Memaknai Mudik Lebaran

Pilihanrakyat.id РJakarta, Di setiap menjelang lebaran, kita menyaksikan gerakan jutaan manusia dalam prosesi ritual paling kolosal, paling unik, sekaligus misterius yang tidak ada duanya di dunia. Mudik Lebaran Prosesi ritual ini mengandung banyak makna melampaui doktrin teologisnya. Jutaan manusia bergerak serentak di hari-hari terakhir Ramadhan seolah sedang melakukan tapak tilas atas jejak atau asal- muasal kehadirannya di dunia. Melalui mudik, seolah sejarah hendak didaur ulang, disegarkan kembali, dan dicerahkan guna memberi roh dan napas baru perjalanan sejarah satu tahun ke depan. Ritus ritus itu terus diulang kembali tiap akhir Ramadhan dengan harapan manusia memperoleh nilai fitrahnya kembali.

Ritual mudik lebaran itu juga seolah hendak menyatakan, migrasi ke lain tempat yang selama ini dilakukan akibat tuntutan kerja atau sosial-ekonomi sebagai sebuah tindakan yang membuat kehilangan jati-diri dan melupakan asal-muasal dirinya. Jutaan manusia kemudian mengalir dari pusat kota ke kampung halaman yang berjarak ribuan kilometer. Mereka seolah hendak menemukan kembali pusat kehidupan yang selama ini ditinggalkan.

Tradisi mudik dijadikan sebagai wahana kangenan. Pemudik yang rata-rata berasal dari desa, diajak bercengkerama dengan romantisme alam pedesaan, yang di dalam konsep antropologi dikenal dengan sebutan close coorporate community. Pemudik merindukan nilai-nilai kebersamaan alamiah yang jarang lagi mereka temui di kota, karena ketatnya persaingan memburu “status”. Di sinilah ada benang merah yang dapat ditarik, mengapa keinginan pemudik untuk mengenang “sejarah” dirinya barang sejenak selalu dilakukan beriringan dengan perayaan Idul Fitri. Mudik tidak sekedar bermakna menjalin kembali silaturahmi dengan masa lalu yang tertinggal itu, namun tradisi mudik di Hari Raya Idul Fitri juga mengandung sejumlah nilai kemanusiaan yang kaya makna. Seperti sungkem pada orang tua.

Fenomena mudik yang telah berlangsung puluhan tahun ini juga menunjukkan bahwa hubungan emosional masyarakat dengan tempat kelahiran masih sangat kuat, tidak pernah terkikis oleh perjalanan waktu. Di negara maju, seperti Amerika Serikat juga terdapat tradisi semacam mudik seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia, dan dikenal dengan istilah home-coming.

Namun home-coming ini tidak didasari oleh hubungan emosional yang kuat masyarakat di sana, namun semata oleh faktor kangen. Bentuknya tidak harus ke tanah kelahiran, tetapi dapat berupa acara reuni sekolah. Hubungan emosional mereka tidak sekuat hubungan masyarakat Indonesia dalam tradisi mudik, karena masyarakat Luar Negeri mempunyai mobilitas yang sangat tinggi dan cepat. Mudik sebenarnya mencerminkan kerinduan manusia yang luar biasa pada asal muasalnya, pada tanah kelahirannya. Dan, karena asal muasal kita yang hakiki adalah Tuhan, maka mudik ini sebenarnya hanya lah sebuah bentuk kecil dari kerinduan kita yang luar biasa kepada Tuhan.

Baca juga  Colombo Plan Sebagai Tempat Pemberdayaan Ekonomi Perempuan

Dalam dimensi lain, mudik memiliki permaknaan berbeda, menurut Hermawan Sulistyo (2004), fenomena mudik juga menjadi indikator ketergantungan desa pada kota. Status sosial menengah ke bawah di desa tidak mungkin dapat menaiki tangga sosial langsung ke lapisan elite lokal Mengadu nasib ke kota merupakan salah satu jalan yang ditempuh agar mobilitas sosial dapat melalui “jalan tol” untuk naik tangga sosial.

Selain makna mudik dimaksud, hal yang menyentuh lainnya seperti frekuensi arus penumpang dan lalu lintas meningkat tajam, membuat para pengusaha maupun pemerintah “kewalahan”. Melalui jalan darat, laut maupun udara penuh sesak dengan calon penumpang. Agar aman mendapatkan tiket jauh-jauh hari harus di-booking. Belum lagi yang berkendaraan pribadi (roda empat maupun roda dua). Khusus di Pulau Jawa, mulai ngetren mudik bareng motor (roda dua). Dan pada umumnya pemudik tidak hampa tangan, sehingga arus perputaran uang juga meningkat di wilayah yang dituju.

Boleh jadi di kota seseorang menempati strata sosial dari kelas bawah atau strata tengah. Ketika pulang ke desa, posisinya langsung masuk strata atas. Kita sering melihat banyak kaum urban yang sukses, misalnya menjadi juragan bakso, juragan mie pangsit, juragan martabak, pengelola warteg yang sukses, atau sukses mengelola warung makan kaki lima “Lamongan” yang banyak menjamur di berbagai kota. Merayakan kemenangan di hari Lebaran bukan hanya memiliki pemaknaaan religius, namun juga dalam segi material.

Baca juga  Budaya Batik Indonesia Dipromosikan Ke AS

Namun yang lebih penting dari semua pemaknaan itu, bahwa Lebaran mengajarkan bagaimana kita harus berbagi. Ini tercermin dari ajaran tentang zakat fitrah yang hukumnya wajib bagi semua orang yang mampu di Hari Raya. Kewajiban membayar zakat fitrah itu dikenakan kepada semua Muslim, baik laki-laki atau perempuan, yang udah dewasa atau kanak-kanak (yang harus dibayar atau dipenuhi orangtuanya) dengan memberi sebagian makanan yang dimiliki di Hari Raya yang besarnya setara dengan 2,8 kilogram beras. Makanan ini lalu diberikan khusus kepada fakir miskin pada 1 Syawal sebelum si muzakki atau wajib zakat pergi ke tempat-tempat shalat Hari Raya Idul Fitri atau Hari Raya Fitrah.

Sebab itu, maka Hari Raya Idul Fitri atau Hari Fitrah mengandung sejumlah nilai kemanusiaan yang kaya makna, dan jika bisa dikelola secara lebih fungsional akan mampu menyelesaikan banyak problem sosial di negeri religius ini. Nilai-nilai kemanusiaan dalam tradisi Lebaran inilah sebenarnya yang perlu dikembangkan seluruh komponen masyarakat (tanpa memandang ia Muslim atau bukan) untuk tujuan lebih produktif bagi pemecahan berbagai persoalan sosial, ekonomi, politik, dan moral.

Momentum Lebaran tahun ini, hendaknya dapat dimanfaatkan untuk saling berbagi dan menjalin cinta kasih dengan saudara-saudara di kampung yang mungkin kurang beruntung pada Lebaran tahun ini. Para pemudik yang datang dari kota-kota besar dapat mengajak para saudara yang kurang beruntung itu bersuka ria menyambut hari kemenangan.

Kepada saudara-saudara saya kaum Muslimin dan Muslimat, saya ingin mengucapkan,¬†Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1444 H. Taqabbalallaahu Minnaa Wa Minkum. Barakallahu fiikum. Mohon Ma’af Lahir & Bathin

(RED/PR.ID)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *