PILIHANRAKYAT.ID, Surabaya-Jawa Timur memasuki periode puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi kering masih mendominasi wilayah Jawa Timur pada Selasa, 4 Agustus 2026. Masyarakat diminta mewaspadai dampak kekeringan dan potensi kebakaran hutan serta lahan.
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur sebelumnya memprakirakan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus. Dari 74 Zona Musim di Jawa Timur, sebanyak 53 zona atau sekitar 71,6 persen diprediksi mencapai puncak kemarau pada bulan tersebut.
Kondisi tersebut sejalan dengan prakiraan BMKG untuk periode 4–10 Agustus 2026. Hari tanpa hujan diperkirakan semakin panjang di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi kering yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko kekeringan, terutama di wilayah yang curah hujannya rendah.
Meski kemarau mendominasi, bukan berarti seluruh wilayah Jawa Timur akan terbebas dari hujan. BMKG tetap mencatat adanya peluang hujan yang dipengaruhi dinamika atmosfer dan kondisi lokal. Karena itu, perubahan cuaca secara tiba-tiba tetap perlu diantisipasi, terutama ketika muncul pertumbuhan awan konvektif.
BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan seiring meningkatnya kondisi kering. Masyarakat di wilayah yang mengalami hari tanpa hujan panjang diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Untuk Jawa Timur, prakiraan curah hujan Agustus 2026 menunjukkan jumlah hujan yang relatif rendah di sejumlah wilayah. Stasiun Klimatologi Jawa Timur mencatat prediksi curah hujan bulanan berada pada kisaran 0 hingga 106 milimeter, meski kondisi dapat berbeda antarwilayah.
BMKG mengimbau masyarakat memantau prakiraan dan peringatan dini cuaca melalui kanal resmi sebelum melakukan aktivitas. Informasi tersebut penting karena kondisi cuaca dapat berubah sesuai perkembangan atmosfer.




