PILIHANRAKYAT.ID, Jakarta-Wakil Duta Besar RI untuk Jepang, Maria Renata Hutagalung membuka forum Indonesia–Japan Meeting and Partnership (IJMP) 2026 di Nagoya pada Jumat, 1 Mei 2026. Forum tersebut menjadi ajang penguatan kerja sama bilateral Indonesia dan Jepang, terutama di bidang ekonomi serta pengembangan sumber daya manusia.
Mengusung tema “Co-creating the Future of Economic Synergy and Human Resource Development”, forum menyoroti peluang ekspor produk alas kaki dan produk turunan kelapa sawit Indonesia ke pasar Jepang.
Dalam sambutannya, Maria Renata mengatakan industri alas kaki Indonesia telah menjadi bagian penting dalam rantai pasok global dan memiliki peluang besar di Jepang yang dikenal sangat memperhatikan kualitas, desain, serta keberlanjutan produk.
“Produk alas kaki Indonesia telah menjadi bagian penting dari rantai pasok global dan memiliki potensi besar di Jepang yang sangat menghargai kualitas, desain, dan keberlanjutan,” kata Maria Renata.
Ia juga menilai produk turunan kelapa sawit Indonesia memiliki posisi strategis, tidak hanya sebagai komoditas perdagangan, tetapi juga mendukung agenda energi berkelanjutan dunia.
“Produk turunan kelapa sawit Indonesia memiliki potensi strategis, tidak hanya sebagai komoditas perdagangan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi global menuju energi berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut dia, sektor kelapa sawit Indonesia dinilai sejalan dengan agenda transisi energi dan pengembangan biomassa yang tengah dikembangkan Jepang. Namun, ia menekankan pentingnya penerapan standar keberlanjutan, transparansi, dan sertifikasi agar produk Indonesia mampu memenuhi standar pasar Jepang.
Forum itu dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Konsul Kehormatan Indonesia di Nagoya Hideo Sugimoto, Direktur Divisi Investasi dan Pertukaran Nagoya Kobayashi Shunsuke, Ketua Solidaridad Japan Sato Hiroshi, serta Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GPPI) Delima Hasri Azahari.
Panitia penyelenggara, Windu Wijaya, mengatakan kegiatan tersebut terselenggara melalui kolaborasi TIG diaspora Indonesia bersama Kinarya.
“Acara ini diselenggarakan berkat kerja sama TIG diaspora Indonesia bersama Kinarya,” kata Windu.
Selain membahas perdagangan, forum juga menyoroti peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia di Jepang. Berdasarkan data Kedutaan Besar RI di Tokyo, jumlah pekerja Indonesia melalui skema Specified Skilled Worker (SSW) mencapai 86.955 orang. Adapun sebanyak 124.967 warga Indonesia mengikuti program Technical Intern Training Program.
Sementara itu, hingga Desember 2025 jumlah warga negara Indonesia yang tinggal di Jepang tercatat sebanyak 266.069 orang. Prefektur Aichi menjadi wilayah dengan komunitas Indonesia terbesar, yakni mencapai 21.153 orang.
Dalam kunjungannya ke Nagoya, Maria Renata juga menghadiri Indonesia Fair 2026 yang menampilkan produk kreatif Indonesia, kuliner Nusantara, pertunjukan budaya, hingga layanan konsuler dan keimigrasian bagi warga Indonesia di Jepang.




