PILIHANRAKYAT.ID, BADUNG – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan perihal riwayat pendidikan dirinya yang sempat keluar dari bangku sekolah. Hal itu diungkapkan kembali ketika sambutan pada acara pembukaan Women Entrepreneurs Finance Initiative (We-Fi) Governing Committee Meeting. Ia juga mengisahkan awal mula dirinya memulai bisnis perikanan PT ASI Pudjiastuti Marine Product dan bisnis penerbangan PT ASI Pudjiastuti Aviation.
“Saya orang yang menginginkan kemandirian. Namun, untuk menjadi mandiri, bebas menjadi diri sendiri, dan melakukan sesuatu sesuai jalan yang kamu inginkan saat itu tidaklah mudah untuk seorang gadis Jawa seperti saya. Keluarga selalu memberitahu apa yang harus dilakukan. Untuk membuatnya mudah, saya harus menjadi mandiri dengan bisnis saya sendiri,” Menteri Susi berkisah di Sofitel Bali Nusa Dua, Badung, Bali, Minggu (14/10/2018) silam.
Simak:
- Susi Optimis Riau Akan Kembali Menjadi Bandar Ikan
- Menteri Susi: Indonesia Luar Biasa, Tapi Kita telah Gadaikan Kedaulatan kita
- Susi: Negeri Tanpa Kedaulatan Seperti Kita Tanpa Harga Diri
“Saya keluar dari sekolah karena saya rasa sekolah tidak cocok bagi saya. Mungkin cocok bagi orang lain tapi tidak untuk saya,” lanjutnya.
Setelah memutuskan berhenti sekolah, Ia memulai bisnis pertamanya di umur 17 tahun dengan menjual ikan dan seafood. Akhirnya pada tahun 1996 ia melakukan ekspor pertama kalinya ke Jepang dan dilanjutkan ke Eropa. Namun menurutnya, bisnisnya tidak dapat berkembang pesat. Hal ini karena stok ikan yang menurun drastis. Belakangan, setelah menjadi Menteri barulah diketahui bahwa menghilangnya ikan karena kegiatan illegal fishing di perairan Indonesia.
Kemudian, ia memulai bisnis transportasi kecil-kecilan untuk mengangkut produk perikanan hidup dan segar. Menurutnya, ikan-ikan kecil, produk perikanan beku, produk perikanan olahan, produk pengalengan, dan produk kering memiliki nilai ekonomi yang lebih rendah.
“Nilai tertinggi dari seafood adalah seafood segar. Tapi kurangnya transportasi di Indonesia hanya dapat diatasi satu-satunya dengan penerbangan. Jadi saya mencoba memulai penerbangan dari kampung halaman saya di Pangandaran menuju Jakarta,” kisahnya.
Upayanya memulai bisnis tidaklah mudah. Menurut dia, butuh waktu 4 tahun baginya untuk meyakinkan bank hingga diberi pinjaman. “Akhirnya saya mendapatkan dukungan finansial untuk memulai bisnis saya. Saya bersama tim mulai menyusun penerbangan menuju Jakarta,” imbuhnya.
Susi mengungkapkan, awalnya dirinya tak berencana mengembangkan bisnis penerbangan. Pesawat perintis yang dia punya hanya ditujukan untuk mengangkut produk perikanan miliknya agar dapat cepat mencapai pasar. Hingga saat tsunami Aceh terjadi pada Desember 2004 lalu, pesawat miliknya membawa bantuan bagi masyarakat Aceh. “Saat itu media memberitakan Susi Air memberi bantuan, padahal waktu itu penerbangan saya belum bernama,” kenangnya.
Kini PT ASI Pudjiastuti Aviation telah melayani setidaknya 50 penerbangan di berbagai wilayah Indonesia. Setelah itu, tatkala kedua bisnisnya berkembang, tahun 2014 ia ditunjuk Presiden Joko Widodo untuk menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan. Saat itulah menurutnya ia mulai menemukan alasan mengapa ikan di laut Indonesia menurun drastis.
“Saya menemukan bahwa tidak hanya di kampung halaman saya tapi juga di wilayah lain di seluruh Indonesia ikan menghilang. Penyebab utamanya adalah kegiatan illegal fishing. Survei dari 2003 ke 2013 jumlah rumah tangga perikanan Indonesia juga menurun drastis hampir 50 persen,” terangnya.
Setelah diselidiki, menurut dia penyebabnya adalah pemberian izin kapal asing masuk dan menangkap ikan di Indonesia oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2001. Saat itu kegiatan illegal fishing semakin masif dilakukan. Ia pun mencoba memeriksa konstitusi untuk mencari solusi apa yang bisa dilakukan. Dengan dukungan penuh dari presiden, ia mulai melarang masuknya kapal asing, melarang transshipment, dan melakukan tindakan tegas bagi para pelanggarnya.
Baca Juga:
- Menteri Susi Ajak Mahasiswa Universitas Columbia Kelola Perekonomian Laut Berkelanjutan
- Susi Pudjiastuti: Laut Tumpuan Hidup Bangsa Tengah Menghadapi Ancaman
- Empat Tahun Jadi Menteri, Susi Tenggelamkan 488 Kapal Illegal Fishing
Kini setelah beberapa tahun aturan tersebut dijalankan, perikanan Indonesia menunjukkan perkembangan yang memuaskan dengan peningkatan stok ikan lestari, dan peningkatan manfaat ekonomi pada usaha perikanan tangkap dan budidaya. “Saya merasa senang diberi kesempatan menjadikan Indonesia berjaya, menjadikan Indonesia pemain dominan dalam bisnis perikanan,” pungkasnya.
Menteri Susi menyatakan, untuk dapat menjadi pemimpin dalam bisnis maupun pemerintahan, perempuan harus berani mengambil risiko dan cermat melihat peluang. “Sudah saatnya perempuan dunia maju. Dalam bisnis, laki-laki dan perempuan sama saja, tak ada bedanya,” tandasnya.
Editor: Didik Hariyanto





