Aku membuka pembincangan seraya meletakkan ransel di kursi ketika Dige duduk lalu menatapku. Ia tersenyum. Senyum pelenyap suara bising di langit-langit Blandongan. Sambari menunggu pesanan datang, kami meletakkan sebungkus rokok bersamaan, mengambil sebatang dan menyulutnya yang nyaris bersamaan pula. Kami pun terhenti dalam tatap yang bertemu seperti sedang bercermin.
Kami memulai percakapan dengan basa-basi. Membicarakan sesuatu yang ringan-ringan; perihal nomor handphone-nya yang sering ganti, tentang kenapa kami bertemu tanpa janji, dan hal ihwal pilihan tempat kami bertemu. Sampai kami sama-sama sadar, jika obrolan kami sekedar menuai keakraban yang pasang surut. Kami tertawa mengikuti arah perbincangan yang terkesan dibuat-buat lucu.
![]() |
|
Sumber Gambar: Sketasa Mujibur Rohman
Judul “Dukana” via : http://www.facebook.com/rahmanovic.barcelonista
|
Sesekali, di menit-menit awal perjumpaan, mata kami mengisayaratkan kekikukkanku di auranya yang penuh tanda tanya. Dia memiliki kecantikan yang bening dan murni. Kecantikan yang senantiasa aku simpan dalam imajinasiku. Meski semua orang di Blandongan mengetahui itu. Tetapi mereka tidak akan pernah tahu, sisi cantiknya yang murni. Sebab jika dia memang cantik, itu harus terucap dari bibirku.
Pelayan lelaki dengan rambut ikal panjang yang kukenal mengantar pesanan kami. Kopi “manis” secangkir untukku dan kopi “semi-manis” untuknya. Minuman kami hampir sama. Hanya takaran gula yang membedakannya. Sebagaimana kadar perasaan kami yang hampir bertemu tetapi tidak kunjung nyata.
“Berapa jarak dan waktu yang kita butuhkan dari pintu masuk sampai ke kasir?” Aku bertanya padanya sebelum keseruput kopiku.
“Kemudian memesan minuman dan mencari tempat duduk, hingga percakapan dimulai?” Lanjutku setelah dia menyeduh kopinya yang masih panas. Kami saling bertanya untuk menjawab durasi pertemuan ganjil yang asing bagi meraka, para aktivis mahasiswa di Blandongan yang duduk ber-jam-jam tanpa aktivitas berarti. Kosong sampai kopi tinggal dedak. Dan waktu kian kental di meja tanpa televisi.
“10 menit kurang lebih!” Tebakku yang berlanjut dengan anggukannya seiring mata mungilnya yang berkedip tajam. Sepasang mata sipit yang senantiasa bergetar menyimpan tatapan lekat dan padat di awal pertemuan, di awal percakapan. Sebagaimana beberapa tahun lalu yang bercerita tentang hujan deras sore hari dan kami terjebak di kantin kampus yang sepi. Sejak itu aku menemukan cahaya bening di ke dalamannya yang kurahasiakan dari lelaki-lelaki yang memujanya.
Malam itu kami masih sebagai sepasang teman karib yang tak benar-benar akrab. Tetapi kami sepakat bahwa kamilah kekasih gelap yang damai meski sama-sama memiliki pasangan di tempat yang lain.
“Apa yang menarik dibicarakan untuk memulai percakapan asing dan jarang terjadi: pertemuan yang entah dipertemuakn oleh rasa rindu?” Basa-basiku berlanjut menceritakan perihal kenapa pertemuan kami terjadi di Blandongan. Bahkan aku tak dapat membayangkan saat di pintu masuk, lelaki yang mengantarnya ke Blandongan tak lain adalah kekasihnya. Lelaki yang kukenal dekat menitip kekasihnya padaku, mungkin untuk pertemuan kami malam itu saja.
“Oh iya, yang tadi nomormu yang baru?” Aku bertanya sambil memikirkan sesuatu yang menyebabkan nomor handphonenya ganti lagi.
“Iya, senganja aku ganti kartu dan tentu aku mengabarimu!” Jawabnya tenang sambil merapikan rambut yang tergerai lembut menjadi tirai di belahan dadanya.
“Kuharap selalu begitu, sampai aku sempat punya tiga nomormu dan entah yang mana yang aktif.” Lalu pikiranku berkata, tentu Ia menjadi korban kata-kata gombal para lelaki penggoda yang ular air.
“Tapi aku hanya selalu punya satu kartu aktif. Beli yang baru dan yang lama dibuang.”
“Dan sepertinya sudah ganti lima kali, sejak kita berteman empat tahun lalu.” Tukasku sambil mengikuti gerak jemarinya menyisir rambut hitam ikalnya ke balik pundak lalu kembali menutupi dada yang seksi.
“Ehm… Tepat sekali. Atau bahkan lebih.” Ia memotong dengan tawa tipis yang selalu kusuka. Lalu menyalakan rokok di bibirnya lagi.
“Kenapa bisa begitu? Seberapa banyak-kah lelaki yang terpesona pada cantikmu?”
“Kurasa itu tak penting untuk kita bahas di sini!” Bantahnya dengan nada dan gaya ucap profesional dan proporsional, seraya menyemburkan asap rokok ke langit kepalaku.
“Baiklah, maaf aku sedang kelepasan kata.” Ia menunduk sebentar kemudian menghisap nikotin dalam-dalam lewat bibirnya yang ranum. Lalu kusudorkan padanya buku harianku: catatan janji nonton teater “Sinbad Pelayaran Ketujuh di Taman Budaya”. Ia mengmbilnya dari tanganku dengan tatapan manis dan nyaris membunuhku.
“Tentang kita atau tentang pertunjukan teater?” Tanyanya nikmat.
“Kita. Inginku menulis puisi. Tetapi itu tidak terjadi. Sebab aku merasa tidak bisa menulis puisi mesra untukmu. Karena kamu sudah indah tanpa puisi.” Kutangkap wajahnya penuh senyum suka. Kurasa Ia akan menyanjungku. Tetapi tidak. Dan aku sudah maklum dengan cara ia memikatku sejak dulu.
Dige membacanya dan aku memperhatikannya dekat sekali. Sungguh lekat dan padat. Sedangkan mataku membaca wajahnya: sepasang bola mata yang menagih rasa manisnya bertatapan. Bibirnya yang dibingkai dengan kedua belah pipi yang lembab isi buah apel.
“Aku baru sadar jika suasananya mengesankan sekali katika itu. Aku sudah hampir melupakannya dan catatanmu ini, hidup sekali. Aku seperti sedang mengalaminya lagi dalam sesaat bersamamu dan ingin mengulangnya lagi. Sungguh!”
Hampir aku tak percaya. Mujur tak sampai aku lepas kendali untuk tak berdaya. Bibirku masih senyum semitris yang mendekati kekecewaan tragis. Jika tiba-tiba aku terpikat dengan caranya bermain kedip dan asap rokok yang seolah menawarkan kopi “semi-manis”-nya yang wangi hingga ke dinding hidungku. Amboi. Minyak wangi yang timbul dari peluh murninya membongkar isi dadaku yang penuh sampah kata-kata beracun ular daun. Percakapan kami mengalir di sungai puisi dan prosa yang sukar dipahami. Sesekali saling menyemburkan asap rokok dan memperhatikan meja-meja lain yang penuh asap dan tawa dari bibir aktivis intrik warung kopi. Musik dari ruang kasir terdengar mesra yang lebih sering hanya terdengar kacau. Kami hampir tak memperdulikan segala di luar kami. Sementara mereka yang mengenal kamimemperhatikan cara kami mempertemukan mata dan saling menimpali dalam bicara. Tatapan mereka penuh awas. Tetapi kami yang mengerti memilih tidak peduli.
Percakapan kami sudah pergi kemana-mana; ke toko buku, ke dalam buku, ke kehidupan para pengarang besar dunia, dan ke dalam perjalanan cinta yang kami miliki dalam imajinasi. Semakin jauh kami mebicarakan hal-hal tak beraturan, hisapan dan hembusan asap rokok di bibir kami semakin cepat. Entah kami sedang merumuskan tema yang mana. Toh, sebenarnya kami bertemu untuk saling menukar rasa rindu dan mencairkan percakapan yang lama dibekukan. Yang tetap saja adalah kecantikannya yang santun.
“Percakapan ada tiga tingkatan: ringan, sedang dan berat.” Ungkapnya tumpah bersama aroma kopi dari bibirnya, memicu otakku kanan-kiri. Entah kemana arah maksudnya. Aku tak sanggup membayangkan jika ucapnya adalah suara dari tipe recorder yang ia putar. Aku terhenti memikirkan diriku sendiri dan kecantikannya, tepat saat ia mengevaluasi gosip yang bergulir di di Blandongan lewat mulut-mulut penuh dusta para aktivis, yang selalu saja membawa-bawa namanya. Entah apakah ia juga menuduhku begitu. Sepertinya ia masih ragu untuk itu. Lantaran matanya yang mengandung zat alkohol menepis kecurigaanku sendiri yang berlebihan. Sederhanya karena ia sedang bicara denganku. Dan benar terasa, bahwa kalimatnya yang bijak itu menyembuhkanku dari risau yang memisau.
“Ya, semacam klasifikasi percakapan bagi orang-orang yang berpengetahuan dan tahu cara menghargai waktu.” Sambungku dingin.
“Tentu bukan soal idealitas, pragmatis dan masalah untung rugi dalam melakukan percakapan dengan seseorang saat pertemuan terjadi tanpa janji.” Tatapku ia tangkap penuh rengkuh yang dalam.
“Demikianlah kiranya.” Tanggapku tanpa niat menutup percakapan yang mulai menggurui itu. Beruntung kami saling mengerti satu sama lain. Seperti sedang mencari jalan untuk pertemuan asing yang lain di Blandongan lagi.
***
Malam turun perlahan bersama musik campuran yang diputar oleh operator. Musik dan iramanya berseteru dengan tawa bahak aktivis yang menertawakan gosip terhangat malam itu. Sedang kami sudah menghabiskan berbatang-batang rokok yang memenuhi lepek cangkir masing-masing. Sesekali wajahku dan wajahnya jatuh ke dalam cangkir untuk memastikan bahwa aura kami masih baik-baik saja.
Seseorang datang dengan keranjang yang berisi buku-buku faforit penulis dan kaum aktivis yang ditulis oleh para maestro tanah air abad ke-20. Dia menghampirinya, dengan kata “hai mbak”-nya dia menawarkan buku-buku bajakannya dengan harga dua kali lipat lebih murah dari harga aslinya. Sambil menggoda, ia menawarkan harga spesial dan diskon 50 persen. Tentu Dige cuek terhadapnya. Sebab dia seorang penjual buku bajakan dan karena lelaki itu menggoda Dige di ruang umum dan karena Dige sedang bicara denganku. Seolah Dige tidak ingin percakapan kami terganggu. Akupun ingin hanya ada kami malam itu di Blandongan.
“Au!” Pedih rasanya, saat percakapan kita melompat ke jurang masa lalu. Di dindingnya penuh gambar-gambar buram bertuliskan luka kenangan. Ya, luka. Pengalaman cinta yang berlalu ke dalam kenangan. Yang didoakan oleh abu sejarah yang tak pernah benar-benar lenyap sebagai debu di udara atau raib disapu hujan ke samudra. Ia selalu ada mengintai di belakang mata si korban kekerasan cinta. Pecah di ruang dan waktu yang tak terselamatkan oleh doa-doa dan puji-pujian alam bahkan nyanyian kebahagiaan.
“Dimana semua itu ada, bermula dan kemudian berakhir. Apa ia benar-benar ada?” Tanyaku dalam suara datar yang hampir tak bisa Dige dengar. Sampai ia mendekatkan telinganya ke wajahku. Sayang, kami tak dapat melukiskan sebuah kecup seperti dalam film-film romantis karya produser terkemuka di tanah air penuh air mata kami ini.
Rokoknya sudah dimulai dari sulutan yang baru dengan hisapan lebih dalam. Aku meneguk nikmatnya sampai tenang di kedalamanku. Sementara rokokku sudah lenyap dalam hisapan terakhir dan siap menyalakan korek api lagi. Dige semburkan asap rokok lagi. Mataku pedih dan nyaris ketagihan sebab mataku dapat mengecup nikotin dari mulut seorang perempuan cantik seperti Dige.
“Tahukah kamu, perempuan itu lambang keindahan penuh gairah.” Ucapnya memulai topik baru. Aku tersenyum menginvestigasi setiap kerut di wajahnya yang manis buah jambu. Dan bentuk pipinya mengingatkanku pada halus batu-batu di pantai-pantai pulau Bangka.
“Bukankah perempuan sumber mata air kata-kata pujian.” Sambungku lebih awas lagi menatapnya.
“Semacam toko bunga di pusat-pusat kota. Perempuan pun terkadang menjelma bintang jatuh di pedalaman kampung-kampung petani dan nelayan.” Kulihat kelopak mata kanannya mengedipkan sari bunga rindu.
“Tetapi, perempuan juga sebagai saksi nyata atas kekejaman lelaki hidung belang.” Tambahku tanpa ingin menggurui atau berdebat labih banyak dengannya.
“Bahkan semacam mercusuar tua di dada para penyair.”
“Atau sebut saja ia adalah bejana emas di istana-istana kesunyian para pertapa.”
“Buatku, sungguh perempuan adalah pemilik doa yang subur dan yang makbul.” Tukasnya menakjubkan. Mulutku tiba-tiba terkunci. Dan aku lenyap ke kejauhan yang entah.
Kulihat ke dalam matanya yang hitam. Riak-riak impian cinta menari hangat di permukaan air cat yang siap disapukan ke muka kanvas waktu yang sebenarnya lebih lama menunggu dari pada Dige mungkin juga aku yang lupa diri: bahwa Ia lebih bernilai seni dari pada puisi, prosa dan cerita lain yang aku tulis atas nama keindahan.
Aku pun mulai sadar malam itu, tepat di dekat kedua bola matanya yang berbintik kebiruan. Persisnya aku tak punya kata untuk menamai warna bola matanya yang salalu indah kupandang. Barangkali, di matanya, aku lelaki penggoda. Aku lelaki penjual bunga di waktu tertentu di hari dan malam-malamnya bersama si pacar. Aku lelaki bermata tajam di matanya yang sipit. Dan Dige bilang itu tak penting suatu waktu yang tak sempat kusimpan ke laci kenangan. Dan apabila kecantikan terucap di mulut-mulut lelaki perokok aktif, maka yang Dige dengar adalah luka dan kepedihan yang menjadikan trauma dalam lubuknya sendiri. Aku melihatnya pada kelopaknya yang danau biru dengan kabut tipis pelembab kekeringan tubuhku yang ringkih.
Bahkan sempat –demi Dige- aku menulis luka yang buruk dan gagal menjadikannya puisi paling pedih bagi perjalanan hidupku. Dige bilang aku mesti mengulang membaca novel “Cantik Itu Luka” yang selalu Ia ceritakan ulang padaku setiap pertemuan. Aku harus memeras luka darinya dan melahirkannya sebagai luka yang agung dalam puisiku. Kemudian aku akan merasa berterima kasih pada penulisnya yang belum aku kenal, meski kutahu namanya, Eka Kurniawan. Atau aku hanya akan bicara tentang satu puisi buat Annelis dalam novel tetralogi buruh karya Pramoedya Ananta Toer, calon peraih Nobel yang hidupnya lebih banyak di rumah bui karena tulisan-tulisannya yang tajam memprotes penguasa.
Dan malam itu, di Blandongan yang mulai pergi ke langit kepala para aktivis warung kopi. Kami sepakat bicara di tingkat paling ringan. Sambil menyadari bahwa tingkatan di bawahnya adalah percakapan yang tak penting, tanpa pembahasan berarti, tanpa titik temu, dan tanpa kesimpulan. Sampai kami tenggelam ke dalam delusi masing-masing. Lalu kami gambar keadaan (jarak) antara wajahku dan wajahnya dengan film-film Komedi dan Romantis Eropah. Hingga waktu dan SMS di inbook Handphonmu meminta kami untuk segera berpisah. Dige beranjak lebih dulu ke tempat yang siap memeluk tubuhnya dan aku bertahan labih lama untuk memeluk tubuhku sendiri. Sambil menulis penggal-penggal percakapan menjadi cerita di gudang rahasia kepalaku.
“Oh iya, rupanya percakapan kita hanya 150 Menit!” Suaraku menyusul langkahnya yang pertama meninggalkan meja kami.
“Benarkah, terasa singkat sekali. Senang bertemu kamu. Sampai ketemu dengan cerita kita yang lain, ya!” kalimat penutupnya penuh zat madu. Aku mengantarnya sampai hilang di pintu masuk-keluar Blandongan.
2013/2015
Dwi Intan Humaira, lahir di Sumenep 20 Februari 1995. Kini tinggal di Yogyakarta menempuh pendidikan S1 pada Jurusan Sastra Inggris di salah satu Universitas Negeri. Selain itu, ia juga aktif di Paguyuban Sastra Rakyat.





