Oleh: Tan Hamze
Jostein Gaarder membuka maha karyanya “Dunia Sophie” dengan sebuah pertanyaan fundamental “Siapa Aku?”. Bukan hal baru dalam dunia filsafat, seorang pemikir dan filsuf mempertanyakan apa itu hidup, siapa itu manusia, darimana dan bagaimana seorang aku bisa mengetahui dirinya.
Hal ini yang memunculkan aliran baru dalam filsafat, yang semula pembahasannya berputar pada Alam (Geosentris) dan Tuhan (Teosentris) beralih topik ke Manusia (Antroposentris). Karena manusia ditempatkan sebagai objek penelitian, maka perdebatan selanjutnya ialah apakah yang lebih penting, Eksistensi atau Esensi. Filsuf yang mendukung eksistensialis diantaranya Karl jaspers, Soren Aabye Kiekeegaard, Jean Paul Sartre, Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger dan lain sebagainya sedangkan kubu esensialis didukung oleh Johan F.Herbart, William T.Harris, GWF Hegel, dan George Santayana. Memahami “Aku” tidak hanya butuh waktu sebentar, menurut Pramoedya dalam bukunya “Percikan Revolusi Subuh” ia berkata “dari pengalaman-pengalaman manusia, orang belajar mengetahui dan mengenali diri sendiri. dan tak adalah suatu kesenangan yang begitu sempurna daripada mengenal diri sendiri, sayangnya untuk mengenal diri sendiri, umur kita terlalu pendek”.
Mengerti tentang siapa diri kita sebenarnya dan mengetahui tugas kita sebagai manusia dan makhluk itu sangat penting. Itu karena berdampak pada diri kita sendiri dan lingkungan. Karena itu analisis tentang diri kita sangat diperlukan. Analisis diri secara umum adalah ingin mengungkapkan latarbelakang ideologi, sosial, budaya, keagamaan dan kondisi psikologi tentang diri sendiri. secara etimologi, analisa merupakan penyelidikan terhdapa suatu peristiwa untuk mengetahui hal yang sebenarnya. Sedangkan diri diartikan dari segi biologis dan psikologis, diartikan juga sebagai keutuhan dan manifes dari “Aku” sehingga diri didefinisikan sebagai individu manusia.
Pada zaman pencerahan Eropa (Renaissance) ada satu istilah yang menjadi fondasi pemikiran agar mereka keluar dari dogma agama (gereja) yang mengikat dan membelenggu kebebasan berfikir mereka. “Sapare Aude” yang berarti beranilah berfikir sendiri. slogan ini mampu membangkitkan ilmuwan Eropa untuk mencari tahu lebih luas tentang hakikat manusia dan bagaimana agar mereka terlihat hidup dan ada, mereka menggali melalui ilmu pengetahuan yang empiris dan logis, dan terus mencari makna “Ada” sampai salah satu filsuf besar, Rene Descartes berpendapat “Cogito Ergo Sum” yang bermakna aku berfikir maka aku ada.
Proses pencarian jati diri ini juga didukung oleh pendapat filsuf Jerman, Hegel dengan dialektikanya yang mencetuskan konsep roh manusia. Menurut Hegel roh yang dimaksud ialah kepribadian atau tingkah laku manusia, yang dipengaruhi oleh kisah dan sejarah nenek moyangnya, kepribadian ini terus melekat dan lambat laun menjadi sebuah identitas dalam manusia itu sendiri.
Sigmund Freud menjadi pemula dalam psikologi modern, yang kemudian hari banyak orang terinspirasi baik memuji maupun mengkritik teorinya. Dalam Psikoanalisa Freud, struktur psikis manusia meliputi tiga sistem utama, yaitu Id (das es), Ego (das ich), dan Super Ego (ueberich). Id adalah bagian paling orisinil dalam kepribadian manusia dan merupakan gudang penyimpan kebutuhan-kebutuhannya yang mendasar, seperti makan, minum, istirahat atau rangsangan agresifitas dan seksualitas.Ia adalah alam bawah sadar (unconsciousness) yang merupakan wadah berisi dorongan dorongan primitif (implus), atau naluri-naluri bawaan yang selalu ingin dipuaskan dengan segera, pengalaman-pengalaman traumatis masa kanak-kanak merupakan sumber bagi energi psikis Ego dan Super Ego.
Id berbentuk semacam energi awal, asli, spontan, implusif, irasional, mencari kepentingan sendiri, berorientasi pada kenikmatan, dan menghindari hal-hal yang tidak menyenangkan. Kalau dorongan ini terpenuhi pemuasannya, maka akan tercapai keadaan senang, bila belum tercapai maka dengan segala daya akan dicari pemuasannya.
Selanjutnya, komponen pengatur dorongan-dorongan implus ini adalah sistem Ego yang merupakan kesadaran terhadap realitas kehidupan. Tugasnya ialah menjembatani Id dalam merealisasikan dorongan-dorongannya di dunia nyata, yakni berusaha memenuhi keinginan Id berdasarkan realitas yang ada (reality principle).
Adapun Super Ego menuntut idealitas prilaku dengan taat kepada sistem moral lingkungannya, berfungsi sebagai pengontrol dan penyensor Id agar tidak begitu saja merealisasikan pemuasannya. Ia ibarat kata hati yang terbentuk melalui proses internalisasi dengan lingkungan sosial dan nilai-nilai moral.
Dapat dikatakan bahwa antara Id dan Super Ego selalu terjadi pertentangan karena keduanya saling mendesak. Dorongan Id ingin muncul ke realita, tetapi dorongan Super Ego menekan agar tidak muncul ke realita bila hal itu tidak disetujui oleh nilai dan aturan sosial yang berlaku. Bila Ego gagal menjadi penengah dari kedua kekuatan ini, maka terjadi ketidakseimbangan dan konflik batin yang dapat mengarah pada gangguan neurotik.
Islam juga menganjurkan untuk mencari tahu tentang siapa diri kita, tak heran banyak ilmuwan muslim yang berkonsentrasi pada arah penciptaan manusia (Kalam dan tasawwuf). Ilmuwan muslim itu diantaranya, Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyyah, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, Muhammad Iqbal dan lain sebagainya. Proses pencarian makna diri ini berangkat dari suatu hadis nabi “Man arafa nafsahu, arafa rabbahu” barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal tuhannya.
Tentunya, tujuan adanya manusia bukan hanya untuk beribadah saja secara terus menerus, ia memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin di dunia, mengelola dunia ini untuk mencapai tujuan akhirat. Karena itu manusia diberi bekal akal untuk bisa mengetahui segala sesuatu di dunia ini, termasuk untuk menggali makna hidup dan mencari kebenaran dan tuhan. Tuhan memberi akal manusia untuk berfikir tentang ciptaanya, dalam alqur’an kita sering menemukan ayat seperti “afala tatafakkaruun, afala ta’qiluun, afala ya’qiluun”. Hal ini mendorong manusia untuk membebaskan diri memilih dan menentukan nasib sendiri “Sesungguhnya kami telah menunjukinya jalan yang lurus, (namun) ada yang bersyukur dan ada pula yang ingkar” (Q.S. 76:3).
Al-Ghazali dalam Musthafa (1970, J.2:100) menjelaskan bahwa manusia itu terdiri dari dua unsur yang berbeda, yaitu tubuh (Al-Jism) dan Jiwa (Al-Nafs). Al-Jism yaitu unsur yang bersifat gelap, kasar dan termasuk di bawah alam bumi ini yang tidak berbeda dengan benda-benda lainnya, Al-Nafs yaitu substansi yang berdiri sendiri, yang mempunyai daya mengetahui, bergerak dengan kemauannya, dan penyempurna bagi bagian lainnya.
Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan roh manusia mempunyai 3 unsur yang membedakan dengan makhluk lainnya: Hati (Al-Qalb) adalah qalb jasmani, yaitu daging khusus yang berbentuk seperti jantung pisang yang terletak di sebelah dalam dada sebelah kiri. Kedua, qalb dalam pengertian jiwa yang bersidat latif, rahaniah, rabbaniah, dan mempunyai hubungan dengan qalb jasmani. Qalb dalam pengertian kedua inilah yang meruapakan hakikat manusia, karena sifat dan keadaannya yang bisa merasa, kemauan, berfikir, mengenal, beramal, ditunjukkan perintah dan larangan serta pahala dan siksa Allah. Melihat secara sufistik, Al-Ghazali membagi beberapa tingkatan kejiwaan.
Pertama, jiwa yang tenang (an-nafs al-mutmainnah) adalah jiwa yang berada pada perkembangan jiwa tatkala mendapatkan ketenteraman dan kedamaian karena Tuhan. Al-Ghazali juga mengutip Al-Quran untuk memperkuat pendapatnya “wahai jiwa yang muthma’innah kembalilah ke dalam Tuhanmu, dalam keadaan ridla dan diridlai sepenuhnya” Karakter jiwa ini akan menemukan ketenangan dan ketentraman jika terhindar dari godaan-godaan yang mengganggunya.
Kedua, jiwa yang penuh penyesalan (an-nafs al-lawwah) adalah mencela. Secara lughawi, istilah al-lawwamah mengandung arti amat mencela dirinya sendiri. Jiwa ini termasuk jiwa yang menyadari pikiran-pikiran, keinginan dan cela diri sendiri. Pada taraf jiwa ini merupakan awal taraf rohani karena pada taraf ini merupakan sebuah proses kembali pada Tuhan dan proses penghilangan pelanggaran. Jadi, taraf ini ada proses dalam pencarian Tuhan, di mana ada sesuatu yang menghendaki batinnya antara kecocokan yang mereka peroleh.
Ketiga, jiwa yang memerintah (an-nafs al-‘amarah) pada taraf ini termasuk jiwa yang belum dimurnikan atau dibersihkan dari sumber segala jenis perbuatan untuk memenuhi perbuatan-perbuatan dengan semua yang merupakan kemurkaan (ghadlab) dan keinginan (syahwah) untuk menguasai jiwa. Juga disebutkan dalam ayat Al-Quran surat Yusuf ayat 12:53: “Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Akal (Al-‘Aql) arti pertama ilmu tentang hakikat segala sesuatu. Dalam pengertian ini akal dapat diibaratkan sebagai sifat ilmu yang bertempat di jiwa (Al-Qalb). Pengertian kedua ialah akal rohani yang memperoleh ilmu pengetahuan itu sendiri. akal itu tidak lain adalah jiwa yang bersifat latif, rabbani dan rohani yang merupakan hakekat diri dan zat manusia, akal ini yang berfungsi menganalisis segala penciptaan.
Untuk mengetahui tentang diri sendiri, manusia juga butuh bersosialisasi dengan manusia yang lain, dalam hidup manusia memerlukan tujuan-tujuan nonmaterial, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Semua sistem sosial pasti memiliki sasaran tertentu yang menjadi kecenderungan individu dalam sistem masyarakatnya, sehingga dapat dikatakan bahwa tanpa sasaran tersebut kehidupan sosialnya menjadi tidak mungkin. Kehidupan sosial berarti kebersamaan seluruh komponennya dalam mencapai tujuan, baik tujuan material maupun spritiual. Menurut Bertrand Russel dasar dan etika sosial adalah kepentingan individu dan anggota masyarakat, mereka menganggap bahwa etika sosial adalah bentuk kesepakatan antar individu dalam sebuah komunitas yang dengan kesepakatan itu mereka dapat melindungi kepentingannya.
Individu dalam tanggungjawab sosial mempunyai posisi untuk dipimpin dan memimpin. Setiap individu mempunyai keunikan masing-masing dalam dirinya, karena itu bukan hanya ia harus memahami diri mereka sendiri tapi juga memahami orang lain. Dengan karakter yang beragam, ia harus beradaptasi dengan kondisi sosial yang heterogen dan majemuk. Dalam Islam kita ditugaskan untuk saling mengenal dan mengerti, dan membentuk sebuah sistem sosial yang disebut musyarakah. Islam sangat menganjurkan untuk memahami ciptaan tuhan dengan bekal akal yang dimilikinya, dan juga membaur dengan kehidupan sosial agar cita-cita dan tujuan tercapai. Menurut Ghozali tujuan utama manusia yaitu kebahagiaan, dan menurut plato sebuah kebahagiaan hanya bisa dicapai melalui cinta.




