Musyawarah Kesunyian

- Advertisement -

(Tan Hamzah)

01/

PILIHANRAKYAT.ID, Maghrib hampir petang, lampu jalan telah menyala remang-remang, dan pedagang angkringan mulai berjejer di pinggir kota, jalan trotoar seketika menjadi perumahan, dengan aneka makanan yang disajikan. Hujan sedikit membasahi kota sore itu, kemacetan masih menjadi rutinitas menjelang surup matahari.   Yang tak kalah deras sore itu ialah cacian pengendara kendaraan pribadi, kendaraan seperti semut berjalan mengelilingi kota, setiap orang berebut garis terdepan, demi sampai tujuan dengan segera.

Seorang pemuda, pejalan kaki terjebak dalam kemacetan itu juga, sebab kendaraan bermotor bukan hanya memenuhi jalan raya, jalan trotoar, gang kecil dan sempit semua dipenuhi oleh kendaraan, betapa pusingnya menjadi kota. Pemuda tersebut hendak pergi ke kantor tempat biasa ia bekerja, sebagai seorang penulis dan penyair honorer. Menuju warung kopi terdekat dengan fasilitas wi-fi gratis. Seperangkat alat tulis telah ia siapkan, bahkan sebelum ia berangkat, semua kebutuhan telah siap dalam tas ranselnya, kebiasaan itu bukan sulap, tetapi pemuda itu menyiapkan kebutuhannya tepat ketika hendak tidur, sebuah rutinitas yang aneh tetapi begitu asyik pemuda itu menikmati kebiasaan yang tak lazim.

Pemuda tersebut bernama Leo, mahasiswa sejarah semester akhir. Ia berdiri sejenak di tengah jalan yang sesak, sambil menyalakan rokok kretek yang ia minta dari temannya satu malam yang lalu. Ia terusik dengan keributan yang terjadi, hampir muak dengan kejadian itu, setiap hari ditontonkan dengan kondisi yang sama, macet panjang meluap ke jalan, ditambah warung yang berdiri menutup trotoar.

“kota selalu ramai, bising, polusi dimana-mana, sesak, lama-lama IQ saya bisa turun karena kondisi seperti ini” Leo memaki keadaan tersebut. tiba-tiba klakson kendaraan berbunyi, tambah ramai, tiap kendaraan seolah ingin teriak semua, penyebabnya, tidak lain warna hijau di ujung jalan, yang berarti boleh melewati batas garis pemberhentian.

Leo tanpa pikir panjang menuju warung kopi yang ditujunya, kemudian memesan segelas kopi pahit, untuk mengawetkan malam yang akan dilalui. Ia duduk sendiri di pojok ruangan, laptop, buku catatan, alat tulis, dan buku ensiklopedia sejarah islam ia keluarkan, kemudian tenggelam dalam riset berjam-jam.

“abad kekosongan? Apa itu yang dinamakan hari tanpa sejarah, tanpa peristiwa dan tanpa manusia?” Leo berhenti sejenak setelah ia menemukan sejarah yang tidak pernah ditulis oleh siapapun, ia berpendapat sejarah seperti rangkaian tabel mainan yang tidak pernah lengkap, namun ada saja orang yang berusaha menutupi, tetapi gagal, nihil. Abad kekosongan diciptakan untuk menyelamatkan manusia dari kebisingan dunia, sebuah abad yang sepi dan sunyi.

Baca juga  Marsinah Belum Mati

Menurut Leo, abad itu manusia, menempatkan imajinasi fiktifnya pada tempat yang harusnya diletakkan, sebagai bayangan yang tidak terbatas, dan tidak bisa dimanifestasikan dalam wujud benda. Karena itu sejarah gagal menulis, karena kekurangan bahan untuk diteliti, selama ini kita tahu bahwa sejarah dilahirkan melalui lisan, artefak, tarian, makanan, spiritual. Tetapi yang tidak bisa ditangkap ialah sejarah versi imaji manusia, yang abstrak dan ambigu. Ia terus berkhayal, sampai ia lelah dan menyalakan rokok keretek lagi, kali ini ia membeli sendiri, satu bungkus penuh berhadiah es krim rasa coklat di super market tepat di depan warung kopi yang ditujunya.

Baca juga  Roti Pemberian Penyihir

O2/

Adzan maghrib berkumandang, kamar yang ditinggalkan Leo tentu tak berpenghuni, Leo nge-kos di daerah pinggir kota, kamar tidurnya hanya berjarak beberapa meter dari jalur rel kereta api. Kamar itu akan Leo tinggal ketika hampir maghrib tiba dan akan kembali membuka pintunya pada jam 09:00. Leo menghabiskan waktunya di warung kopi di waktu senggang, sendirian dan sebagian malam-malamnya ia habiskan bersama teman sesama aktivis untuk berdiskusi, dari satu tempat ke tempat lain, dan terlalu sering ia turun ke jalan, dia aktivis yang aktif menyuarakan kegelisahan rakyat. Tak heran kuliah Leo keteteran dan berpredikat sebagai mahasiswa nasakom (nilai satu koma). Tetapi Leo sudah berusaha menutupi lubang ilmu pengetahuan yang telah ia tinggalkan dengan menjadi jurnalis tidak tetap, dan magang di salah satu LSM lingkungan hidup.

Kamar Leo begitu berantakan, sampah berserakan, puntung rokok setiap sudut, tidak punya bantal, selimut maupun kasur, yang tertata rapi hanya buku-buku yang koleksinya ratusan, serta satu pot bunga matahari yang ia letakkan di dekat jendela kamar.

Ketika Leo hendak meninggalkan kamar ia akan berpesan pada buku di rak “kalian gak boleh bertengkar ketika aku pergi, kalau berdebat tentang ilmu gak papa, tetapi suaranya tidak boleh keras, takut tetangga kamar tertanggu karena betapa bawelnya kalian” Leo biasa meletakkan bukunya bersebalahan seolah mereka saling kritik dan sanggah, misal Das Kapital Karl Marx diletakkan bersebalahan dengan An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations Adam Smith, Tahafuth al-Falasifah al-Ghazali disandingkan dengan Tahafuth at-Tahafuth Ibn Rusyd, Soneta Pablo Neruda bersama Poems & Antipoems Nicanor Parra, karya sastrawan Rusia Maxim Gorky, Leo Tolstoy, Fyodor Dostoyevsky, Nikolai Gogol, Anton Checkov, Boris Pasternak, Mikhail Sholokhov, Mikhail Lermontov, dan Alexander Pushkin. Masih ada Mukaddimah Ibn Khaldun, Benturan Antar Peradaban Samuel Huntington dan lain sebagainya. Menurut Leo buku yang bagus ialah buku yang menghasilkan buku, dan terus berlanjut sampai tiada batas. Beberapa buku ia letakkan terpisah yaitu Sapiens dan Homo Deus Yuval Noah Harari dan Seratus Tahun Kesunyian Gabriel Garcia Marquez. Sapiens dan Homo Deus dianggap buku paling fenomenal dan mengguncang dunia di abad 21. Sebab didalamnya sejarah manusia terurai dengan lembut, bandingkan dengan evolusi Charles Darwin. Gabriel dengan Seratus Tahun Kesunyian, dibiarkan sendiri, sebab ia memang suka berdiskusi sendiri dengan pemikirannya, ia menjadi hebat sebab kesunyian sejarah yang gagal dipecahkan sejarawan modern, bahkan pawang sastrapun tak berhak mengulitinya.

Baca juga  Sisi Sunyi Minggu

03/

Kamar itupun sunyi sejak ditinggal Leo, setiap buku bertukar pandang, berisyarat dengan kedipan mata, menunggu siapa yang akan membuka diskusi pada malam itu, siapa yang akan menjadi moderator atau penengah diskusi, biasanya pihak yang dituakan atau dianggap bijaksana dipilih sebagai pemandu diskusi. Franz Kafka dengan badan “Metamorphosis”nya berujar, mau diskusi apa malam ini, setidaknya yang bisa dinikmati semua golongan, bukan hanya dari kalangan filsuf, sejarawan, maupun penyair, semua buku yang berada di ruangan ini harus terlibat aktif bersuara dan menyampaikan pendapatnya. Aku setuju kata Sartre “Seks & Revolusi” tetapi kita harus ingat pesan Leo, jangan terlalu berisik, kita harus menghormati tetangga. Gorge Orwell “Animal Farm” memotong pembicaraan, “mari mulai saja, gak usah banyak ngomong, saya mengusulkan seorang penulis hebat, ia tuan rumah disini, dan kita hanya tamu, orang itu ialah Pramoedya Ananta Toer”. Benedict Anderson “di bawah tiga bendera” saya setuju. Haruki Murakami “Norwegian Wood” saya sangat setuju sekaligus kagum pada beliau,” imbuh Murakami. Baiklah kalau begitu, saya bersedia menjadi moderator, tetapi saya mempunyai beberapa syarat, pertama, apa yang aku putuskan mengenai diskusi malam ini bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. kedua, saya akan menggunakan metode yang berbeda dari diskusi sebelumnya yang telah kita lewati bersama dan berakhir ribut. kata Pramoedya Ananta Toer “Tetralogi Pulau Buruh”. Milan Kundera “Kitab Lupa dan Gelak Tawa” terserah kamu, kami ikut. Tan Malaka “Madilog” mari mulai bung. Peraturannya ialah kita akan berdiskusi dengan buku masinng-masing yang telah kita tulis sebelumnya, setiap orang akan berdiskusi dengan dirinya sendiri, sebagai bentuk koreksi dan intropeksi diri, waktu diskusi akan berakhir ketika tuan Leo telah datang, dan tidur menemani kita, untuk notulen diskusi juga memakai buku sendiri, jangan ada saling sanggah dalam bentuk lisan semua kritik ditulis dalam buku sendiri, diskusi ini juga sebagai penghormatan pada Gabriel Garcia Marquez dan buku saya yang lain “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu”, apakah semua setuju. Iya, serempak ratusan buku itu menyetujui usul Pram.

Baca juga  Sastra dan Politik dalam Satu Pusaran

“Mari mulai!!!” perintah Pram.

Buku-buku itu serius memeriksa dirinya, mulai dari kata yang ia pilih, takut salah ketik, salah ditafsiri, atau hal kecil seperti lunturnya tinta pada setiap huruf. Mereka memeriksa setiap ejaan, dan bagi buku yang mengkritik buku lain, ia akan meneliti apa benar kritikannya telah lebih baik dari kritik yang ia lontarkan pada buku sebelumnya.

Suasana kamar Leo malam itupun sunyi, sepi, hanya suara derekan kereta api yang tiap beberapa menit datang

Mereka tetap khusuk berdiskusi dengan dirinya sendiri, sampai Leo datang dan mengucap selamat pagi.    

- Advertisement -
- Advertisment -

Berita Utama

Nilai Terjadi Kecurangan, PC. PMII Bangka Tolak Hasil Konfercab

PILIHAHANRAKYAT.ID, Bangka-Kabupaten Bangka, Dua komisariat Pengurus Cabang  pergerakan Mahasiswa islam indonesia (PC PMII Bangka ) tolak hasil ...

Dilantik Jokowi, Dudung Abdurachman Resmi Emban KSAD Gantikan Andika Perkasa

PIlIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) menggantikan Jenderal Andika Perkasa....

Kapolres Jakarta Pusat : Hubbul Wathon Minal Iman ialah Jargon Yang Sesuai Dengan Konsep Wawasan Kebangsaan Indonesia

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta- Jargon Hubul Wathon Minal Iman atau cinta tanah air sebagian dari iman itu konsep yang...

Baca Juga

JAPFA Gencarkan Pariwisata Danau Toba di Pameran Food & Hotel Indonesia 2019

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta – Meriahkan festival makanan minuman bertaraf internasional, JAPFA sebagai perusahaan penyedia protein hewani hadir di pameran Food & Hotel Indonesia (FHI) 2019...

Usai Musibah, Kota Palu Jadi Sasaran Revitalisasi Sentra IKM

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya melakukan revitalisasi sentra industri kecil dan...

Kereta Api Pangandaran Diluncurkan untuk Mendukung Pariwisata

PILIHANRAKYAT.ID, BANJAR - Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum serta Direktur Utama KAI Edi Sukmoro meluncurkan PT KAI rute Kereta Pangandaran, relasi Banjar...

20 Besar Seyembara Buku Puisi HPI 2018

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta - Ketua Yayasan Hari Puisi (YHP) Maman S. Mahayana mewakili Dewan Juri yang lain hadir pada bincang-bincang Hari Puisi yakni Abdul Hadi...