PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Sprinto terus mengembangkan layanannya sebagai platform compliance automation pada 2026. Perangkat lunak berbasis cloud ini dirancang untuk membantu perusahaan memenuhi berbagai standar keamanan informasi, seperti SOC 2, ISO 27001, HIPAA, GDPR, dan PCI DSS, melalui proses yang lebih efisien dan terotomasi.
Perusahaan memperkenalkan konsep Autonomous Trust Platform yang mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk menyederhanakan proses kepatuhan. Sistem ini mampu mengumpulkan bukti audit secara otomatis, memantau perubahan konfigurasi sistem secara berkelanjutan, serta mengidentifikasi potensi risiko yang dapat memengaruhi status kepatuhan perusahaan.
Salah satu keunggulan Sprinto terletak pada kemampuannya terhubung dengan lebih dari 300 layanan digital, seperti AWS, Google Workspace, Microsoft 365, GitHub, Okta, dan Slack. Integrasi tersebut memungkinkan proses pengumpulan data dilakukan secara otomatis sehingga mengurangi pekerjaan manual yang umumnya memakan waktu saat menghadapi audit.
Kemudahan penggunaan juga menjadi nilai tambah platform ini. Berdasarkan ulasan pengguna di Gartner Peer Insights dan G2, Sprinto dinilai memiliki antarmuka yang sederhana serta mampu mempercepat persiapan sertifikasi. Banyak perusahaan rintisan dan penyedia layanan berbasis teknologi memanfaatkan platform ini untuk memenuhi persyaratan kepatuhan yang kerap diminta investor maupun pelanggan.
Di sisi lain, Sprinto masih memiliki sejumlah keterbatasan. Perusahaan belum mempublikasikan harga layanan secara terbuka sehingga calon pelanggan harus menghubungi tim penjualan untuk memperoleh penawaran. Selain itu, biaya audit oleh auditor independen umumnya tidak termasuk dalam biaya berlangganan platform.
Bagi perusahaan berskala besar dengan kebutuhan kepatuhan yang lebih kompleks, Sprinto dinilai masih menghadapi persaingan dengan platform lain yang menawarkan fitur lebih luas. Meski demikian, kemampuan otomatisasi, pemantauan berkelanjutan, dan dukungan AI menjadikan Sprinto sebagai salah satu solusi yang layak dipertimbangkan perusahaan dalam memperkuat tata kelola keamanan informasi pada 2026.




