PILIHANRAKYAT. ID Jakarta-Kendati pilihan presiden (pilpres) 2024 masih akan digelar tiga tahun mendatang, hitung-hitungan politik siapa yang akan maju jadi pasangan presiden dan wakil presiden sudah ramai diperbincangkan.
Terbaru mencuat wacana menduetkan antara Puan Maharani dan Anis Baswedan sebagai capres dan cawapres. Puan Maharani yang kini masih menjabat sebagai ketua DPR RI dan Anis Baswedan masih menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS), Nyarwi Ahmad menilai bahwa wacana menduetkan Puan dan Anis Baswedan adalah suatu hal yang menarik, karena keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing (plus minus), yang bisa saling melengkapi. Kelebihan Puan, memiliki basis dukungan kuat organisasi parpol. Puan dianggap sebagai putri mahkota di PDIP dan salah satu Ketua DPP PDIP yang memiliki peran strategis di partai ini.
Puan memiliki basis dukungan elektoral yang masih rendah, sebagai kandidat calon presiden. Sebaliknya, Anies, tidak memiliki basis dukungan parpol, namun memiliki tingkat dukungan elektoral yang cukup tinggi di kalangan pemilih,” ujarnya, Rabu (2/6/2021)
Berbeda dengan Dirut IPS, Pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Robi Nurhadi, problem yang muncul saat akan menduetkan Puan-Anies atau sebaliknya adalah apakah Anies-nya mau. Menurutnya, Anies lebih dekat dengan partai Islam seperti PKS dan PAN. “PPP masih bisa masuk”.
Saya masih ragu di situ, Karena narasi yang dikembangkan dua kelompok itu adalah narasi versus, narasi head to head, bukan narasi sinergi. Apakah kemudian menuju pilpres (narasi versus) melandai atau bakal melonjak?” Pungkasnya
Lebih lanjut, Robi mengatakan kalau dari kelompok partai Islam dan berbasis Islam minus PKB, mengusung Anies satu hal yang menjadi aspirasi yang gembira, karena dapat profil leader yang punya harapan, punya masa depan. “Tetapi tidak pada Puan,” katanya.
(RED/PR.ID)




