PILIHARAKYAT.ID, Probolinggo-Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Probolinggo, Ning Hj. Umi Haniah atau Ning Hani, meminta Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (LKP3A) menjadi garda terdepan dalam menjawab berbagai persoalan sosial yang menyangkut perempuan dan anak.
Hal itu disampaikan Ning Hani saat menghadiri pengukuhan kepengurusan LKP3A dan pembukaan Latihan Dasar Hukum dan Advokasi PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo di Aula PCNU Kabupaten Probolinggo, Ahad, 26 April 2026.
Menurut dia, menjadi bagian dari LKP3A bukan sekadar memegang jabatan formal, melainkan amanah besar yang harus dijalankan dengan tanggung jawab dan dedikasi tinggi. “Ini adalah amanah yang sangat luar biasa. Harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi dalam upaya melindungi, memberdayakan, serta memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak di Kabupaten Probolinggo,” kata Ning Hani.
Ia menilai tantangan yang dihadapi perempuan dan anak saat ini masih cukup berat. Sejumlah isu yang menjadi perhatian di antaranya stunting, pernikahan dini, serta kekerasan seksual, domestik, maupun digital.
Karena itu, Ning Hani berharap LKP3A hadir tidak hanya sebagai lembaga formal. Menurut dia, lembaga tersebut harus menjadi tempat perempuan mengadu tanpa merasa dihakimi, wadah kader untuk memahami hukum dan kesehatan, serta mitra strategis pemerintah daerah dalam menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Dalam kesempatan itu, Ning Hani juga menegaskan perempuan tidak boleh dipandang sebagai kelompok rentan semata. Melalui literasi hukum dan kemampuan advokasi, kata dia, perempuan justru dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
“Dengan memahami hukum, kita tidak lagi bisa diintimidasi. Dengan kemampuan advokasi, kita bisa menjadi penyambung lidah bagi mereka yang suaranya dibungkam,” ujarnya.
Kepada pengurus yang baru dikukuhkan, ia berpesan agar tidak berhenti pada seremoni pelantikan. Ning Hani meminta LKP3A aktif turun ke masyarakat hingga tingkat ranting di desa-desa untuk menjemput persoalan yang dihadapi perempuan dan anak.
Ia juga mengajak peserta latihan dasar memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menggali ilmu sebanyak mungkin dari para narasumber. “Jadilah perempuan NU yang cerdas, berdaya, dan berani,” tuturnya.
Acara tersebut mengusung tema Peran Perempuan NU Memperjuangkan Keadilan Sosial melalui Literasi Hukum dan Advokasi dan dihadiri jajaran pengurus Fatayat NU serta tamu undangan lainnya.




