PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Tepat 6 Agustus menjadi momentum untuk mengenang Willibrordus Surendra Broto Rendra atau W.S. Rendra, salah satu penyair dan dramawan penting dalam sejarah sastra Indonesia. Rendra meninggal pada 6 Agustus 2009 di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat, dalam usia 73 tahun. Kepergiannya meninggalkan warisan panjang berupa puisi, drama, teater, serta gagasan tentang kebebasan berekspresi.
Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 7 November 1935. Bakat keseniannya tumbuh sejak usia muda. Ia menulis puisi, cerpen, drama, dan esai yang kemudian dimuat di berbagai media. Puisi pertamanya dipublikasikan pada 1952 melalui majalah Siasat. Sejak saat itu, namanya perlahan menempati posisi penting dalam perkembangan sastra Indonesia.
Julukan “Si Burung Merak” melekat pada Rendra karena penampilannya yang kuat ketika membacakan puisi. Namun, Rendra bukan hanya seorang penyair. Ia juga dikenal sebagai dramawan, aktor, sutradara, sekaligus pendidik teater. Ia pernah menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang kemudian memberikan gelar Doktor Honoris Causa atas kontribusinya terhadap seni dan kebudayaan Indonesia.
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan keseniannya adalah pendirian Bengkel Teater di Yogyakarta pada 1967. Kelompok tersebut menjadi ruang bagi Rendra untuk mengembangkan gagasan tentang teater sekaligus mendidik generasi baru seniman. Bengkel Teater kemudian melahirkan dan menjadi ruang belajar bagi sejumlah seniman yang kelak dikenal dalam dunia seni dan kebudayaan Indonesia.
Perjalanan Rendra tidak selalu berjalan mulus. Karya-karyanya kerap bersinggungan dengan persoalan sosial dan politik. Ia menggunakan puisi dan panggung teater sebagai medium untuk menyampaikan kegelisahan terhadap keadaan masyarakat. Pada masa Orde Baru, sejumlah pertunjukan Rendra mengalami pembatasan. Ia bahkan sempat dilarang tampil selama beberapa tahun.
Larangan tersebut tidak membuat Rendra berhenti berkarya. Ketika kembali ke panggung, ia menghadirkan karya-karya yang tetap memperlihatkan keberaniannya membicarakan persoalan manusia, masyarakat, dan kekuasaan. Salah satunya adalah Panembahan Reso, drama yang dipentaskan pada 1986 dan mengangkat persoalan perebutan kekuasaan.
Karya Rendra tersebar dalam berbagai bentuk. Di bidang puisi, sejumlah karyanya antara lain Ballada Orang-Orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Sajak-Sajak Sepatu Tua, dan Potret Pembangunan dalam Puisi. Sementara dalam dunia teater, ia antara lain dikenal melalui Kaki Palsu, Orang-Orang di Tikungan Jalan, Kisah Perjuangan Suku Naga, dan Panembahan Reso. Sejumlah puisinya juga diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Pengakuan terhadap kiprah Rendra datang melalui berbagai penghargaan. Ia pernah menerima Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia, penghargaan Akademi Jakarta, Penghargaan Adam Malik, S.E.A. Write Award, hingga Penghargaan Achmad Bakrie. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang seniman yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk sastra dan teater.
Namun, warisan terbesar Rendra bukan semata penghargaan. Ia meninggalkan cara pandang bahwa puisi dan teater dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan keadaan. Kata-kata baginya bukan hanya rangkaian bahasa yang indah, tetapi juga dapat menjadi suara bagi kegelisahan manusia dan masyarakat.
Kini, 17 tahun setelah kepergiannya, nama Rendra masih menjadi bagian dari ingatan kebudayaan Indonesia. Puisi-puisinya terus dibaca, karya dramanya dipelajari, dan tradisi teater yang pernah ia bangun tetap menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah teater modern Indonesia.
Rendra telah pergi, tetapi suara penyair yang dikenal sebagai “Si Burung Merak” itu belum benar-benar hilang. Ia tetap hadir melalui kata-kata yang diwariskannya dan melalui panggung-panggung yang terus memberi tempat bagi seni untuk berbicara. Mengenang Rendra pada setiap 6 Agustus bukan sekadar mengingat tanggal kematiannya, melainkan mengingat seorang seniman yang sepanjang hidupnya memilih untuk tidak diam.




