Daerah  

Kikis Fenomena Fatherless, SIJAKA Dorong Ayah Lebih Terlibat dalam Rumah Tangga

PILIHANRAKYAT.ID, Probolinggo-Peran ayah dalam pengasuhan dan urusan domestik menjadi perhatian Program INKLUSI ‘Aisyiyah bersama Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Probolinggo. Keduanya menggelar penyuluhan SIJAKA atau Siap Jadi Ayah Peduli Kesehatan Keluarga di Aula Olbek, Desa Liprak Kulon, Kecamatan Banyuanyar, Kamis, 10 September 2026.

Program tersebut menyasar calon suami dan ayah untuk memperkuat keterlibatan laki-laki dalam kehidupan keluarga. Selain pengasuhan anak, peserta didorong memahami pentingnya keterlibatan ayah dalam menjaga kesehatan istri dan anak.

Ketua GOW Kabupaten Probolinggo, Ning Umi Haniah, mengatakan ketahanan keluarga tidak bisa dibangun dengan membebankan seluruh pekerjaan domestik kepada perempuan. Menurut dia, suami dan istri perlu berbagi peran secara adil.

Baca juga  Badridduja Semakin "Kokoh" Memperjuangkan Warisan Kiai Badri Mashduqi

“Tanggung jawab dalam keluarga harusnya dipikul bersama, tidak seharusnya beban domestik itu hanya dibebankan kepada perempuan,” kata Ning Hani di sela-sela penyuluhan.

Ning Hani juga menilai masyarakat masih memberikan standar berbeda terhadap laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan rumah tangga. Laki-laki, kata dia, kerap mendapat pujian ketika membantu pekerjaan domestik, sementara pekerjaan serupa yang dilakukan perempuan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

“Mulai ubah perspektif dalam masyarakat tentang betapa banyak pujian untuk laki-laki ketika membantu urusan rumah tangga, tapi nampak biasa ketika yang melakukan itu perempuan,” ujarnya.

Melalui SIJAKA, peserta mendapat pemahaman mengenai kesiapan fisik dan mental menjadi ayah serta pentingnya keterlibatan sejak perencanaan keluarga. Peran tersebut berlanjut pada pengasuhan dan pemantauan kesehatan anak maupun istri.

Baca juga  BPJS PBI Nonaktif, DPRD Probolinggo Desak Sinkronisasi Data dan Posko Pengaduan

Keterlibatan ayah yang lebih aktif diharapkan dapat memperkuat prinsip ketersalingan dalam rumah tangga sekaligus mengikis fenomena fatherless. Dalam konteks ini, persoalan bukan semata keberadaan ayah secara fisik, melainkan sejauh mana ayah hadir dalam pengasuhan dan kehidupan emosional keluarga.

Kolaborasi Program INKLUSI ‘Aisyiyah dan GOW Kabupaten Probolinggo diharapkan melahirkan figur ayah yang lebih sigap dan tanggap terhadap kebutuhan keluarga. Keterlibatan tersebut dipandang sebagai bagian penting dalam membangun keluarga yang sehat dan tangguh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *