Cerpen  

Percakapan Senja yang Patah

Fiksi Mini: Didik Hariyanto 

Menjelang senja sesuatu terjadi dalam sekejap rasa dan prasangka yang menjalar ke syaraf-syaraf otak. Tak berhenti menusuk-nusuk pikiran dan perasaan. Semacam ada luka semacam nyeri akan muntah menyentuh tanah, atau keceriaan senja telah menyulut kesedihan di hatinya atau hatiku yang tak berperasaan. Tetapi percakapan dengan jarak jangkau firasat, sesuatu menjadi berarti dalam setiap kalimat dan risalah tanpa peduli benar dan salah. Mengalir saja, semacam sungai yang direnangi ikan liar.

Aku duduk tertegun mengingat-ingat kembali sekian peristiwa yang menegangkan perasaan dan pikiranku beberapa hari ini. Sebagai aktivis mahasiswa yang berteman dengan jalan raya dan tidak jarang terjadi baku hantam dengan aparat keamanan. Aku lelah dengan semua ini. Lelah bermain akrobat pemikiran ditiap diskusi-diskusi kebangsaan dan issue-issue aktual yang diberitakan di media massa. Aku benar-benar lelah dengan segala aktivitas yang tidak jarang bertentangan dengan hati nurani.

Sumber Gambar: Sketasa Mujibur Rohman 
Judul “Pasrah” EB on Paper,  
via : http://www.facebook.com/rahmanovic.barcelonista

Hati nurani, tepatnya perasaan yang peka terhadap keluh kesah masyarakat miskin kota di kota gudeg yang damai ini. Aku dan juga mereka yang sama-sama mengepalkan tangan di jalanan dan mengibarkan bendera di siang bolong, tak lebih dari seorang pemain drama jalanan atau hanya mencari sensasi, atau demi sekedar menjaga eksistensi seorang aktivis sejati.

Sebaimana senja ini. Saga warnanya. Merah mataku. Legam kulitku sisa sengat mentari sesiang tadi. Tercenung di atas kursi panjang di blandongan, warung kopi yang memiliki slogan “Jangan biarkan anak bangsa kekurangan kopi”. Persis dengan slogan yang senantiasa kami suarakan dengan megaphone, “Jangan biarkan anak bangsa tidak mengenyam pendidikan”.

Senja. Lagi-lagi senja yang menyaksikan kebingungan demi kebingunganku di blandongan. Padahal, di warung kopi ini, ramai sekali dan teman-teman aktivis pada bereuforia bersama disini. Namun, aku heran dengan perasaan dan pikiranku. Kacau balau, galau bukan kepalang. Hem, sebentar aku tersenyum sendiri, saat terlintas perempuan dengan perlengkapan wawancara. Ya, perempuan itu, reporter itu hadir dalam kebingunganku senja ini. Entahlah, dia hadir sebagai perempuan bukan wartawan. Aku mengenali rupanya.

Dan, handphoneku berdering. Sms masuk. “Ya Allah, berikanlah Rahmat dan Anugrah-Mu pada sahabatku ini. Jadikanlah ia sebagai pribadi yang unggul dan selalu sukses. Selamat beraktivitas. Salam!” Hanya teman seperjuangan sewaktu sama-sama jadi loper koran tiga tahun silam. Entah apa maksud dari sms-nya. Aku tak berpikir panjang untuk membalasnya.

“Sebab setiap doa adalah cita-cita dan cita-cita adalah bunga-bunga mimpi. Maka doa dan cita-citamu akan aku bingkai dengan bunga-bunga di kebun cintaku, pun senja turut mendoakanmu, kekasih bangsa.” Aku hanya tersenyum ringan. Serasa hilang kegalauan yang menggungcang senjaku dan ingatanku pada perempuan itu, reporter itu.

 “Kita adalah api dan hujan yang diimpikan oleh angin.” Dia balas sms-ku lagi. Aku kurang mengerti. Entah dia. Mungkin hanya prasangkaku saja. Ya, ketidakmengertian ini, menuntun jemariku untuk membalas sms-nya.

“Dan angin adalah kita yang akan memusnahkan api dan hujan.”

“Langit punya hujan dan bumi punya api. Lalu kita punya apa? Padahal langit, bumi, bahkan api dan hujan dicipta untuk kita.” Balasku, barangkali aku bertanya untuk kebingunganku sendiri.

“Kita boleh meleburkannya: langit dan bumi atas api dan hujannya, dengan angin yang begitu liarnya menjadi kekuatan kita atas segala kekuatan doa.”

“Tapi bergabung bukan berarti meleburkan.”

“Anggap saja membenturkan, biar hablur tak tersisa, maka kehidupan sempurna menjadi permainan yang indah.” Kembali aku membalas sms-nya. Dia diam barangkali. Tak membalas sms-ku lagi. Aku diam untuk mengingat-ingat yang datang dan yang pergi. Sebagaimana perempuan itu, reporter itu, dia datang dan pergi siang tadi di tengah aksi mahasiswa di simpang tiga perlawanan, di depan KFC samping kampus putih berwarna orange.

Senja yang berakhir indah. Dan bersambung dalam pikiran masing-masing. Pikiranku yang entah, pikiran teman yang tiba-tiba tak membalas sms, atau pikiran perempuan itu, reporter itu. Entahlah.

Senja berakhir indah di mataku. Senja yang mengingatkan warna kulit wajah reporter itu. Ya, perempuan pemilik senyum tipis dengan keringat kening yang sungai kecil mengalir di siang membakar. Senja ini, yang mengikis kebingungan dengan percakapan yang patah dan ingatan yang pecah.

Senja, warna jingga yang lahir dalam ingatanku, tentang perempuan itu.

“Dimanakah kita akan bertemu lagi?” Bisikku sebelum dia pergi.

“Di tempat yang kau ingini, carilah kabar tentangku, aku menunggumu,” balasnya. Dia meninggalkan senyum, aku mengantarnya dengan kenangan.

2015

Didik Hariyanto, Mahasiswa Aktif di salah satu Kampus Negeri di Yogyakarta Angkatan 2014. Kini Aktif mengelola Komunitas Mahasiswa Peduli (KMP) sebagai anggota biasa yang masih belajar menjadi pembaca dan penulis yang baik. Sehari-hari banyak menghabiskan waktu membaca di warung kopi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *