Hujan November I
Dingin musim mengirim pesan
Kata singkat “Tik”
Diterjemahkan oleh rintik, pada tanah keronta, bebatuan, dan bunga
Lalu kita menafsiri sendiri, bersama resah dan gelisah lama, yang kita pendam dalam kemarau
———————————————melalui kamera ponsel
Menuju insta story
Sosial media (whatsapp, facebook, instagram, twitter) basah
Banjir di mata, dada, kata, tanah
Puisi telah meninggal, tenggelam dalam keramaian hujan
Hujan November II
Adakah yang lebih jahil, dari hujan bulan November, saat
Kotamu basah,kotaku kering
Katamu jauh, kataku dekat
230 KM : 50 KM
Bunga oktober telat datang tahun ini
Hutan bunuh diri pagi tadi, membakar dirinya, yang telanjang
Sumur surut
Mata air dalam kemasan
Tetapi, sungguh, musim di kotamu telah berubah
Jamur payung tumbuh di jalan
Dan bunga sepatu, merah hatimu
Tetapi kotamu tetap kotamu
Sedang kotaku, sekarat
Terlalu bandel untuk basah lagi
Hujan November III
Demi subuh yang gerimis
Aku mengeja namamu dalam kesepian yang dipecahkan suara rintik
Dan burung liar yang berbalas sahut
Demi embun, sisa hujan dan dingin tak beraturan
Aku menulis dirimu dari bait ke bait
Tanpa ingin kau tahu lagi tentang itu
Sebab musim kotamu telah berubah
Bungamu mekar di dada
Kekeringan telah terampuni jarak dan waktu
Bukan aku
Demi malam yang telah lengser
Kau akan tetap puitis di memori ponsel
Dan sajak yang akan ku jual di akhir pekan
Tetapi aku hanya ingin menulis dirimu
Tanpa yang lain.




