PILIHANRAKYAT.ID, Sumenep-Beberapa bulan mendatang akan menjadi detik-detik terakhir bagi seorang Abuya Busyro Karim sebagai kepala daerah, hal ini juga mengisyaratkann bahwa tampuk kepemimpinan di Sumenep yang selama 2 periode ini berada di bawah kendalinya akan segera berganti. Setelah 10 tahun menjadi orang nomor satu di Sumenep dan banyak menghabiskan waktu untuk mengabdikan dirinya bagi masyarakat, tentu Abuya–sapaan kharismatiknya– harus memilih jalan lain dalam meneruskan jalan pengabdiannya dan merelakan kursi kepemimpinannya untuk putra daerah yang lain.
Pelaksanaan Pilkada Sumenep 2020 yang sejatinya dilaksanakan pada bulan September mendatang harus ditunda akibat dari situasi global saat ini. Penundaan dari bulan September menjadi bulan Desember itu menjadikan beberapa proses teknis juga mengalami perubahan.
Sejauh ini hal yang sedang ditunggu dari proses Pilkada Sumenep 2020 adalah menanti kemunculan nama-nama yang akan memperebutkan kursi orang nomor satu di Sumenep. Untuk sementara, dari komunikasi yang dilakukan oleh partai yang sedang membangun koalisi terdapat empat nama yang digadang-gadang menjadi cabup-cawabup. Nama yang paling santer disebut adalah Ahmad Fauzi-Dewi Khalifah atau yang lebih akrab dengan panggilan Nyai Eva. Sedangkan lainnya, ada nama Fattah Jasin-Moh. Ali Fikri.
Pada gelaran Pilkada Sumenep 2010, saat Abuya Busyro Karim yang berpasangan dengan Soengkono Sidik merupakan tandem koalisi PKB-PDIP. Kala itu duet koalisi ini berhasil mengungguli koalisi PKNU-PBB yang mengusung Azasi Hasan dan Dewi Khalifah setelah pada putaran pertama mengeliminasi beberapa calon lainnya. Koalisi PKB-PDIP berlanjut pada Pilkada Sumenep 2015, dengan statusnya sebagai petahanan Abuya kembali menggandeng kader PDIP Sumenep yaitu Ahmad Fauzi. Dukungan 8 parpol yang mengusung Zainal Abidin-Dewi Khalifah saat itu tidak dapat menggulingkan kekuatan 2 partai pengusung utama tersebut.
Dalam perjalanan politik di Sumenep banyak kalangan yang menganggap bahwa duet PKB-PDIP ini merepresentasikan kekuatan nasionalis-religius, sehingga adaptasi citra politiknya terhadap masyarakat Sumenep dipermak dengan paduan ulama’ dan umara’ yang mampu membawa kesejahteraan masyarakat. Namun disisi lain, kekuatan basis sosial dan kekuatan modal kapital adalah hal yang tidak dapat dipungkiri dalam praktik politik masyarakat dewasa ini. Sehingga paduan dua partai ini cukup mendominasi Pilkada Sumenep selama 2 periode terakhir.
PDIP yang memberikan surat rekomendasi kepada Ahmad Fauzi dan memilih untuk menggandeng Dewi Khalifah sebagai wakilnya adalah langkah yang paling realistis. Sebagai ketua Muslimat NU Sumenep dengan kekuatan basis sosialnya sempat menjadi penantang serius dalam 2 periode Pilkada Sumenep yang lalu.
Sedangkan PKB yang sempat melakukan penjaringan bakal calon Bupati akhirnya memberikan surat rekomendasi pada Fattah Jasin, dengan wakilnya Moh. Ali Fikri. Sebagaimana yang dilakukan PDIP dengan menggandeng tokoh ormas, PKB juga memilih untuk menyanding seorang Birokrat dengan seorang ulama’ muda. Moh. Ali Fikri merupakan putra dari salah seorang kyai organisatoris yang namanya masyhur di tengah masyarakat Sumenep, yakni Kyai Warist Ilyas. Dengan modal sosial ini, PKB tentu tidak sembarangan mengkalkulasi hitungan politiknya.
Hal yang menarik dari kondisi terkini Pilkada Sumenep 2020 ini adalah bubarnya koalisi “Semangka”, yakni PKB-PDIP yang selama 10 tahun mengantarkan Abuya Busyro Karim dan pasangannya meraih kemenangan.
Citra politik dengan paduan kekharismatikan tokoh agama yang telah berkembang di Sumenep selama beberapa waktu ini pastinya akan terus berlanjut. Peran kuat para tokoh yang memiliki basis besar dalam arus masyarakat bawah tetap menjadi incaran masing-masing partai pengusung calon nantinya. Peranan para tokoh agama, ormas keagamaan, serta pesantren-pesantren dengan jaringan alumninya akan kembali digunakan sebagai mesin politik.
Dengan bubarnya koalisi “Semangka” ini, akan menjadi hal menarik untuk menakar kekuatan masing-masing partai dengan mesin politiknya yang akan bekerja. Tokoh-tokoh agama dan ormas keagamaannya akan kembali berperan, jaringan-jaringan alumni pesantren di akar rumput tentu akan ikut andil merancang strategi pemenangan. Dan mungkin yang tidak bisa dilepaskan dari pertarungam politik adalah modal kapital untuk memperlancar logistik politik.
(Moh. Syauqi Fath/PR.ID)




