NYANYIAN UNTUK TUHAN
Mari hatiku, segera kenakan gaunmu
yang telah engkau tenun di sepertiga malam
dengan pernak pernik air mata
yang engkau pasang ke sepanjang gaun itu atas nama cinta.
Bergegaslah ke panggung kehidupSan,
dimana tuhan yang akan kau persembahkan
lagumu telah duduk di kursi paling depan
sedari tadi sebelum menjelang petang.
Di sisi kanan dan kirinya,
seluruh malaikat mengheningkan cipta
dalam gema gema doa
Hembuskan nafasmu ke hadapanNya
agar menyatu dengan firman
yang senantiasa berdebar di dada musim.
Yogyakarta, 2017
SECAWAN LUKA
Aku akan menjamumu secawan luka
yang telah renta di dada.
Dalam kesunyian yang tak dipinta,
mari teguk kepedihan agar kehidupan selanjutnya,
engkau telah mengosongkan beberapa gelas penderitaan.
Sedang di cawan cawan berikutnya
hanya berisi beberapa kebahagiaan
yang dihijrahkan oleh air mata.
Nikmati pekatnya dengan penuh cinta
sampai dititik penghabisan,
bahkan tak ada sisa yang kau tinggalkan.
Sebab dari kumpulan takdir
yang bertapa disana
akan melarut ke dadamu dengan doa,
dan hatimu mendesah puas tanpa batas
Yogyakarta, 2016
KEKALAHAN
Kekalahan,
engkau boleh mencengkramku dengan luka yang dalam,
serukan bahwa aku tak lebih dari pecundang
dan tertawalah dalam semangatku
yang tak pernah padam.
Tetapi disitu pula,
aku akan menaklukkan dunia di keningmu
setajam duri rukam,
seluas impian dan seindah kegagalan.
Penuhi jiwamu
dengan minuman penyesalan
sampai tak merasakan apapun
selain kepuasan.
Dan aku tak akan melarang
ataupun membinasakan.
Sebab dengan perlahan,
tekadku akan mencuri takdir tuhan
dengan niat dan kesungguhan.
Kemudian lihat mataku yang nyala.
Disitu aku menanggalkan sejarah,
jauh sebelum kekejaman
yang mencekikku di perjalanan,
ibu telah memberkatiku dengan doa.
Kekalahan,
dengar hembusan nyawa
yang tersisa dalam jiwa
dan perhatikan setiap suara palling lirih disana.
Sampai engkau benar benar paham
bahwa sebenarnya keberhasilanku akan segera terjaga.
Yogyakarta, 2016
ANAK ANGIN
Engkau anak angin
yang Tuhan utus untuk merajai tumbuhan
dan daun daun
dimana saat suaramu menggema,
mereka tanpa diminta,
akan menari tanpa lelah.
Setiap pagi, setiap engkau membangunkan
burung burung di dahan
untuk menyambut matahari.
setiap engkau membangunkan
burung burung di dahan
untuk menyambut matahari.
Mereka akan menyalamiku
di paras bumi.
Bahkan engkau akan dipersembahkan
bermacam aroma kembang dan aneka buah matang.
Keadilan yang disandangkan di jiwamu
selalu mengagumkan sepanjang musim
berupa asap yang kau bawa bila musim dingin tiba,
berupa desiran lembut
yang kau kirim ke seluruh jiwa
yang ingin ketika panas bertandang.
SEHARIAN DI STASIUN KATA
Pagi,
hatiku telah bergegas
pergi ke sebuah kota,
dimana jiwaku mengasingkan diri.
Ia melangkah
ke sebuah stasiun di depannya
lalu, mendekati sebuah kereta
jurusan luka.
Barangkali kemarahan
telah membawanya ke rumah kesunyian,
kemudian ia akan mengajaknya kembali.
Tetapi setelah tiba dipintu,
penumpang ribut dengan cerita mereka
tentang kota luka
yang penghuninya adalah jiwa keributan
yang hari dan malamnya penuh raung kepedihan.
Sedang jiwaku
tak suka gema keramaian
dari segala bentuk kesedihan ataupun kebahagiaan.
Beberapa jam berlalu,
aku mendatangi kereta baru,
kutanya mereka yang hendak masuk disitu,
tempat mana yang hendak dituju.
Kemudian mereka menjawab
bahwa jurusan menuju ke kota kesenangan,
dimana penduduknya adalah orang orang biijak
yang diam dan merayakan beberapa tawa
dengan tarian tarian sepi yang mencekam,
yang hanya dinyanyikan diri dan untuk sendiri.
Tapi itu keadaan
yang jiwaku tak butuh senang berlebihan.
Hingga akhirnya,
hatiku menulis seluruh kehidupan jiwa
yang ia tanggalkan seluruh keinginannya
di stasiun kata berupa doa doa
Yogyakarta, 2019
*Misnama Panabasen, Adalah Mahasiswa Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Telah Menulis Diberbagai Media Lokal dan Nasional.




