Oleh: Noeris
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
Memungut detik demi detik
Merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari
Kita lupa untuk apa.
(Sapardi Djoko Damono, 1978)
Selalu ada yang pergi, gugur daun dan rontok bunga-bunga di halaman rumah menandai kebaharuan yang lain. Perjalanan yang singkat dengan lembar-lembar sejarah yang tak tuntas membuat matahari pagi di bulan Agustus terlihat suram. Lagu-lagu 90-an mengalun lirih membentuk parade kesedihan yang tak lagi istimewa.
Tapi kita tahu, seorang penulis sejarah yang baik adalah ia bisa mengubah bait-bait kesedihan menjadi gelak tawa. Ia menyusun sebuah epitaf, sebuah pragraf panjang, sebuah struktur yang bahan-bahannya terbuat dari realitas yang dapat dan pernah disentuh, sebuah kemurnian dari perjalanan dan kisah yang melekat utuh di ingatan.
Ya, ingatan. Meski ingatan kadang-kadang tidak stabil dan acap kali berubah sesuai muatan realitas yang sedang terjadi, atau karena keadaan kepala yang lagi pening sebab musim. Tapi ketika ia mempu dituliskan, ia akan berdri sendiri dan tak akan pernah berubah, ia murni menjadi peristiwa yang telah dilalui, fakta bagi yang fana.
Hal itu, akan menjadi sejarah panjang tentang yang pernah “ada”, kebenaran yang bisa disaksikan bahkan oleh anak cucu dan ribuan tahun setelahnya. Meski ingatan melayang serupa kertas, serupa bayang-bayang, tapi ia akan abadi bersama tulisan sederhana ini.
Suatu hari, kita pernah menari di atas gundukan nasib yang sama, air mata bagai sungai yang mengalir tulus mempertemukan dua manusia. Sebuah peristiwa yang tanpa sengaja membuat dunia cemburu bahkan tuhan sendiri serasa salah menerjemahkan pertemuan itu. Manusia itu sama-sama dilahirkan dengan kuasa di luar nalar, mereka pemberani, berani menantang macam tragedi.
Cerita-cerita menyedihkan dilantunkan, tapi sungging senyum terus mengembang, tulus. Kesedihan terbuat dari apa? Pertanyaan itu terurai bagai benang merah yang tak ditemukan ujung pangkalnya, ujung jawabnya. Nikmati saja. Kesedihan bagian kausalitas tuhan untuk menunjukkan kebahagiaan.
Sampai senja memukul wajah kita, sampai kita lupa cara tersenyum dan menangis yang sama, sampai pada akhirnya sebuah jalan panjang dan menikung memisahkan adaku dan adamu.
Hari itu menjadi sebuah monumen, dan kita memberi nama sesuatu yang tak bisa ditulis dan diucap. Hanya kita. sebab manusia membutuhkan itu; tanda, isyarat dan rasa untuk memandang masalalu sebagai bentuk yang selalu ada sebagai sebuah ingatan. Seperti origami kata Geonawan Muhammad, dibalik kesederhanaan ingatan yang di tuliskan, ada keadaan dan kerja yang tak terhitung ragamnya.
Waktu terasa begitu cepat melahirkan yang liyan, meniadakan tanda tempat berpulang. Sebagai manusia kita hanya bisa menatap dan meng’iya’kan segala, apa yang terjadi itu bagian dari kehendak dan kuasa waktu. Seperti kata Heidegger waktu adalah segala kemungkinan yang dimiliki oleh dasein, sedang desain selalu menuju satu titik yang pasti, semacam perpisahan.
Tapi dalam proses menuju perpisahan itu desain selalu bisa menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk kita saling memiliki rasa tanggung jawab yang besar akan pertemuan dan hidup, kita sama-sama bisa melihat entitas yang lain yang terlempar ke dunia ini, kita bisa menghargai apa-apa yang telah ditetapkan sebagai takdir, dan pada akhirnya kita akan sama-sama merasakan sesuatu yang paling berharga dari pertemuan yaitu ingatan.
Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?
Tanyamu. Kita abadi.
(Sapardi Djoko Damono, 1978)




