Hujan November (Sajak-sajak Tan Hamzah)

Hujan November (foto: ist)
Hujan November (foto: ist)

Hujan November I

Dingin musim mengirim pesan

Kata singkat “Tik”

Diterjemahkan oleh rintik, pada tanah keronta, bebatuan, dan bunga

Lalu kita menafsiri sendiri, bersama resah dan gelisah lama, yang kita pendam dalam kemarau

———————————————melalui kamera ponsel

Menuju insta story

Sosial media (whatsapp, facebook, instagram, twitter) basah

Banjir di mata, dada, kata, tanah

Puisi telah meninggal, tenggelam dalam keramaian hujan

Hujan November II

Adakah yang lebih jahil, dari hujan bulan November, saat

Baca juga  Sajak-sajak Kamil Dayasawa*

Kotamu basah,kotaku kering

Katamu jauh, kataku dekat

230 KM : 50 KM

Bunga oktober telat datang tahun ini

Hutan bunuh diri pagi tadi, membakar dirinya, yang telanjang

Sumur surut

Mata air dalam kemasan

Tetapi, sungguh, musim di kotamu telah berubah

Jamur payung tumbuh di jalan

Dan bunga sepatu, merah hatimu

Tetapi kotamu tetap kotamu

Sedang kotaku, sekarat

Terlalu bandel untuk basah lagi

Hujan November III

Demi subuh yang gerimis

Baca juga  20 Nomine Buku Puisi HPI 2018

Aku mengeja namamu dalam kesepian yang dipecahkan suara rintik

Dan burung liar yang berbalas sahut

Demi embun, sisa hujan dan dingin tak beraturan

Aku menulis dirimu dari bait ke bait

Tanpa ingin kau tahu lagi tentang itu

Sebab musim kotamu telah berubah

Bungamu mekar di dada

Kekeringan telah terampuni jarak dan waktu

Bukan aku

Demi malam yang telah lengser

Kau akan tetap puitis di memori ponsel

Dan sajak yang akan ku jual di akhir pekan

Tetapi aku hanya ingin menulis dirimu

Tanpa yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *