade Olahraga Siswa Nasional, hingga Lomba Kompetensi Siswa. Capaian tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah daerah untuk kembali menargetkan posisi juara umum.

Di sisi lain, ajang talenta juga berfungsi sebagai jalur afirmasi bagi siswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Melalui skema Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), capaian siswa dapat menjadi salah satu tiket masuk perguruan tinggi negeri.

Baca juga  Jelang Konferwil, Keluarga Besar NU Jakarta Pusat Doakan Kiai Marullah

Data terbaru menunjukkan, puluhan ribu siswa Jawa Timur diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, provinsi ini juga mencatat jumlah penerima bantuan pendidikan tinggi yang signifikan.

Khofifah menegaskan, capaian tersebut menjadi indikator bahwa akses pendidikan tinggi semakin terbuka, termasuk bagi siswa dari keluarga prasejahtera.

“Tidak boleh ada anak Jawa Timur yang putus sekolah karena alasan ekonomi,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *