Marhaenisme Masih Relevan Untuk Melawan Kemiskinan

Keluarga Besar Marhaen Jogja (foto: Dok. pilihanrakyat)
Keluarga Besar Marhaen Jogja (foto: Dok. pilihanrakyat)

PILIHANRAKYAT.ID,Yogyakarta-Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Keluarga Besar Marhaen (KBM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengadakan diskusi dengan tajuk “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Dalam Rangka Mewujudkan SDM Unggul Untuk Indonesia Maju,” diskusi yang dihadiri kurang lebih 100 Kader KBM ini berlangsung pada Minggu (01/09).

Dalam diskusi tersebut gagasan marhaenisme dianggap sampai saat ini masih relevan sebagai azas perjuangan melawan kemiskinan dan sebagai tonggak mewujudkan manusia Indonesia makmur sejahtera.

Diketahui, Tingkat kemiskinan di Indonesia yang relatif masih tinggi menjadi persoalan bangsa sampai hari ini. Padahal, perjuangan untuk mengentaskan kemiskinan sejatinya sudah menjadi fokus Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno (Bung Karno), yang kemudian memunculkan ajaran Marhaenisme.

Ketua Dewan Ideologi Dewan Pimpinan Nasional Keluarga Besar Marhaenisme (DPN KBM), Prof. Dr. Wuryadi mengungkapkan, dalam ajaran Bung Karno tersebut menitikberatkan perjuangan pada kaum miskin Indonesia yang disebut kaum Marhaen,

“Dalam si Marhaen (Marhaenisme) ini, kemiskinan bukanlah takdir dari Tuhan Yang Maha Esa, akan tetapi karena proses-proses penindasan dan penghisapan dalam interaksi sosial dan ekonomi, maupun politik dalam satu tatanan,” ujarnya di Sekretariat DPP KMB DIY, Jl.Nitipuran No.89, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.

Baca juga  POCO X7 Pro Meluncur di Indonesia dengan Performa “Gahar” di Segmen Menengah

Wuryadi juga menjelaskan tentang Marhaenisme dari masa sebelum kemerdekaan, masa perjuangan kemerdekaan NKRI, dan masa sesudah kemerdekaan NKRI. Menurutnya, ajaran marhaenisme masih relevan untuk diterapkan dimasa sekarang.

“Fenomena munculnya kaum marhaen atau kaum miskin masih relevan untuk menggunakan marhaenisme sebagai alat perjuangan di masa kini,” tuturnya.

Sementara itu, pembicara diskusi lainnya Yos Soetiyoso dalam makalahnya yang berjudul “Menegakkan Tiang Pancang” menjelaskan tentang melakukan introspeksi atau mawas diri serta melakukan refleksi sebagai sebuah bangsa.

“Memang tidak mudah untuk mengakui secara jujur kesalahan dan kekurangan pada diri sendiri. Begitupun bagi suatu bangsa.
Kemajuan demi kemajuan akan diperoleh ketika bangsa itu mampu melakukan introspeksi dan refleksi,” ungkap Alumni GMNI ini.

Dalam kaitannya dengan pengertian bangsa yang cerdas , menurut Yos, bahwa bangsa yang caerdas adalah bangsa yang mampu mengelola pemerintahannya secara efisien serta mampu membangun kesadaran untuk menjadi produktif.

“Apapun sistem politik dan ekonomi yang digunakan suatu bangsa akan menjadi kuat dan berjaya, jika negara atau pemerintahannya efisien serta rakyatnya produktif,” tandasnya.

Dr. Tarto Sentono, Waketum DPN Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) yang juga menjadi panelis dalam kesempatan yang sama mengupas tentang refleksi sistem Pendidikan nasional. Ia menilai carut marutnya sistem pendidikan karena semakin menjauh dari terwujudnya manusia Indonesia yang ber-Pancasila.

Baca juga  Petani Kepiting Asal Pasuruan Tewas Tersambar Petir di Perairan Katingan

Menurutnya, Pendidikan yang diselenggarakan pemerintah selama ini belum mampu mewujudkan dan memajukan kesejahteraan umum dan menciptakan keadilan sosial.

“Bahkan Pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dengan alasan kekhasannya akhirnya tidak memasukkan Pancasila sebagai ajaran guna mendukung output anak didik menjauh dari budi pekerti ke-Indonesiaan,” tukasnya.

Sedangkan Ketua DPP KBM DIY, Agus Subagyo mengatakan diskusi diselenggarakan sebagai refleksi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74, sekaligus dialog antar generasi KBM.

“Diskusi ini merupakan refleksi RI di tahun ke 74 nya, sebagai sebuah dialog anyar generasi pada diskusi ini. Hampir separuhnya memang dikunjungi generasi muda dari berbagai elemen marhaenisme yaitu GSNI, GMNI, Pemuda Marhaenis, Pemuda Demokrat, ISRI, dan KBM sendiri, dengan harapan bisa tetap merawat semangat dan melestarikan ajaran Bung Karno tentang Marhaenisme serta Pancasila sebagai dasar negara” katanya usai diskusi.

(Noeris/PR.ID)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *