Purbaya Klaim Ekonomi Indonesia Tangguh, Pertumbuhan 5,61 Persen di Tengah Ketidakpastian Global

PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan kondisi perekonomian Indonesia di hadapan civitas akademika Nankai University, Tianjin, China. Dalam kuliah umum tersebut, ia menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat dengan dukungan kebijakan fiskal yang disiplin dan berkelanjutan.

Di hadapan Presiden Nankai University Chen Yulu, jajaran pimpinan kampus, serta ratusan mahasiswa, Purbaya menjelaskan bahwa Indonesia mampu menjaga stabilitas ekonomi meski menghadapi tekanan global. Salah satu indikatornya, kata dia, adalah kemampuan pemerintah mempertahankan defisit anggaran tetap di bawah batas 3 persen sesuai amanat undang-undang.

“Adalah kehormatan besar bagi saya untuk berada di Nankai University. Hari ini saya membagikan perspektif Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, manajemen fiskal, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan,” ujar Purbaya dalam keterangan resmi, Minggu (21/6/2026).

Purbaya mengatakan kondisi pasar global mulai menunjukkan perbaikan setelah melewati periode penuh gejolak. Di tengah situasi tersebut, ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang dinilai cukup kuat.

Ia memaparkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year). Angka itu, menurutnya, berada di atas rata-rata pertumbuhan sejumlah negara anggota G20 maupun negara-negara ASEAN.

Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga mampu menjaga stabilitas harga. Tingkat inflasi hingga Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen. Menurut Purbaya, kombinasi pertumbuhan yang tinggi dan inflasi yang terkendali menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan pelaku ekonomi.

Baca juga  Dukung Upaya Pemerintah Pusat; PT Asuransi Jiwa Sequis Life Vaksin 500 Karyawan Jenis Sinopharm

“Indonesia memasuki periode ini dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan ketahanan kebijakan yang kredibel,” kata dia.

Dalam paparannya, Purbaya juga menyinggung ketahanan energi Indonesia di tengah risiko gangguan pasokan global. Berdasarkan analisis pemerintah, Indonesia memiliki tingkat eksposur risiko yang relatif rendah dengan kapasitas penyangga yang kuat.

Ia menyebut skor ketahanan energi Indonesia mencapai 77 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan China yang berada di angka 76 persen, serta mendekati Afrika Selatan dengan skor 79 persen.

Menurut Purbaya, kondisi tersebut tidak terlepas dari pengelolaan fiskal yang hati-hati. Dengan ruang anggaran yang tetap terjaga, pemerintah memiliki fleksibilitas menggunakan APBN sebagai instrumen menghadapi tekanan eksternal.

Sejumlah indikator ekonomi juga menunjukkan aktivitas nasional masih bergerak positif. PMI manufaktur berada di level 50,0, pertumbuhan uang primer mencapai 14,8 persen secara tahunan, sementara kredit perbankan tumbuh 11,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sektor eksternal, Indonesia masih mencatat surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut. Cadangan devisa nasional juga berada pada level US$144,9 miliar atau cukup untuk membiayai 5,6 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Baca juga  Gus Kikin Masuk Bursa Kandidat Ketua Umum PBNU, Dinilai Punya Basis Kuat di Jawa Timur

Purbaya menegaskan pertumbuhan ekonomi tersebut mulai memberikan dampak terhadap masyarakat. Ia menyebut ekonomi nasional berhasil menciptakan sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru dan menurunkan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,68 persen pada 2026.

Sementara itu, tingkat kemiskinan juga mengalami penurunan dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025 berdasarkan data pemerintah.

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya turut menjelaskan delapan kelompok program prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program tersebut mencakup ketahanan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perumahan, serta ketangguhan menghadapi bencana.

Selain itu, pemerintah juga mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, penguatan ekonomi masyarakat, pembangunan desa, hingga integrasi program perlindungan sosial dengan penciptaan lapangan kerja.

Purbaya mengatakan seluruh agenda tersebut diarahkan agar pembangunan nasional tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, tetapi juga mulai terlihat melalui penciptaan lapangan kerja, penurunan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Purbaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *