RONA PESUT MAHAKAM
Seperti mimpi sederhana
melihatmu menguatkan senyuman
gerakanmu memadu kasih
bebas meliuk menautkan kasmaran
layaknya berbagi cerita
entah pada pertemuan keberapakah
kita—memudar gundah
pada riak yang belum pasti
atau melepas sedih
bersembunyi dalam kecipak
seperti memantik kembali
sesuluh pelukan hidup
pun menggambarkan ulang
sebuah sentuhan rasa
mengunci ingatan nyanyianmu
seruan riuh dalam tawa
diantara perahu-perahu
memintal kehangatan senja
adakalanya kau menjauh
dan kerap terasing
renyah tawamu perlahan pulang ke tepian
selayaknya aku terima
pada suatu waktu
beri aku karunia memanggilmu datang
sekibas senyum jumpa dan cerita
dalam rencana Tuhan selanjutnya
merambah doa kebaikan seorang pesungai
‘kelak kenanglah aku sebagai pencari teduh,
dan kau pun menangkap wajah langit’
-2023
KERSIK LUWAY : RAYUAN ANGGREK HITAM
di antara rimbun hutan dan
pedalaman yang sunyi
ada pasir putih membentang,
membawa pesan tanpa suara
lewat kepolosan hijau pupus
dan lidah bunga yang menari
ke pelupuk atap Kutai Barat —
tumbuh anggun bergaris hitam
rahasia alam yang tersembunyi
mekar di pelukan hujan
pedalaman yang tak mudah dilalui
tempat yang keras, tumbuh diam-diam
bercerita keteguhan hati
bicara dalam diam
layaknya bersemayam tak pernah tidur
malam bermusim hujan penuh makna
dalam sunyi pasir pun bersaksi
berumpun jadi awal yang baru,
perjalanan akar tinggal
mencari denyut hutan
dan melepaskan aromamu
menarikan kesaksian umbi semu
yang pura-pura mati
tercium harum halus menyapa,
seakan mengisyaratkan:
‘jangan mati, meski hutan perawan lengang’
tak mematahkan harapanmu
meski terancam punah
hutan kerangas bersyukur—
di antara akar kusut dan lumut lembab
serta dibalik linu tengadah
memeluk butiran hujan,
didapatinya engkau tersenyum
dan melukis kelopak
seolah menepis kelam dari semak
di batas musim
mahkotamu bersyair
riuh berbahasa rindu,
walau tak lama
dan manusia pun mendengar—
diam-diam tersentuh
berwangi kalam
terjaga dalam mahkota
hingga manusia pun tersenyum
rayuanmu lembut menusuk
menyapa hati lewat ranum
pertanyaan dari hening misteri
bersama rindu yang tak lekang
menemukanmu dalam keheningan
ibarat cerita lama tersimpan rapat pada alam
tentang tinggal dan menjaga,
tetap memukau ada kebaikan
tentang cinta dan penjagaan,
merebak rindu akan tetap milikmu
kau tak pernah meminta banyak,
hanya ruang untuk hidup
membawa harap agar tetap tinggal
rahasia yang tak dilupakan
akhirnya, kau punya doa :
kau panjatkan tanpa suara
sembari menghapus jarak waktu
melawan layu tanpa jemu
melawan layu dengan setia
di pangkuan Semenanjung tua,
kau pun berjumpa—
surga tersembunyi yang dilindungi
tanpa harus terbelenggu
mengendap tumbuh makin dalam
dari gelap yang tak berpintu
agar tak menghilang begitu saja
(terancam punah)
-2025
Note : Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) merupakan flora endemik langka di Cagar Alam Kersik Luway, Kalimantan Timur
DANAU SEMAYANG : SEARAH PULANG ETAM
kujelajahi senandung lembayungmu
ditemaram langit memberi arti
riak, gubang dan warna kecokelatan
ada banyak cerita di danau ini
dalam rona kedalaman yang tak berubah
terhampar dalam naungan cekungan
aroma jukut mengembalikan ingatan
serupa jejak etam mudik
danau telah membelah dadaku
arusnya mengantarkan haruan menganga
pada garis riak pepuyu bergerak
kadang pula baung terbaring tenang
pada dirimu,
kapal – kapal merangkai niat
menyapa arah cahaya yang tersisa
akan tetap ingat pulang
dari daratan yang luas
tak pernah membuatmu sendiri
merangkum gemuruh tetap kucandui
melapangkan jalan jiwa – jiwa yang menggengammu
panjang umur tak menggerukmu ke dasar
rumah bagi ikan – ikan yang memikat
meski kemarau bertamu
jalan karunia itu berair
aku tak membuak – buak
yang mampu menguntai pukat rusak
ijinkan aku menilik keindahan
mengunci ingatan pelukanmu disini
‘sampai bersua kembali ‘




