Susunan Kabinet Prabowo dianggap tidak mencermikan bonus demografi, begini kata Adi Prayitno

Prabowo Subianto selaku Presiden terpilih 2024-2029, memanggil kandidat calon Menteri dan Wakil Menteri Pemerintahan mendatang sebanyak 108 orang, hal itu dilakukan selama dua hari terakhir, Senin dan Selasa kemarin di kediamannya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, menuai sorotan dari berbagai pihak.

Meski telah dipilih untuk menjalankan roda pemerintahan lima tahun ke depan, banyak pengamat menyayangkan bahwa komposisi menteri yang diangkat tidak mencerminkan bonus demografi yang dimiliki oleh Indonesia saat ini.

Indonesia saat ini berada dalam periode bonus demografi, di mana mayoritas penduduknya didominasi oleh usia produktif, yaitu generasi muda yang berusia antara 15 hingga 64 tahun. Para pakar demografi dan ekonomi telah lama menekankan bahwa periode ini adalah kesempatan emas untuk mempercepat pembangunan negara. Namun, kabinet Prabowo dinilai belum sepenuhnya mencerminkan keberagaman usia dan latar belakang yang sesuai dengan kondisi demografis tersebut.

Baca juga  Presiden Turun Kelapangan Cek Ibu Kota Yang Baru

Beberapa kritikus mengungkapkan bahwa keterwakilan generasi muda dalam kabinet sangat minim. “Saya agak sedikit terenyuh dan bahkan harus menahan nafas, ketika beberapa waktu yang lalu kita sering mendengar bonus demografi, anak- anak muda harus diberikan kesempatan di lini kehidupan termasuk politik, dari 108 orang yang datang dikediaman prabowo kok rasa-rasa nya 99% itu itu aja.,” ujar Adi Prayitno seorang pengamat politik dalam diskusi ILC.

Meskipun terdapat beberapa tokoh muda yang masuk dalam jajaran pemerintahan, proporsinya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kelompok usia produktif yang ada di masyarakat. Para pengamat juga menyoroti bahwa sebagian besar posisi kunci masih dipegang oleh figur senior yang telah lama berada di panggung politik.

Baca juga  Prabowo Tegur Kepala BGN: Jangan Ada Lagi Keracunan

Bonus demografi Indonesia diprediksi akan berlangsung hingga sekitar tahun 2030. Para ahli mengingatkan bahwa periode ini tidak akan bertahan selamanya, sehingga penting bagi pemerintah untuk segera mengoptimalkan potensi ini. Mereka berharap, meskipun kabinet awal ini belum sepenuhnya mencerminkan bonus demografi, ada perbaikan dan penyesuaian dalam perjalanan pemerintahan ke depan.

Sebagai negara dengan populasi besar dan usia produktif yang dominan, kabinet yang lebih inklusif dan beragam dinilai akan membantu Indonesia untuk lebih cepat mencapai target pembangunan dan kesejahteraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *