Denny Siregar: Perang Sudah Dimulai? (Surat Terbuka untuk Para Relawan)

PILIHANRAKYAT.ID, JAKARTA – Tahun politik di Indonesia sedang berlangsung hingga hari pencoblosan tiba pada 17 April 2019 mendatang. Dua pasang kontestan Pilpres 2019, Nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sama-sama berikhityar merebut hati masayrakat untuk mendukung dan memilihnya nanti di bilik suara.

Kontestasi politik yang semakin panas ini, diwarnai dengan semarak semangat para relawan masing-masing pasangan capres-cawapres. Mereka ikut bergerilya mengenalkan, menguraikan segenap kebaikan-kebaikan paslon dukungannya ke masyarakat di dunia nyata, terlebih di dunia maya.

Tidak hanya kampanye, para relawan dari kedua paslon bahkan saling berupaya menaikkan jagoannya dengan menjatuhkan lawannya. Tentu, tidak semua relawan melakukan kampanye negatif semacam itu. Tetapi, di dunia maya yang terjadi memang demikian.

Nah, untuk para relawan yang (semoga) baik, budiman, dan bijaksana, penting surat ini disimak biar tidak selalu tegang menghadapi kenyataan di media sosial. Ingat, tidak perlu baper (bawa perasaan) biar tidak marah. Surat ini ditulis oleh Denny Siregar untuk para relawan yang dia posting di wall akun facebook pribadinya. Berikut isinya:

Kepada teman-temanku relawan, dimanapun berada..

Kita memasuki tahun politik, dimana pemilihan Presiden segera tiba. Situasi akan semakin panas karena ada kubu yang sudah menggunakan “ayat-ayat perang” untuk merebut singgasana.

Mereka akan menggunakan segala macam jargon, mulai perang badar, perang uhud, bahkan perang terhadap dajjal yang mereka pakai sesuai kepentingan mereka..

Baca juga  Ridwan Kamil; TNI-Polri Harus Netral di Pilkada Serentak 2020

Percayalah, jargon-jargon itu sangat efektif pada masyarakat kelas menengah bawah. Kelompok masyarakat yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, tetapi dicuci otak seolah-olah mereka sedang menghadapi kejahatan yang luar biasa.

Narasi ketakutan sedang ditebar dimana-mana. Takut terhadap asing dan aseng, takut terhadap hutang, takut terhadap PKI, terhadap ekonomi yang merosot dan segala macam ketakutan akan dipompakan ke otak mereka.

Ada kubu yang sedang memainkan konsep kebaikan melawan keburukan. Dan kalian akan dicitrakan sebagai monster yang harus dilawan..

Baca:

Kalian, wahai para relawan, boleh saja berkumpul dan membangun kekuatan untuk melawan narasi mereka. Tetapi ingat, perang sesungguhnya bukan di udara, tetapi ada di darat. Di tempat-tempat ibadah, di majelis-majelis, bahkan di perkumpulan reliji akan penuh dengan segala macam ancaman yang dibangun seperti paku ditebar di jalanan..

Sudahilah pesta hura-hura di tempat-tempat mewah, di mall-mall dengan segala macam atraksi, yang menguatkan bahwa kalian adalah kelompok kapitalis yang harus dilawan. Mereka sedang mengkondisikan sebagai kaum lemah melawan kaum kaya, para perampok negara.

Mulailah fokus pada gerakan seperti halnya gerakan mereka. Bangun jaringan-jaringan keagamaan seperti mereka. Perkuat model dakwah dengan ustad-ustad yang mengumandangkan kecintaan pada Bhinneka. Bukan ustad yang sibuk mengobarkan khilafah..

Baca juga  Indonesia Ladang Produksi Road Movie, Riri Riza: Sayang tak Banyak yang Suka

Mereka pakai agama, kita juga pakai agama. Tetapi agama kita pakai bukan untuk menebarkan kebencian, melainkan sebagai perekat kesatuan. Jangan biarkan mereka pakai tempat ibadah untuk politik praktis, kita kembalikan sesuai fungsinya.

Jika melihat, mendengar, dan menemukan ada kelompok yang menyebarkan kebencian di mimbar-mimbar dakwah, videokan dan viralkan di media sosial, lengkap dengan nama, tempat dan tanggal kejadian..

Sudah saatnya kita kembalikan demokrasi di negeri ini, dengan cara yang seharusnya. Semua orang punya hak memilih, tidak boleh ada yang memaksa. Apalagi pemaksaan dengan cara kebencian dan memakai baju agama..

Mereka ingin mengulang kesuksesan seperti Pilgub di Jakarta. Ayat dan mayat akan kembali bergema. Jangan diam, saatnya kita bersuara dengan senjata yang kita punya, yaitu gadget, media sosial dan kuota.

Ini perang. Mereka militan, kita jangan kalah militan juga..

Ini bukan tentang Jokowi, Prabowo atau siapapun juga. Ini tentang menjaga Indonesia dari kelompok yang menunggangi politik untuk tujuan besar mereka. Petunjuknya mudah, lihat dimana HTI berada, maka pilihlah lawannya..

Jangan biarkan mereka menang. Karena mereka membutuhkan inang untuk berkembang. Meskipun organisasi mereka sudah dilarang, tetapi ideologi tetap mereka pegang..

Kepada temanku relawan dimanapun berada, selamat berjuang. Semoga secangkir kopi tetap menyatukan..

Seruput…

Denny Siregar

Editor: Didik Hariyanto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *