Minggu, 17 Juni 2015/ 14:22
Sebentar lagi sore akan turun. Aku telat bangun tidur hari ini. Benerapa jam yang lalu aku baru duduk di kursi panjang warung kopi ini. Setelah menemui La Noche bersama cintaku.
Cintaku datang tadi malam sewaktu aku duduk di warung kopi ini untuk yang kedua hari kemarin. Aku pulang ke kontrakan menemui cintaku. Ada rindu yang tumpah. Aku bicara dan menyodorkan buku catatan ini. La Noche kuceritakan pada cintaku.
Beberapa menit kemudian, seseorang meminta aku untuk ke warung kopi ini lagi untuk yang ketiga. Aku bicarakan pada cintaku. Dia lelah rupanya. Dia tidur. Aku berangkat. Di warung kopi ini aku dipanggil seseorang, bukan dia yang memintaku datang kesini. Aku samperin dia, ya seorang sahabat lama yang pernah memint dibuatkan puisi di hari ia diwisuda. Aku senang bisa berjumpa lagi dengannya.
![]() |
| Gambar “La Noche”, Marmut Piaraan |
Beberapa menit kemudian, setelah berbincang tentang masa lalu dan sedikit bicara demi masa depan aku pindah tempat, menemui teman yang lain. Dan pindah lagi, lalu pulang. Tidur.
Menulis catatan ini lagi, di warung kopi ini lagi. Catatan cinta yang belajar mencari kebijaksanaan berkehidupab. Di sini sulit mencari hidup yang ditumbuhi benih-benih cinta antar sesama. Mata-mata mereka menudungkangkan tatap kecurigaan satu sama lain. Percakapan mereka selalu remang selalu remang sambil sesekali memecahkan tawa keras yang berarti intrik gombal dan kekanakan. Begitulah sederhananya lingkungan hidup di sini.
Kesinilah sebentar, duduk tenang, lalu perhatikan tiap-tiap bangku yang diduduki sedikitnya dua orang dan selebihnya berbanyak orang. Mereka bersaudara. Mereka dama-sama sedang merumuskan keadaan untuk mencapai keinginan mereka, entah itu hasrat atau ambisi. Masih ambigu rasa-rasanya. Aku bagian dari mereka. Cintakh termasuk di dalamnya. Aku suka dan aku merasa hidup dalam kematian bersama mereka.
Namun aku merasa itu telah membuat aku ada dan bisa melahirkan catatan ini. Catatan cinta seorang aktivis gombal. Mereka para pecandu kopi. Pecandu konflik. Pecandu intrik. Dan para pembual yang luar biasa. Aku ternasuk dari mereka. Oleh sebabnya aku berani bicara tentang mereka. Namun aku tidK akan menguraikannya di sini. Dadaku sudah teramat sesak di isi percakapan-percakapan beracun dari bibir mereka. Lidah mereka ditumbuhi jarum dan membentuk pisau pemotong buah. Lidah itu tajam.
Pikiranku sungguh sumpek oleh pikiran-pikiran mereka yang tumpang tindih. Pikiran yang berpotensi untuk menghunus saudaranya sendiri. Pikiran yang sehitam kopi. Pikiran absurd antara manis dan pahit. Pikiran yang senantiasa tumpah dari meja ke meja bersama gelak tawa yang congkak di warung kopi ini.
Senyuman mereka tidak jarang menakutkan dan penuh ketegangan yang merisaukan. Sungguh. SituSi dan kondisi di sini selalu dipenuhi oleh kepura-puraan. Yang hadir bukan mereka dengan fitrahnya. Di sini bukan dunia mereka yang sebenarnya. Mereka sedang bersandiwara di sini. Siapa yang gugup dan kaku, dia akan tidah betah bertahan di meja ini. Kursi-kursinya selalu terasa panas.
Perhatikan dengan pelan. Siapa yang datang itu. Siapa di meja-meja itu. Jangan sesekali untuk curiga. Bacalah saja.
***
17:18
Kemudian aku pulang setelah selesai menulis catatan di warung kopi. Pulang sebab vintaku sudah bosan. Sebosan aku duduk di antara mereka yang nikmat bicara tentang negara, ideologi, dan idealisme. Sementara aku, hanya akan berkata, sastra selalu penting buat kehidupan. Sejak dulu dan sekarang sampai entah kapan.
Aku pulang. Aku sudah di kontrakan. Ketemu dengan mereka yang berwajah lugu dan tanpak selalu jujur. Di sini, rumah para seniman. Di sini sedang ada masak-masak bersama untuk makan siang plus sarapan.
Cintaku, aku minta untuk membantu masak lauk-pauk. Kaum pria yang berambut panjang, baca buku, main guitar, menulis, dan ada yang main dengan Pablo. Aku masuk kamar, ambil novel karangan Afrizal Malna. Aku baca, lalu bosan. Aku tutup buku. Aku menulis catatan harian dari buku harian ke komputer. Aku nukmat oleh aktivitasvsemacam itu. Dalam catatan ada cintaku, yang sekarang sedang masak. Kemudin beberapa menit kemudin, kami sekeluarga makan siang plus sarapan di sore hari. Pablo juga makan.
Makan siang yang tidak biasa. Kami menikmati makan siang di sore hari penuh sanjungan. Puitis. Makan siang yang berarti semangat. Makan siang yang menjadi pemantik senyum untuk berkumpul setelah makan. Kami sore ini akan melaksanakan diskusi sastra: Aliran-aliran sastra mutakhir. Setelah makan usai aku kembali ke kamar. Menulis catatan lagi.
Beberapa menit kemudian, panggilan hadir. Diskusi akan dimulai. Kami berkumpul di tempat kami selalu makan bersama. Canda tawa senantiasa tumpah.
Di tengah ketawa ria penuh dusta. Aku bicara. Bercanda semi serius. Aku jadi modetator. Beginilah aku yang kurang serius berkehidupan bila dalam berbicara. Aku membuka diskusi dengan membicarakan sedikit bualan-bualan yang memantik canda tawa.
Aku persilahkan lurah komunitas Masyarakat Bawah Pohon untuk memberikan semacam pembuka perbincangan dari diskusi rutin kali ini. “Selesai, terima kasih.” Pak lurah mengakhiri. Aku mempersilahkan pemantik untuk memaparkan hal-hal menyangkut topik perbincangan.
Aku “penyair”, aku “seniman”, aku “sastrawan”, dan aku “diriku sendiri”. Aku tak begitu banyak berpikir tentang masa lalu sastra. Aku hanya menulis pengalaman pribadi dan menulis apa yang aku lihat. Entah itu menjadi puisi, cerpen, catatan harian, atau hanya akan menjadi modal untuk bahan membual pada orang-orang gerakan yang kutemui.
“Aliran sastra tidak perlu dipersoalkan, bebas mengikutu aliran yang ada atau ingin membuat aliran sendiri.” Begitu kira-kira, aku sepakat.
Lalu, bagaimana aliran sastra mutakhir itu mengalir, masih adakah sastra di tengah persoalan yang terjadi du dakam masyarakat? Aku semacam tidak acuh dengan sedikitnya dua kalimat tanya tetsebut. Dan entahlah. Aku hanya menulus. Dan akan terus menulis.
Dan catatan ini, tidak sedang mencatat perjalanan diskusi yang sedang mengakir. Aku hanya menulis untuk mengingat ini kemudian. Aku menulis karena aku tidak bisa untuk tidak menulis. Aku seolah terprovokasi oleh orang-orang yang hidup sebelumnya, di masa lalu. Aku menulis untuk diriku sendiri. Aku juga yakin dan yakin jika tulisan yang bisa mengabadikanku. Sampai hanya di hari kiamat. Sastra. Aliran sastra. Periode sastra. Dan pelaku sastra. Di sini memjadi absurd dan ambigue. Tetapi aku hanya merasa kalau aku hadir di sini masih menulis catatan dan menjadi moderator.
Diskusi terus mengalir. Bicara sastra dan sebangsanya. Mengurai-menyatakan-menanyakan, dan kemudian tertawa. Aku juga tertawa lalu menulis lagi. Benar kemudian, catatan ini hidup jika catatan ini menyimpan satu gagasan atau lebih. Sebagaimana karua sastra. Sastra, sesederhana apapun itu adanya, jika masih mengusung satu gagasan. Sastra menjadi sangat penting. Maka gugurlah slogan yang mengatakan bahwa sastrawan adalah pembohong atau karya sastra itu bohong.
Aku juga tidak terlalu hirau dengan kata BOHONG itu. Aku menulis saja. Mwreka mungkin juga begini dan begitu. Jika di sini “sastra” ada benih-benih persoalan, aku belum menemukannya. Tentang aliran-aliran sastta itu aku hanya bicara sebagai moderator. Tentang tanggung jawab sebagai penyair atau penulis sastra, aku masih belajar berkarya dengan penuh penghayatan atas realitas. Tentang fenomena di dunua cyber, aku masih mengikuti perkembangannya. Dan catatan ini, aku masih menuliskannya.
Bersambung…. baca selanjutnya…. #13
Selendang Sulaiman, nama pena dari Achmad Sulaiman. Penyair, Blogger, Notulen, dan Konsultan Cinta di Warung-warung Kopi. Karyanya telah tersebar banyak di Media Massa baik Lokal maupun Nasional. Kini bermukim di Yogyakarta.


