Essai  

Budaya “Perempuan Suci” di Sindu Pakistan

shahzadi Ibadat

Oleh: Cipto 23

          Saat membaca novel Perempuan Suci, karya  Qaisra Shahraz, seorang penulis  darah Pakistan, saya menikmati kata dan kalimat dalam novel ini. Cerita yang selalu dalam konflik, kemesraan, budaya perempuan sebagai boneka memaksa saya menuntaskan karya Qaisra Shahraz yang cukup tebal.

            Zarri Bano, merupakan tokoh utama dalam novel Perempuan Suci. Dia adalah aktivis perempuan, pejuang feminis. Selain cantik jelita, dia lahir dari keluarga tuan tanah yang sangat dihormati oleh segenap masyarakat. Sebagai aktivis perempuan Sering kali, dia memberontak pada adat budayanya seperti tidak memakai duppata yang menutupi kepala  dan dadanya.  

            Sebagai perempuan yang jelita dan memiliki pendidikan yang mapan tidak heran banyak para bujang yang ingin mempersunting dirinya tapi semua ditolak. Sikander yang ditemui dipertunjukan moyet di Mela, seorang bujang yang tampan menawan  dari Karachi mempu menggetarkan jiwanya yang “angkuh” terhadap para bujang. Kisah asmara antara Zarri Bano dan Sikander berlanjut saat Zarri berkunjung kerumah Sikander, mereka berjalan di kebun sikander. Pada saat itu Sikander memberanikan diri untuk melamarnya, Zarri yang sudah terpikat pada pertemuan awal hanya mampu tersenyum, mereka pun sepakat akan menikah.

Baca juga  Pengantar Kepergian

Kisah asmara, Zarri dan Sikander  harus pupus berawal meninggalnya Jakfar sebagai anak laki satu-satunya di keluarga Habib Siraj Din. Habib yang merupakan ayah dari Zarri memiliki tradisi shahzadi ibadat (perempuan suci) yang sudah berjalan ratusan tahun yang lalu. Shahzadi ibadat berlaku jika keluarga tersebut tidak memilki keturunan laki-laki sebagai ahli warisnya. Perempuan yang menjadi Perempuan Suci tidak diperbolehkan punya hubungan  dengan lelaki apalagi menikah, dia hanya boleh menikah dengan al-Qur’an dan menutupi seluruh badannya dengan burqo hitam hanya bagian matanya yang tidak tertutup.

Baca juga  Pentingnya Kebudayaan Dalam Membangunan Ekonomi Indonesia

Tradisi ini sebenarnya dilakukan untuk mencegah kekayaan keluarga jatuh pada orang  lain atau menantu. Agama islam hanya sebagai kedok untuk menutupinya karena Allah dan Rasulnya mengharuskan menikah.

Zarri tidak menerima akan keputusan ayahnya yang ingin menjadikan dirinya Perempuan Suci “Aku tidak ingin menjadi perempuan sucimu, shahzadi Ibadatmu, akuingin menjadi perempuan normal, hidup normal! Aku ingin menikah. Aku tidak cocok untuk peranan itu”. “yang ingin kau katakana hanyalah bahwa kau membutuhkan seorang laki-lakidi dalam hidupmu,” tunkas Habib. Konotasi seksual yang dilontarkan sang ayah telah mengguncangnya  hingga ke kalbu. Zarri tidak mau diremehkan oleh ayahnya sehingga di memutuskan menikah dengan kitab suci  al-Qur’an.

 Penderitaan menjadi Perempuan Suci diperparah dengan peristiwa Sikander yang menikahi adek kandungnya, Rubi. Bertahun-tahun, segala kesedihan Zarri tertutupi oleh burqo hitam yang menutupi seluruh badannya.

Cerita dalam novel ini menceritakan kultur Pakistan yang melanggengkan diskriminasi pada perempuan. Seorang perempuan bebas pun yang memiliki pendidikan tinggi dan pejuang feminis harus menjadi shahzadi ibadat, Perempuan Suci.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *