Di Bawah Kungkungan Marxisme

Marx (foto: ist)
Marx (foto: ist)

(Tan Hamzah)

PILIHANRAKYAT.ID, Marxisme bukan hafalan apalagi dogma yang tidak boleh ditafsirkan ulang, Marxisme ialah proses dialektika dan kritik berfikir yang Rasional, Logis dan Kontekstual. Marxisme merupakan suatu ideologi yang merujuk pada pemikir dan filsuf besar, Karl Heinrich Marx. Karl Marx merupakan filsuf yang pemikirannya terdiri dari akumulasi kritik terhadap filsuf sebelum dan sezamannya, serta membuat pemikiran sendiri sebagai alternatif yaitu Materialisme Historis dan Materialisme Dialektis (MDH).

Pada abad XIX, Jean Paul Sartre, Filsuf Perancis memuji kerangka berpikir Marx yang tidak ada tandingannya. Dalam buku Critque de la Raison Dialectique (Kritik atas Rasio Dialektis) ia mengungkapkan “Marxisme merupakan satu-satunya filsafat untuk mengerti zaman kita ini”. Sebuah afirmasi yang cukup mencengangkan karena sebelumnya ia sangat gencar mengkritik Marxisme. Setelah gagasan Plato-Aristoteles, Descartes-Locke, Kant-Hegel, Karl Marx menjadi sebuah fenomena besar yang melahirkan pro-kontra filsuf setelahnya, dalam pro-kontra tersebut justru yang akan menguatkan konsep Marxisme yang belum sempurna, seperti ucapan Marx sendiri bahwa ia menolak segala dogma, termasuk dogma atas pemikirannya.

Marxisme hanya sebuah cara untuk mengungkap kebenaran, tetapi bukan kebenaran itu sendiri, karena kebenaran itu luas dan bisa dinalar oleh pemikiran apa saja, oleh karena itu tidak salah jika kita mencari kebenaran melalui marxis.

Baca juga  Doa Cinta Seorang Kekasih Sebelum Tidur

Marxis ini jika dibedah, terdiri dari tiga anatomi, pertama Sosialisme Perancis (Liberte, Egalite, Fraternite), kedua Filsafat Jerman (Hegelian), dan yang ketiga Humanisme Inggris (Revolusi Industri). Tiga latarbelakang tempat serta perjalanan sejarah intelektual ini yang mengantar Marx pada sebuah buku Das Kapital.  

Pelan tapi pasti, pengaruh marxisme menyebar ke penjuru dunia, bagai virus yang tidak ada obatnya. Termasuk mempengaruhi pemikiran Founding Father bangsa Indonesia. Mohammad Hatta, Soekarno, Ibrahim Tan Malaka, Semaoen, Sjahrir, D.N Aidit, dan Musso.

Mohammad Hatta berhasil mempelajarinya secara sistematis, namun dia sendiri tidak menyebut dirinya sebagai Marxis. Dalam bukunya “Ajaran Marx atau Kepintaran Sang Murid Membeo?” ia sengit berdialog dan membantah seorang marxis tulen yang mengkritik karyanya “Enige grondtrekken van de economische wereldbouw” yang bernama Ny. Vodegel-Soemarmah. Hatta dituduh telah melencengkan nilai-nilai marxis dalam hal ekonomi dan upah, menurut Ny. Vodegel-Soemarmah konsep ekonomi Hatta merupakan konsep Ekonomi Bourjuis yang jauh dari pesan marx. Hatta merespon dengan memaparkan “Dogma” yang sangat ditentang oleh Marx, bagi Hatta konsep ekonomi Marx belum sempurna dan para kritikus itulah yang akan sedikit demi sedikit memperbaiki pandangan Marx tentang ekonomi dunia.

Baca juga  Ideologi Sastra dan Moralitas Bahasa

Soekarno dan Tan Malaka terinspirasi dari Marxisme aliran Mao. Yang menggabungkan nilai marxisme dengan kebudayaan timur. Konsep ini juga yang menginspirasi Max Weber. Budaya dan ideologi lokal harus tetap dilestarikan demi menunjang perjuangan rakyat yang dicita-citakan sebagai pembebasan sosial. Soekarno menggabungnya menjadi Marhaen, dimana kata itu merupakan gabungan dari tiga aliran ideologi besar (Marxisme-Nasionalisme-Agama). Tan malaka terinspirasi untuk mengupas sejarah Indonesia dan membedah peradaban sains timur melalui MADILOG (Materialisme-Dialektika-Logika). Pemikiran Marxisme semakin kaya di tangan mereka karena menggabungkan pemikiran Marx yang kompleks dengan kearifan lokal.

Semaoen, Musso yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) dicurigai telah terpengaruh oleh Marxis aliran Trotsky yang dibawa oleh Henk Snevliet. Pergerakan yang tidak mengenal Diplomasi ini memunculkan pemberontakan Madiun 1928.

Betapa kuat pengaruh marxisme di dunia, karena pemikirannya fleksibel dan mudah masuk ke ideologi yang lain, termasuk agama seperti yang terjadi di Afghanistan dan Balkan ketika masa Uni Soviet. Saya teringat salah seorang pengkaji pemikiran Marxis, Sorbonne. Ia berkata “apabila seseorang tidak menjadi Marxis pada usia dua puluh lima tahun mungkin karena ia tidak mempunyai perasaan, sebaliknya apabila ia tidak menjadi marxis pada usia empat puluh tahun mungkin karena ia tidak mempunyai otak”.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *